Keesokan harinya di Desa keenam Suku tersebut saat Dukun Tio sedang berdoa. “Hahihohehohohohoho.....mambu gero-gero...kaiakaia..smbaiaa.....” Dukun Tio tiba-tiba berhenti berdoa dan terdiam seperti batu sehingga membuat yang lainnya heran. “Apa yang terjadi dengan Dukun Tio??” Tanya Vanto. “Kita bangunkan aja yuk...” Ajak Dika. “Jangan...” Larang Moza. “Memang kenapa??” Tanya Dika. “Sepertinya dia sedang melihat masa depan desa ini, kalau diganggu dia tidak akan dapat melihatnya lagi..” Jawab Moza. “Hmm baiklah kalau begitu kita tunggu aja..”
5 jam berlalu akhirnya Dukun Tio terbangun dari mimipinya. “Hei lihat Dukun Tio sudah bangun....!!!” Teriak Dimas menganggetkan yang lainnya. “Hah..hey cepat kita hampiri dia..” Ajak Moza. “Apa yang kau lihat di masa depan, Yo??” Tanya Moza. “Huft mengerikan sekali!1 bulan lagi kerajaan baby huy akan menyerang kita dan kita semua akan binasa..” “Hah yang benar kau??” “Iya..!!” “Wah kita harus mempersiapkan pasukan mulai dari sekarang nih.” “Tapi mereka akan mengirim seorang kurir..” “Kapan??” “Dua hari sebelum serangan mereka.” “Hmm..dia membawa pesan apa??” “Hmm katanya...kita harus pergi dari sini kalau tidak kita akan di serang oleh pasukan Baby hui yang telah bersiap-siap di benteng Baby hui.” Jelas Dukun Tio
“Ok kalau begitu Vanto kau kumpulkan pasukan kavalery, Dika kau kumpulkan pasukan infanteri, Dimas kumpulkan pasukan pemanah, sedangkan aku akan mengumpulkan pasukan zeni, untuk membuat catapult, onager,dan trebuchet..” Perintah Sang Maestro Moza
“Baik..”Sahut mereka bertiga.
Selama 3 minggu mereka mengumpulkan pasukan perangnya untuk mempertahankan desa mereka.
“Huft sudah 3 minggu berarti tinggal seminggu lagi menuju penentuan, Vanto, Dika, Dimas kalian sudah mengumpulkan berapa orang???” Tanya Moza. “Pasukan kavalery hingga saat ini sudah terkumpul 500 orang.” “Hmm kalau pasukan infanteri sekitar 3000 orang, perlengkapan mereka sudah beres mulai dari perisai, pedang, baju pelindung, tower,dan tangga.” “Pasukan pemanah sudah terkumpul 1000 orang.” “Hmm sedangkan pasukan zeni kita sudah terkumpul 500 orang. Kita telah membuat 118 buah ‘Trebuchet’ dan 2 buah ‘Battering Ram;. Hmm kalau dijumlahkan pasukan kita hanya 5000 orang..” Kata Moza. “Menurut ramalanku pasukan Baby hui ada 10000 orang.” Sahut Dukun Tio. “Wah satu banding dua apakah kita bisa menang??” Tanya Dika. “Kau meragukan pasukan kita. Kita pasti akan menang jika mempunyai strategi yang bagus.” Jawab Moza. “Hmm baik...sebaiknya aku melatih mereka dulu...” Kata Dika.
“Hei kalian berdua cepat latih pasukan kalian.” Perintah Moza. “Baik...”
“Sepertinya kita memang akan kalah..” Kata Moza. “Katanya kita akan menang, bagaimana sih kau ini??” Tanya Dukun Tio. “Hanya untuk membuat mereka tenang saja.” Jawab Moza. “Hah...kalau begitu aku berdoa dulu biar dapat wangsit.” “Ya udah sono, aku juga mau melatih pasukanku..” Mereka berlima pun sibuk karena melatih para pasukannya dan berdoa..
Seminggu kemudian di kota Baby hui.
“Huh kemana sih si kurir itu?! disaat lagi dibutuhkan malah menghilang.” Kata Raja Adzie dengan kesal. “Loh bukannya yang mulia menyuruh dia cuti satu bulan.” Sahut sang penasehat raja. “Hmm...oh iya..ya..” “Ahh bagaimana sih raja ini.” “Huh..”
“Yang mulia si kurir telah kembali...!!!” Teriak seorang penjaga. “Hah..akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga..” “Ada apa yang mulia memanggil saya..” “Kamu kirim pesan kepada suku-suku aneh itu.” “Pesan apa yang mulia.” “Ingat baik-baik begini pesannya: Kalian suku barbar harus tinggalkan tempat ini kalau tidak kami akan membunuh kalian semua.” “Hmm baik yang mulia akan saya sampaikan pesan itu sekarang juga.” “Hei cepat suruh Ksatria Arsyan dan Kevin untuk mengawal kurir ini.” “Baik Paduka.”
“Yang mulia bukankah lebih baik kita diplomatis saja??” “Hah saya sudah tidak sabar. Nasehatmu bagus, penasehat, tapi mereka itu suku barbar tidak akan mengerti yang namanya diplomatis.” Jelas Raja Adzie.
Dan berangkatlah sang kurir didampingi oleh dua ksatria baby hui.
Sesampainya di Desa keenam suku tersebut.
“Hah apa-apaan ini mereka sepertinya sudah bersiap-siap berperang dengan kita.” Kata sang kurir melihat Trebuchet dan Tower yang dibuat oleh suku barbar.
“Hei ada apa, sehingga kalian berani datang kesini???” Tanya Moza. “Saya kurir ingin menyampaikan pesan bahwa....” “Kalian ingin mengusir kami dari tanah ini dan kalau kami tidak mau kalian akan membunuh kami kan!” Potong Dukun Tio. “Hah kok tau, kalau saya ingin menyampaikan pesan itu??” “Dukun dilawan...”
“Ini tanah kami kalian tidak berhak untuk mengambilnya!!!!!” Teriak Moza. “Hooooooo!!!!!!!!!!!!” Teriak yang lainnya.
“Baik kami akan pergi dari sini...” Kata Sang kurir gemetaran
“Sekaranglah saatnya kita serang mereka...!!!!” Teriak Moza. “Pasukan infanteri berbaris...!!!” Teriak Dika. Prok..prok..prok..prok...jrekk.. “Pemanah di belakang pasukan infanteri dan kuda dibelakang pasukan pemanah...!!!” Teriak Moza. Prokk..prok..prokk...kdebuk...kdebuk...kdebuk...jreeekkk....
“Maju Jalan!!!!!!” Perintah Moza.
ngik..ngik..ngik...prrrr..
Prokk..prokkk...prokkk...kdebuk..kdebukk..
Malam yang sunyi terpecah akan derap langkah pasukan barbar yang pasti. Berbagai peralatan yang dibawa oleh mereka membuat mereka berjalan dengan lambat namun pasti menuju benteng Baby Hui
Sejak itu dimulailah penyerang terhadap benteng kota baby hui oleh pasukan suku barbar..
Continued