Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Selasa, 09 Agustus 2011

Masa-masa Indah SMP

Apalah arti sebuah sahabat? Menurutku dia adalah pelita harapan.

Dari sebuah sms tak diketahui (istilah kerennya tuh From Unknown Messages):
‘Sahabat itu seperti bintang dilangit

Walau jauh dia tetap bercahaya

Meski kadang menghilang dia tetap ada

Tak mungkin dimiliki tapi tak bisa dilupakan

Dan selalu ada dalam hati’

*Backsong NIDJI-Arti Sahabat

Bermula dari SMP kelas delapan tepatnya di SMP 128 kelas 86 diriku mengenal yang namanya sahabat.

Mereka adalah Agita, Dimas, Nabila dan Agus kalau kemana-mana selalu saja berlima entah itu pulang sekolah, jalan-jalan ataupun ke wc uppss yang ini mah masing-masing jenis kelamin aje ye wkwkwkwk …
Kami selalu tertawa bersama, gembira bersama, menyontek bersama (kalau yang ini mah satu kelas) hingga nyasar bersama pun kami lalui.

Ok beberapa cerita yang membuatku merasa sangat-sangat terkesan sekali dengan mereka

Cerita pertama dari yang paling pertama dan yang sangat pertama sebenarnya saat cerita berlangsung lebih sering saat diriku kelas sembilan hehehe

Pada suatu hari kuturut ayah ke…..eh pada suatu hari si Dimas sedang ‘gila’ kami pun berencana untuk mengajaknya ke TMII sekaligus jalan-jalan mumpung pulang cepet gitu dan Nabila mendapat tiket naik gantole eh apa itu namanya? nah *ting gondola, tapi saat diajak Dimas ogah-ogahan maklum lah lagi ‘gila’, maka dari itu karena keburu siang kami tinggalkan saja dia.

Sesampainya di rumahku (rumahku deket ama SMP)kami berunding tentang ongkos yang akan di keluarkan untuk membeli tiket masuk TMII. Nah setelah berunding aku segera membawa perlengkapan (makanan, minuman, teropong, dan camilan) kalau dihitung-hitung tasku beratnya bisa mencapai 8 kg membawa perlengkapan itu ckckc.

Akhirnya kami berangkat dengan taksi hmm angkot maksudnya hehehe

Sesampainya di gardu kami pun langsung menyeberang ke negeri seberang (seberang jalan elah bawel nih)
Nah ini dia yang ditunggu-tunggu disaat kami menunggu angkot merah jurusan TMII aku sekilas melihat Dimas ingin menyeberang dan ternyata memang benar itu si Dimas dengan tampang soknya.

“Wooyy Dim mau kemana kau?” Tanyaku

“Mau jalan-jalan aja, gak boleh?”
“Boleh kok heheh mau kemana emangnya?”

“Gak tau.”

“Lah..ckckc”
Aku pun terheran-heran dengan jawaban Dimas, yang membuatku bingung lagi adalah saat kami berempat menaiki angkot dia mengikuti saja, aku mulai bertanya-tanya ada apa gerangan dia ikut dengan kami. Ternyata dia pengen ikut kita wkwkwkwk muna banget dah tadi diajak ogah-ogahan.

Saat sampai Tamini Square angkot yang kami naiki berhenti untuk menurunkan penumpang eh tiba-tiba Dimas turun pula aku pun mencegahnya dengan menarik ‘color’nya wkwkw.

“Eh Dim mau kemana??!!”

“Loh kan kita mau ke Tamini Square?”
“Eh Dim kita tuh gak ke Tamini Square tapi ke Taman Mini!” Timpal Agita.

“Hah?? Ohh ya udah deh.”

Akhirnya suasana tenang kembali aku pun langsung tertawa sampai sakit perut tak tertolong hingga ‘hampir’ masuk RSJ
Sesampainya di Taman Mini yang sesungguhnya hehhehe kami turun dari angkot dan berjalan menuju pintu ternyata juauauh juga pintu masuknya dari lampu merah hadeehh selagi kami jalan kami sempatkan berfoto bersama di ikon mirip monas atau apalah itu yang ada di dekat pintu masuk.

Nah ini maksudnya yang monas-monas tadi






Setelah kami membeli tiket Nabila langsung mengajak kami menuju gondola karena tujuan kami ingin naik gondola secara GRATIS (maunya gratisan) dan terjadilah tragedi tiket ‘gatal’ (gagal total) ternyata oh ternyata itu tiket udah gak berlaku a.k.a kadaluarsa.

Yang ada pada ketawa cekikikan ngeliat itu tiket dan Nabila pun memasang wajah memelas dan malu jadi satu sambil tertawa pula haduh haduh benar-benar memalukan tuh anak ~_~

Dengan sangat-sangat sedih itu tiket dibuang (kalau gak salah loh ya udah rada pikun nih)

Kemudian setelah tragedy itu, kami berencana menuju museum IPTEK delalah jauh banget ternyata mesti muter sana-sini dan akhirnya hampir tersesat. Selagi tersesat kami masih sempat-sempatnya berfoto ria.



Lihat lah kesombongan Dimas saat difoto dan ini foto beberapa saat setelah tragedi 'Gatal'







Dan sungguh suatu mukjizat Dimas tersenyum kembali penyakit ‘gila’ yang dideritanya sembuh total gara-gara kami berlima foto-foto di depan sebuah lampu pengen gaya-gayaan kayak Narnia. Lusy Pevensie memasuki sebuah lemari pakaian tiba-tiba ia menembus ke Negeri Narnia yang dilanda musim dingin parah lalu ia pun melihat sebuah lampu yang bercahaya itu….


Pandanglah dengan seksama Dimas tersenyum! itulah awal dari kesembuhannya







Nah akhirnya kami pun beristirahat sejenak 15 menit kemudian kami memulai pencarian terhadap museum IPTEK yang tak kami ketahui keberadaan dan baru disadari kalau ada mobil yang bisa mengantar kami ke museum IPTEK nah setelah menyetop tuh mobil (si Dimas di jorokin ke depan mobil *epic fail fiction) kami segera naik dan dan dan dan (kebanyakan ‘dan’ nih)

Ok ok selagi menikmati pemandangan indah TMII tanpa disadari itu mobil kembali ke arah pintu masuk yang tadi kami lalui, kami lupa bilang mau ke museum IPTEK wkwkwkw

Yahh kemudian dengan sangat terpaksa tuh sopir nganterin kita ke museum IPTEK horeee sampe deh di museum IPTEK.

Sesampainya di pintu gerbang *jdeerrr tiket masuknya mahal bener 25000 dollar eh rupiah kalau gak salah yaakk kami pun berunding lagi di depan pintu masuk kayak gembel apalagi Dimas noh setelah sembuh dari ‘gila’ mulai melakukan hal-hal aneh yang biasa dia lakukan sebelum jadi ‘gila’

Yakk setelah menghitung-hitung dengan rumus ekonomi sederhana apakah kami mencapai BEP atau tidak segera lah kami membeli tiket eh baru aja masuk yang lain udah pada lari aja ninggalin aku sama Agus yang baru beli tiket.

Karuan aja aku kebingungan mencari mereka yahh daripada bingung mending ngeliat alat-alat yang diperagain sampai aku terlalu bodoh melakukannya.

Begini ceritanya saat melihat sebuah panel surya aku penasaran seperti apa bentuknya kulihat dekat-dekat dengan seksama, tanganku pun memegang panel surya itu eh ternyata lampu yang terhubung dengan panel surya itu menyala aku pun heran dan mencobanya lagi eh menyala lagi tuh lampu saat tanganku menempel di panel surya.

Dibelakang Agus cekikikan
“Napa nih anak ketawa-ketawa?” pikirku

Rahasianya adalah dia memencet sebuah saklar di samping panel surya disaat tanganku memegang panel surya itu.

“Gembel kau, Gus kukira tanganku mengandung listrik!!”

“Huahahaha habisnya lucu sih.”

“Sialan.”

Muter-muter gak jelas, bakar menyan, dan viva la vida ketemulah Dimas, Agita dan Nabila hahahaha….

Kami berlima mulai berkelana menjelajahi isi museum itu bahkan ada peristiwa konyol lagi yang atu ini benar-benar konyol buatku.

Lift khusus untuk para pegawai dipakai sama Agus buat turun!

“Woyy Gus mau kemana itu kan…”

Belum selesai aku mencegahnya dia sudah menutup pintu liftnya.

“Wueeh itu anak mau kemana??” Tanya Dimas

“Wakakaka itu khusus para pegawai dia pegawai kali hahaha.” Timpalku sambil tertawa.

Yahh begitu lah cerita kami berlima di museum IPTEK sebenarnya sih masih puanjang kali luebar kali tuinggi tapi biarlah ini hanya menjadi kenangan memori yang indah untukku dan kawan-kawanku.


Bukti kesembuhan Dimas menampakkan wajahnya yang pongo










Pesan saya kepada Dimas Erlangga :
JANGAN 'GILA' LAGI YA DIM! REPOT KALAU KAU 'GILA' LAGI. MESTI DIBAWA KE TMII DULU BARU SEMBUH

Kami kira itu saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar