Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Kamis, 26 Januari 2012

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 14



Byyuuurrr!!!! Dengan segera aku berenang keluar dari dalam air dan melihat cahaya api yang menyilaukan mata dari gedung tersebut di pinggirnya terlihat kawan-kawanku melihat tak berdaya, aku langsung segera berenang ke tepi dimana kawan-kawanku berada.
“Leonov!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Elena.
Elena mencoba memasuki gedung yang terbakar itu namun dicegah oleh pacarnya , Andrey
“Elena, Leonov sudah tiada ! dia mengorbankan diri nya untuk kita, kamu jangan ke sana!!”
Secara diam-diam aku memanjat ketepi dan segera berdiri lalu menaruh tanganku di pinggang
“Apa yang kalian ributkan, hah?” Kataku
“Leonov kau kah itu?” Tanya Elena tidak percaya
“Tentu saja, siapa lagi kalau bukan si muka datar ini hehehehe...”
“Hahahahaa...kau hebat sekali, Leonov! Bagaimana bisa kau selamat dari ledakan itu?” Tanya Andrey
“Cerita nya panjang hehehe..hey bukankah kau ingin melamar Elena ?” Kataku berbisik
“Oh iya hmm....Elena..”
Andrey bersujud dihadapan Elena disaksikan oleh diriku, Ekaterina, Rilinskiy, Kharlinskiy, Rutlinskiy, dan Zelanya.
“Iya Andrey..”
“Hmm....”
“Ahh lama kau Andrey..” Kataku tidak sabaran.
“Sabar kenapa!” Katanya.
“Hehehehe maaf..”
“Hmm begini Elena..hmm..mau kah kau hmm.....meni...”
Blaaarr!!!!
“Ahh elah ngerusak suasana romantis aja nih!” Sahut Ekaterina.
“Ssssstttt bisakah kau diam..” Timpal Rilinskiy
“Jadi begini Elena hmmm.....”
“Jadi begini Elena, Andrey ingin kau menjadi pasangan hidupnya, mau kah kau menerima nya..” Kataku kesal karena tidak tahan menunggunya.
“Leonov kenap.....ahhh sialll...”
Andrey kesal sekali sepertinya hahahaha
“Ahhh Andrey seharus nya kau melakukannya dari dulu ya tentu saja aku mau menjadi pasangan hidupmu.” Jawab Elena.
“Jadi hm...mau kah kau memakai cincin ini..”
Andrey mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku nya lalu membukanya..
Sebuah cincin dengan berlian kecil diatasnya terlihat begitu bersinar memantulkan cahaya api yang membakar gedung tersebut di malam itu..
Kemudian Andrey mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Elena, Andrey berdiri dan mencium pipi Elena, mereka berdua berpelukan seakan-akan dunia milik mereka berdua.
“Hmm....Andrey Elena bisakah kita pergi dari sini ?” Tanyaku mengganggu suasana mereka.
“Eh iya ayo kita pergi dari sini sebelum polisi datang.” Kata Andrey agak terkejut.
“Kita naik ‘getek’ ku saja ya.” Kata Zelanya
“Apa boleh buat ayo !!” Sahut Rilinskiy
Dua minggu kemudian
Teng....tengg..tenngg....
Andrey dan Elena melangsungkan pernikahan di sebuah Katedral di Italia dan aku menjadi pendamping pria sedangkan Ekaterina menjadi pendamping wanita nya
Acara pernikahan mereka berlangsung sangat khidmat hingga sampai di acara pelemparan bunga.
Aku dan yang lainnya bersiap-siap untuk menangkap bunga yang akan dilemparkan oleh Elena.
“Satu...dua...tiga...!!!” Teriak Elena.
Greebbb secara bersama-sama aku dan Ekaterina mendapat bunga itu..
“Ahh ini buat mu saja hehehehe..” Kataku malu
“Terima kasih Leonov..”

Dua tahun berlalu
Elena melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki, ia memberikan nama anak itu Leonov sesuai namaku dan aku menjadi bapak baptis nya namun saat itu aku tidak tahu bahwa jantungku mulai melemah setelah melewati berbagai aksi yang menegangkan, seru dan lucu bersama VENOM
Enam tahun tahun kemudian
Aku masih sempat bermain bersama dengan Leonov anak dari Andrey dan Elena namun lima bulan kemudian aku terbaring lemas tak berdaya di rumah sakit sendirian tanpa seorang pun menemaniku dan dokter berkata bahwa hidupku tidak akan lama lagi tapi aku berjanji sebelum bertemu dengan teman-temanku aku tidak akan pergi dari dunia ini!
Tak disangka-sangka suatu hari mereka semua datang.
Elena-Andrey dan anaknya Leonov lalu Ekaterina, Zelanya, Rilinskiy, Rutlinskiy dan Kharlinskiy.
“Wah Om Leonov kenapa?” Tanya Leonov kecil
“Om Leonov sakit sayangku..” Jawab Elena
“Om Leonov cepat sembuh yaa biar kita bisa main lagi..” Kata Leonov si kecil manis itu.
Melihat kata-katanya yang polos aku hanya bisa tersenyum.
Aku merasa kan ketenangan yang berarti saat mereka ada disini hingga aku menggenggam tangan Elena dan mengucapkan selamat tinggal.................
THE END

Jumat, 13 Januari 2012

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 13


“Dimana Elena dan yang lainnya?!!!” Bentak Andrey.“A..a...ku ti..dak.. ta...hu...”“Halah ngomong opo koe? Orang ngerti aku?” Sahut Leonov (Lah kok jadi jawa)
“Ora weruh..” Jawab penjaga itu.
(Walah ternyata penjaga nya bisa bahasa jawa)
“Halah ora enek gunane koe, mati ae wis..”
Ckreekk..
“Ojo..ojo..!!! Elena ndek bawah, niku pintune..”
“ohh maturnuwun mas..yo wis lah ra dadi aku dor, kasian..”
“Leonov, daritadi kau bicara apa?” Tanya Andrey heran.
“Bahasa jawa hehehe aku masih ada keturunan jawa dari kakek buyut hehehe..”
“Terserah kau sajalah hahaha ayo sekarang kita kebawah tanah..” Kata Andrey sembari mengangkat sebuah pintu tersembunyi yang ditunjuk oleh penjaga tadi.
Kami mulai menuruni anak tangga satu persatu dengan membawa sebuah senter di masing-masing tangan kami dan di ujung lorong terlihat seseorang di balik jeruji besi...
“Elena kau kah itu?!” Teriak Andrey.
“Andrey!!! Andreeyy!! Aku disini!!! Cepat buka pintu besinya!!!” Sahut Elena.
“Hey, Elena dimana Ekaterina??” Tanyaku sambil mencari-cari dengan lampu senter ke sekeliling ruangan.
“Ia bersama Vasily, sudah lah pokoknya cepat buka pintu ini dan kita selamatkan Ekaterina.”
“Andrey, cepat buka pintunya!!” Perintahku
“Oh iya Leonov hehehehe kalian menjauh lah dari pintu aku akan menembaknya dengan pistol!!”
Duuuaaarrr...!!!dzziinnggg...wuunnggg...!!!
“Auuwww....awuu..!! Kau menembak ku!!!! Aarrggghhh!!!!” Teriak ku meloncat kesana-kemari sambil mengangkat sebelah kakiku yang terkena serpihan peluru.
Pintu yang menahan Elena dan kawan-kawan pun terbuka.
“Kau tidak apa-apa kan, Leonov?” Tanya Kharlinskiy.
“Tidak apa-apa sudahlah cepat pergi selamatkan Ekaterina..” Teriak ku menahan rasa sakit.
Mereka meninggalkan ku yang kesakitan untuk menyelamatkan Ekaterina.
Sambil menahan rasa sakit, ku cabut sendiri serpihan peluru yang mengenai kakiku.
“Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!! Sial sial sial!!!!!”
Sembari mengutuk diri sendiri ku perbani lukaku dengan kain seadanya dan segera naik ke atas lagi..
Sesampai nya di atas..

“Jangan bergerak atau temanmu akan mati!!!! “ Teriak Vasily
Terlihat kawan-kawanku sudah di todong pistol oleh kawanan pancake termasuk Zelanya dan Ekaterina.
“Bodoh!!! Justru kau yang akan mati!!!” Balasku.
“Bodoh justru kau yang akan mati...huahahahhaa lihat kawan dia berkata itu cuma ingin menggertak saja hahahhaa.”
“huahahahahah...”
Vasily meremehkan perkataanku dan disambut tawa oleh pancakers lainnya yah begitulah sebutanku untuk orang-orang Organisasi Pancake, ‘Pancakers’ terlihat cukup aneh bukan ckckckckck....
“Ya sudah lah bunuh saja mereka, tidak ada hubungannya dengan diriku”
“Hey Leonov kenapa kau berani sekali berbicara seperti itu??!!” Tanya Rilinskiy terkejut mendengar perkataanku.
“Hallooo....aku sudah capek membantu kalian tapi aku merasa kalian tidak menghargai ku..”
“Lebih baik kami mati daripada melihat kau berkata seperti itu!!” Sahut Elena.
“Ya sudah lah mati tinggal mati aku tak peduli lagi dengan kalian hahahaha...”
Pancakers dan Vasily mulai dihinggapi kebingungan karena kata-kata ku yang menyakitkan dan mereka mulai lengah langsung saja kuambil kedua pistol dari pinggangku dan mulai menembaki mereka
Duuuaaarr...duuaaarr....duuaarr....duuaarr...duaarr...
Satu persatu pancakers mulai rubuh terkena tembakanku yang sangat riskan karena membidik diantara kepala teman-temanku, meleset sedikit tamatlah riwayat teman-temanku.
Hingga saat aku ingin menembak kepala Vasily, Vasily membanting tubuh Ekaterina dan segera menubrukku..
Buuaaakkk....gabrruuukkk...!!! buukk..buukkk...!!!
“Hoooaaahh!!!!”
Wuuuiiikkk!!! Gubraakkk....!!! klontaangg...!!!
“Cepat kalian pergi dari sini biar aku saja yang mengurus Vasily!!!!”
Buukkk...!!!bbuukk!!..sraakkk!!gubrakk!!
Pertarungan tangan kosong berlangsung sengit antara diriku dengan Vasily..
Hingga saat aku sudah mengalahkannya dan mulai melangkah keluar dari gedung itu dia menggapai kakiku hingga membuatku terjatuh...
Buuukk..!!!
“Kau tidak bisa lari kemana-mana, Leonov..”
Aku memutar badanku yang terjatuh dan melihat Vasily memegang remote bom.
“Siaal..!!”
“Kita akan mati bersama-sama, Leonov hahahaahha..”
Ckreekk....dduuuaaarrr.....!!!!!!!!!!
Aku langsung menendang tangan Vasily dan berhasil melepaskan genggamannya di kakiku lalu berlari secepat mungkin untuk menghindari ledakan..
Duuaarr....!!!..duaarr..!!!
“Hoaaahhh!!! Sedikit lagi sampai !!!” Teriakku histeris.
Saat mencapai pintu gerbang aku terus berlari..berlarii..!!
Bllaaarrrr........!!!!!!!!! seluruh gedung meledak dan aku terlontar ke dalam air..

To Be Continued

Jumat, 06 Januari 2012

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 12

“Ng...Zelanya dimana kapal nya?” Tanyaku mencari-cari kapal kecil yang akan kami naiki.
“Itu...” Jawabnya sambil menunjuk sebuah hmm..beberapa bambu yang diikat menjadi satu.
“Apa itu Zelanya?” Tanya Andrey mengernyitkan dahi nya.
“Ini namanya ‘Getek’.”
“Hah? ‘Getek’?” Kata kami berdua kompak.

“Iya ‘Getek’ impor langsung loh dari Indonesia, ahh sudahlah yang penting kita bisa gunakan ini untuk menyeberang..” Kata Zelanya, ia mulai meloncat dan jatuh tepat diatas getek tadi.
“Eeee Leonov silahkan kau duluan..”
“Ahh tidak Andrey kau duluan saja yang tua yang mengalah..”
“Tidak-tidak yang muda lah yang mengalah..”
“Kalian berdua cepat loncat!!! Bersama-sama biar adil.” Zelanya mulai kesal.

“Heheheh maafkan kami, huuppp..”
Kami berdua loncat bersama-sama menuju ‘Getek’ tersebut.

“Baik lah kalian berdua yang mendayung dan aku yang memberi arah..” Perintah Zelanya.
Kami mulai mendayung...mendayung..mendayungg..dan mendayung...hingga sampailah kami di seberang dimana terdapat gedung rongsokan milik organisasi Pancake..

Kami mulai merangkak naik dari getek mendekati gedung tersebut, belum sempat merangkak satu langkah...
“Awas ada penjaga..” Bisik Zelanya.

“Ada tiga baiklah kita tembak bersama-sama.” Kataku.

“Hey senjataku tidak ada peredamnya.” Bisik Andrey.
“Hah ya sudah biar aku saja yang menembak kedua nya..”
Ckleekk...aku mulai membidik para penjaga itu begitu juga dengan Zelanya sembari memasang peredam suara di snipernya sedangkan Andrey berjaga-jaga.
“Satu..dua..tiga..”

Dssyyyuuu...dssyyyyuuu...!!!! ckreeekk...ckreeekk..

Klaaanngg...klanngg....plungg..plung...

Dssyyuuu...!!! ckreekk..klangg..plungg..!

Kami menembak mereka bersama-sama dan tepat mengenai kepala mereka.
“Ayo Leonov kita ke dalam gedung itu.” Bisik Andrey.

Kami mulai mengendap-endap mendekati gedung tersebut dan tiba dengan selamat di depan pintu gerbang.

Kami mengintip dari balik lubang kecil yang berada di dinding gedung dan dengan jelas melihat para penjaga-penjaga yang masih bersiaga setiap saat.

“Kau mau sesuatu yang mengasyikan, Andrey?” Kataku tersenyum.

“Tentu saja, memang apa?”
“Sudahlah ikuti saja aku! Dan Zelanya kamu tetap disini..”

Ckleekkk..kreeett..krreett...kulepaskan peredam suara VSSK ku untuk menambah kegarangan kami hehehe
Aku langsung memasang peledak untuk meledak kan pintu gerbang gedung itu

Bllaaaarrrr....!!!!

Dengan gerakan ‘slow motion’ kami memasuki gedung itu

Uhukkk...uhukk...uhuukk...apa-apaan ini kita diserang!!! Uhukk..uhuk..!!!”
“Kalian akan mati!!” Teriak ku

Duuaaaarrrr...ckrreeekkk....dduuaaarr....ckrreeekkk....

Satu persatu para penjaga itu ambruk kami tembaki

Tembak mereka!!!!”

Duuaarr...duuaarr..duuaarr...duaarr..

Desingan peluru yang melewati kami tidak membuat kami takut justru membuat kami semakin bersemangat membunuh mereka untuk menyelamatkan Elena dan kawan-kawan..
Suara gemerincing peluru bersaut-sautan dimana-mana tak heran seisi gedung menjadi penuh dengan lubang peluru

Tiada henti kami menembaki mereka hingga tersisa seorang penjaga yang sudah tak berdaya lalu kami hampiri dia untuk mencari informasi

To Be Continued

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 11

“Zelanya mengapa kau tidak bilang bahwa kau disini?!” Tanyaku
“Aku ingin memberikan kejutan kepada kalian hahaha...nah ayo cepat siapkan senjata kalian..”

Cklaakk.....cklekk...klaapp...ckreekk..

“Nah sekarang lihat kearah sana dan perhatikan baik-baik..” Zelanya menuntun kami untuk melihat sebuah gedung di seberang pulau dimana Organisasi Pancake berkumpul.

“Hmm...aahhh...dapat! aku melihat Vasily! dia sedang berbicara dengan seseorang hmm sepertinya aku tahu siapa dia..”
“Siapa memangnya, Leonov?” Tanya Andrey.
“Ekaterina hehehehe..”
“Bahh kukira siapa!” Andrey sepertinya agak kesal hahaha

Aku melihat Vasily memarahi Ekaterina, mataku yang melihatnya mulai panas..

Cklaaakk...aku mengokang senjataku bersiap menembak kepala Vasily yang sudah berada dalam bidikanku
“Leonov! Jangan tergesa-gesa membunuh Vasily, aku tahu bahwa kau dendam dengannya tapi tenangkan dulu dirimu, kita juga belum tahu kan dimana Elena dan Linskiy disekap..”
“Huuffttt maafkan aku..”
Untung saja Zelanya menenangkan diriku kalau tidak, mungkin kepala Vasily sudah tidak ada di depan bidikanku lagi dan juga aku tidak berpikir bahwa Elena dan Linskiy bersaudara di sekap di suatu tempat yang tidak kami ketahui, jika aku tergesa-gesa bisa saja mereka semua dibunuh.

“Apa kau tidak bisa melacak Elena??”
“Maafkan aku Andrey, pemancarnya hanya berada di Ekaterina saja...” Zelanya agak menyesal

“Aha kenapa kita tidak pakai saja pelacakan thermal dengan sambungan satelit.” Hmm sebenarnya aku bingung mengapa aku bisa mengatakan hal itu padahal aku sendiri orangnya selalu ceroboh
“Ide bagus Leonov..” Zelanya mulai mengutak-atik laptopnya..

“Aku akan membantu Zelanya, kamu tetap perhatikan Vasily.” Kata Andrey.

Aku terus membidik Vasily sembari menunggu Andrey dan Zelanya mencari keberadaan Elena dan Linskiy bersaudara melalui jaringan satelit.

Beberapa saat kemudian.
Gotcha! Aku tahu keberadaan mereka sekarang hahahahamuahahah huahaha hihihih....” Tawa Zelanya melengking sekali hingga membuatku tidak bisa konsentrasi memperhatikan Vasily.

“Zelanya! Bisakah kau diam?!”
“Ohh maaf Leonov aku terlalu bersemangat hahahha..”
“Dan dimana mereka berada saat ini?” Tanyaku.
“Elena berada di hmm sepertinya mereka berada di gedung sebelah dimana kita melihat Vasily dan Ekaterina tadi..”

Jawaban Andrey membuatku bingung atau memang aku nya yang terlalu bodoh sehingga tidak dapat mencerna kata-katanya.
“Maksudmu apa, Andrey? Aku tidak mengerti?”

“Kau lihat gedung di sebelahnya?”
“Iyaakk..”
“Nah disanalah mereka..”
“Bilang daritadi dong..hahahha” *bukk bukk.. ku pukul pundak Andrey..

“Tapi mereka berada di bawah tanah, jadi ada sebuah jalan menuju bawah tanah di dalam gedung itu, kalau ingin menyelamatkan mereka kita harus memasuki gedung itu..” Jelas Zelanya.
“Baiklah kita pantau terus mereka hingga mereka lengah..” Kataku.

Selama dua hari kami berada di situ untuk memantau Organisasi Pancake dan tibalah saatnya dimana kami harus menyelamatkan mereka.

Di malam harinya tepat pukul sepuluh malam

“Baik lah ini saat yang tepat untuk menyelamatkan mereka..” Kata Zelanya.
“Kenapa kau begitu yakin?” Tanyaku.
“Karena insting seorang wanita tak pernah salah hohohoho...”
*gubraakk

“Baik lah kita siap-siap turun...!!! Di bawah sudah ada kapal kecil menunggu kita.” Zelanya menyiapkan persenjataannya, ia membawa sebuah sniper SVD Dragunov, sebuah MP-5 dengan peredam suara, sebuah pistol USP .45 dan magasine yang diikatkannya di seluruh tubuhnya.



SVD Dragunov


Lalu ia mulai mengikat tali temali untuk turun dari menara ini dengan teknik rapeling.

“Dengan teknik rapeling?!” Andrey agak terkejut sepertinya.
“Iya memang kenapa?”
“Kau bercanda, Zelanya! Ini tinggi sekali dan belum tentu tali itu cukup sampai ke bawah!” Sepertinya Andrey mulai ragu dengan apa yang ingin dilakukan oleh Zelanya.

“Ahhh banyak omong kau, tali ini sudah ku ukur dan cukup sampai ke bawah sana.”
Sreeettt...sreeettt...sreettt...
Dengan disinari oleh cahaya rembulan Zelanya turun dengan teknik rapeling dan aku turut mengikutinya, diatas masih kulihat Andrey yang ragu-ragu untuk turun.

“Hey Andrey cepat turun, kau mau menyelamatkan Elena tidak?” Kataku.
“Baik lah aku akan turun..”
Sreett...sreett..
Akhirnya Andrey pun turun juga dengan teknik rapeling..

Sesampainya kami di bawah..


To Be Continued