Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Jumat, 27 April 2012

Three Kingdom Part 10


“Hai..kalian bertiga, kemari.” Perintah Raja Vanto. “Kami bertiga yang mulia??” Tanya Dika. “Iya,udah tahu nanya.” Jawab Vanto. Lalu ketiga orang itu menghampiri Raja Vanto dan berlutut di hadapannya. “Ada apa yang mulia memanggil kami bertiga??” Tanya Arif. “Hey..hey..ngapain kalian berlutut, cepat berdiri.” “Baik yang mulia.”
Mereka bertiga pun lalu berdiri.
“Nah begitu lebih baik. Mahadika dari Suku Tingku, Dimas dari Suku Djigong dan Arif dari Suku Raneh kalian bertiga aku angkat sebagai Ksatria Vazor.” Kata Raja Vanto penuh wibawa. “Terima kasih yang mulia.” Sahut mereka kompak. “Sama-sama, mulai besok rencanakan pembangunan kota ini dan beri nama baru bagi pasukan kita.” Perintah Raja Vanto. “Baik yang mulia.” “Tapi bagaimana dengan para penduduk Baby Hui? Kita musnahkan atau di suruh mengungsi ke kota Baby Hai??” Tanya Dukun Tio. “Hmm...Kita tanya mereka saja apakah mereka ingin menetap disini atau mengungsi...” Jawab Raja Vanto. “Baiklah....” 
Lalu Dukun Tio mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sia puing tembok kota Ma’aldur dan membantingnya, menjilat ,memukul, memahat hingga akhirnya terbentuklah sebuah bongkahan batu berbentuk tak karuan... “Kok jadi begini bentuknya, memang tadinya batu ini mau dibuat apa??” Tanya Dika. “Sebenarnya batu ini mau dibuat untuk tempat pemilihan para penduduk Baby Hui apakah mau menetap atau mengungsi tapi protesnya jangan ke saya dong..” Jawab Dukun Tio. “Lalu ke siapa kalau gitu??” “Ya ke penulisnya lah..” “Lah...!@#$.” Balas Dika dengan wajah bingung. “Nih dukun emang tidak bisa diandalkan.” Kata Raja Vanto. “Hus... sembarang gini-gini udah menyelamatkan kita semua loh.” Sahut Dukun Tio. “Iya dah.” Kata Raja Vanto. “Huamm....udah ngantuk nih, kita lanjutkan besok saja ya??” Usul Arif. “Hmm..baiklah berhubung hari sudah malam lebih baik kita semua beristirahat, oh iya Ksatria Dika tolong buat shift jaga untuk tetap bersiaga setiap 2 jam sekali.” Perintah Raja Vanto. “Baik...” Sahut Dika. Mereka semua pun akhirnya beristirahat dengan tenang kecuali para prajurit yang mendapat giliran jaga...

Di malam hari itu roh Raja Adzie bergentayangan karena sebelum mati ia mengucapkan sebuah mantera voodo. “Huahahahaha...hahahaha..hahaha.....dendamku pasti akan terbalaskan....sekarang enaknya kemana ya...hmm... ”Kata Raja Adzie berpikir. 
Selama berpikir Raja Adzie The Almarhum (gelar baru nih buat Raja Adzie) gentayangan ke arah Barat Laut. Akhirnya setelah berpikir sambil gentayangan ia menemukan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Amhcar yang dipimpin oleh Raja Rico The Untouched (Raja Rico memiliki seorang panglima perang yang tak lain adalah anaknya sendiri, panglima itu bernama Jenderal Raras, bila sedang tidak memimpin pasukan ia lebih dikenal dengan Putri Raras.). “Hmm..kalau tidak salah ini adalah kerajaan yang melakukan perdagangan dengan kerajaanku....aha akan kurasuki rajanya terus kuperintahkan pasukannya untuk menghancurkan Kerajaan Vazor...Huahahahah..pintarnya diriku..” Kata Raja Adzie The Almarhum.
Kemudian ia mendatangi istana Kerajaan Amhcar dan mencari-cari kamar Raja Amchar.
15 menit kemudian.
 “Huh dimana sih kamarnya?! Daritadi tidak ketemu-ketemu....ini sudah kamar ke 25 yang dibuka, awas saja kalau sampai tidak ada , kuporak-porandakan kerajaan ini..(cklek) haaa...akhirnya ini raja ketemu juga.”Kata Raja Adzie The Almarhum.
Raja Naufal The Almarhum pun tidak membuang-buang waktu, ia segera merasuki Raja Rico.
 Duaarrr...ctar...ctir...tuk..tik...tak...tik...tuk...tik..tak..tik... “Huaaa........aaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........hei penulis!suaranya jangan suara sepatu kuda napa? yang kerenan dikit kek..” Usul Raja Adzie The Almarhum yang sudah merasuki tubuh Raja Rico. (“Hehehehe.....maaf-maaf..tadi abis naik andong....diulang lagi deh kalau gitu.”) Duarr.....Jduar..blarr.....bagaikan petir yang menyambar kesana-kemari dengan cahayanya yang sangat menyilaukan roh Raja Adzie mulai merasuki tubuh Raja Rico...
”Huahahahaha...haha...hahaha...akhirnya aku punya tubuh baru...” Tawa Raja Rico alias Raja Adzie. 
Di luar istana.
“Wuahh cahaya apa itu, jangan-jangan Raja Rico terkena sihir??” Tanya seorang penjaga. “Mungkin saja, ayo kita lihat...” Ajak penjaga lainnya.
Kedua penjaga itu pun bergegas menuju kamar Raja Rico.
Sesampainya di kamar Raja Rico kedua penjaga itu tidak menemukan sebuah kejanggalan kecuali Raja Rico yang sedang tertidur. “Hmm...tidak ada apa-apa tuh, tadi perasaan ada cahaya menyilaukan???” Kata sang penjaga. “Huaaammm..ada apa ini mengapa kalian berdua memasuki kamarku??!!” Tanya Raja Rico. “Oh maaf yang mulia kami tadi melihat sebuah cahaya dari kamar anda, kami kira anda disihir jadi kami datang ke sini..” Jawab sang penjaga. “Mana mungkin saya disihir, udah sekarang kalian berdua keluar.” Perintah Raja Rico alias Raja Adzie. “Baik yang mulia.” Sahut kedua penjaga itu. 

Ini lah kisah Raja Adzie The Almarhum yang akan balas dendam
, sekarang kita balik ke Kerajaan Vazor.
Paginya di Kerajaan Vazor. “Sekarang lah saatnya untuk bertanya kepada para penduduk Baby Hui apakah mereka mau menetap atau mengungsi. Dukun Tio awas kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh-aneh lagi...”Ancam Raja Vanto. “Baik yang mulia.” Sahut Dukun Tio.
 Dukun Tio pun mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sisa puing tembok kota Ma’aldur (lagi) dan membentuknya menjadi sebuah balok berukuran 1m×1m×0,5m dan menaruhnya di tengah-tengah kota.
“Penduduk Baby Hui di batu ini ada dua kolom, kolom yang pertama ‘menetap’ dan kolom yang kedua ‘mengungsi’ silahkan kalian semua memilih dengan cara memahat tanda ‘I’ pada salah satu kolom.” Jelas Dukun Tio.
Selagi penduduk Baby Hui memilih, pembangunan Kota Ma’aldur dimulai.
Setelah membuat denah kota dan mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan akhirnya mereka memulai membangun kota tersebut.

To Be Continued

Minggu, 22 April 2012

Three Kingdom Part 9


“Hore..!!!!!!!!!!!!” Teriak Pasukan Suku Barbar. “Kemenangan milik kita!!!!” Teriak Dimas. 
“Hu...ha..hu..ha...hu...” Para Pasukan barbar menyanyi dan menari hingga esok hari..
Keesokan harinya di pagi yang cerah.
Prok..prok...prok...
“Hah suara apa itu???” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas. “Ayo kita lihat.” Ajak Vanto.
 Mereka bertiga berlari menuju tembok kota yang sudah runtuh. 
“Yah ternyata itu si Dukun Tio bersama pasukannya.” Kata Dika. 
“Pasukan berhenti!!!” Perintah Dukun Tio. Prok..prok..brek.
Ternyata yang datang adalah pasukan bantuan yang dipimpin oleh Dukun Tio mereka semua berjumlah 1500 orang terdiri dari 1000 infanteri dan 500 kavaleri.
“Yah Dukun Tio terlambat memberikan bantuan.” Kata Dika (lagi). “Tuh dukun bisa dipercaya tidak sih???” Tanya Dimas. “Mana kutahu.” Jawab Dika.
“Aduh...” Kata Dukun Tio dengan sangat-sangat kecewa sehingga tidak dapat berkata apa-apa lagi selain ‘aduh’. 
Dukun Tio dan pasukannya pun masuk kedalam kota Baby Hui dengan diliputi rasa kecewa karena perang telah berakhir sebelum mereka tiba (Perang selesai kok malah sedih, mestinya senang dong).. 
Di dalam kota baby hui saat sore hari menjelang malam.
“Mari kita berdoa untuk mengucapkan terima kasih kepada dewa. Hahihohehohohohoho.....mambu gero-gero...kaiakaia..smbaiaa.....terima kasih dewa kau telah membantu kami memenangkan peperangan ini.....” Kata Dukun Tio. 
*Sing..krik..krik..krik... 
“Loh,kenapa kalian diam saja??” Tanya Dukun Tio. “Loh memang kami harus ngapain??” Sahut Dika. “Ya ikuti perkataan saya lah.” Balas Dukun Tio. “Owh...tapi kan biasanya cuma anda yang berdoa yang lainnya nungguin.” Jelas Dika. “Hmm....oh iya..ya..saya lupa..hahahaha.” Kata Dukun Tio tertawa. “Nih dukun memang meragukan...ckckckck.” Bisik Dimas. “Ahh sudahlah biarkan saja, dia juga sudah membantu kita dalam memenangkan peperangan ini.” Kata Dika. “Hmm....iya juga sih.” Kata Dimas. 
Lalu mereka semua pun menunggui dukun Tio yang berdoa sambil merayakan kemengan mereka selama enam malam, enam siang, enam pagi, dan enam sore. 

Di hari terakhir perayaan saat hari sudah malam. “Kita butuh seorang Raja untuk memimpin Kerajaan baru ini!!!” Kata Dukun Tio. “Hah..hmmm...iya ya..” Sahut Dika. “Itu sudah pasti si Dimas yang ganteng ini, nanti namaku berganti menjadi Dimas The Great hahahaha.” Kata Dimas sombong. “Lah..lah...lah..enak aja kau, yang mengalahkan rajanya kan aku, seharusnya aku yang jadi rajanya!!!” Sahut Dika. “Enak aja kau...!!!” “Ya emang enak..!!” “Huh berani-beraninya kau denganku...!!!” “Emang berani! ngapain juga takut sama orang cadel muka jelek seperti dirimu!!!” “Huh dasar kurang dihajar!!!(sring) hiaattt!!!” Sring...trang...tring..trang..
“Aduh malah pada duel pedang ckckckck dasar, bodohnya mereka berdua.” Kata Dukun Tio. “Terus siapa yang jadi rajanya??” Tanya Vanto. “Vanto..” Jawab Dukun Tio singkat. “Hah...saya??” “Bukan kamu tapi Vanto..” “Iya saya kan..??” “Haduh...dibilang dari tadi si Vanto bukan kamu.........” “Hah au dah...” Kata Vanto menyerah. “Eh tunggu kamu Vanto kan??” Tanya Tio. “Iya....” Jawab Vanto “Owh maaf..hahaha..tadi saya sedang kebingungan gara-gara mereka berdua bertarung..” Jelas Tio. “Iya..iya saya maafkan.” Balas Vanto dengan perasaan masih kesal. “Okelah kalau begitu,kamu berlutut didepan saya.” Perintah Dukun Tio. “Ngapain??” Tanya Vanto. “Ahhh udah kamu ikutin perintah saya saja.” Jawab Dukun Tio. “Baiklah...”. “Cublak...cublak..suweng...suwe..ora..minum..jamu..dewa telah mengutus saya untuk mengangkat anda menjadi seorang raja suku barbar dengan pernyataan ini anda telah resmi menjadi Raja Vanto dengan gelar The Pongo...(Istilah kerennya King Vanto The Pongo) sekarang anda berhak memerintah kami semua dengan adil (memberikan sebuah pedang kepada Vanto) pedang ini adalah lambang kerajaan kita, gunakan dengan sebaik-baiknya.” Kata Tio. “ Ok...mulai sekarang nama kerajaan ini bukanlah kerajaan Baby Hui lagi melainkan Kerajaan Vazor dan nama kota benteng ini adalah Austrum.” Sahut Vanto. “Hidup Raja Vanto....!!!!” Teriak Dukun Tio. “Hidup......!!!!” Sahut para prajurit Vazor memecah keheningan malam hingga mengagetkan kedua kstria yang dari tadi sedang bertarung dengan sengitnya. “Hah,ada apa ini??” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas dengan enteng. “Dukun Tio mengangkat Vanto menjadi raja.” Sahut Arif. “Hah yang bener??” Tanya mereka berdua. “Ho’oh,beneran lah kemana aja tadi...” “Ya bertarung lah.....sia-sia diriku bertarung dengan Dimas.” “Baru tahu kalau menyelesaikan masalah dengan bertarung pasti tidak ada hasilnya.” Sahut Arif. “Iya..huh..” Kata Dika menyesal. 


To Be Continued

Sabtu, 21 April 2012

Three Kingdom Part 8


“Hah, pasukan berkuda Baby Hai telah datang.” Kata Ksatria Arif dari suku Raneh. “Aku tahu, sekaranglah saatnya kita serang mereka.” Sahut Vanto.
“Serang....!!!!!!!!!” Perintah Vanto. 
kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk...
“Hei lihat itu pasukan berkuda suku barbar.!!!” Teriak pengawal kerajaan Baby Hai. “Baiklah...kita serang mereka. Serang...!!!!!!” Perintah Pangeran Dani.
kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk...
Kedua pasukan semakin mendekat dan menghunuskan tombak mereka.
Dug...dug....dug...dug....dug.. Kdebuk...kdebuk..kdebuk... dug...dug....dug
“Hoooo....!!!!!” Kedua pasukan saling berteriak..
Kdebuk...kdebuk..kdebuk...sring..sring...ngikngik....... “Akhh!!!!!” Bruakk...tring..trang...tring....ngikngik.... “Akhh!!!!!” bruak!!!
Duel antara pasukan berkuda Baby Hui dan Suku Barbar berlangsung sengit, korban berjatuhan dimana-mana....
Di tembok Baby Hui. Trang...trung...tring... “Hah..kuat juga kau ternyata.” Kata Dika. Trang..tring.. “Jangan anggap remeh diriku ya, badan besar gini ahli pedang.” Balas Raja Adzie. Trang...trung..tring.... 
Dengan pemandangan kota yang terbakar Pasukan Baby Hui berjuang mati-matian untuk mempertahankan kotanya namun pintu gerbang telah hancur didobrak oleh ‘Battering Ram’ Suku Barbar. 
“Cepat masuk ke kota!! Selang....!!!” Perintah Dimas. “Hah selang? Apa itu selang komandan...!!!!” Sahut seorang prajurit pemanah “Bodoh maksudku se..r...ang!!!” Jawab Dimas tergagap mengatakan huruf ‘r’ karena ia cadel. 
Pasukan pemanah yang dipimpin oleh Dimas pun meninggalkan busur mereka dan mengeluarkan pedang lalu menyerang kota Baby Hui melalui pintu yang telah dihancurkan oleh ‘Battering Ram’ mereka. 

Bagaikan badai, pasukan pemanah yang dipimpin oleh Dimas menyerbu Baby Hui, mereka pun memenuhi sudut-sudut kota dan membunuh siapa saja yang ada dihadapan mereka. 
Di tembok Baby Hui Dika dan Raja Adzie bertarung dengan sengit. Sreeettttt.... “Akkkhhh!!!!” Rintih Dika. “Hahahah dasar suku lemah...” Kata Raja Adzie. “Hah....hah...sialan kau!!!!” Teriak Dika. 
Trang..trang..trang...Dika pun langsung menyerang Adzie dengan membabi buta nonstop dan tidak memberi kesempatan kepada Adzie untuk menyerang kembali, ya itu adalah jurus andalannya jika ia sedang marah. Trang...trang...trang..Sreeeettt... 
“ Ahhhhh....aku akan kembali!!!” Teriak Raja Adzie. 
Dan terbunuhlah Raja Adzie oleh Mahadika dari Suku Tingku dan Pangeran Dani dari Baby Hai yang ikut bertarung pun turut terbunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Ksatria Vanto dan Arif.
Pasukan berkuda Baby Hai yang melihat hal itu akhirnya melarikan diri. “Mundur!!!!” Perintah pengawal kerajaan Baby Hai. kdebuk... kdebuk.. kdebuk..!!!
“Hah mereka melarikan diri...” Kata Vanto. “Bagaimana kalau kita kejar mereka??” Usul Arif. “Tidak perlu.” “Kenapa??” Tanya Arif. “Kita sudah sangat kelelahan lebih baik kita istirahat dari pada mengejar mereka, sebentar lagi juga mereka akan mati dengan sendirinya.” Jelas Vanto. “Hmm...baiklah..”
“Pasukan!!!! kita ke Benteng Baby Hui.” Perintah Vanto. “Haig...!!”
Prrrr..kdebuk..kdebuk...
Saat itu juga berakhirlah kejayaan kerajaan Baby Hui, namun para suku Barbar tidak mengetahui bahwa Ksatria Arsyan dan Ksatria Kevin telah melarikan diri terlebih dahulu sebelum Raja Adzie meninggal terbunuh  (gak setia kawan).
Setelah membakar mayat pasukan baby hui dan pasukan barbar para suku barbar merayakan kemenangannya di Kota Baby Hui yang telah mereka kuasai. 

To Be Continued

Sabtu, 14 April 2012

Three Kingdom Part 7



“Yang mulia, para Kruppen telah kehabisan amunisi!!” Kata Arsyan. “Hmm...berarti mereka akan menyerang kita dengan pasukan infanteri mereka???” “Iya Paduka.” “Bersiap-siap untuk serangan jarak dekat!!!” “Baik.” “Schütze (sebutan pasukan pemanah untuk baby hui) bersiap untuk tembak!!!” Perintah Arsyan. “Haig...”
Di Suku Barbar sang maestro Moza terluka,terkena serpihan trebuchet yang terhantam oleh batu baby hui. “Hei Moza terluka cepat bantu dia!!” Perintah Vanto.
Moza pun dibawa ke garis belakang oleh Dika dan Tio. “Me....re...ka tel...ah.. ke....ha..bis...an amu...ni...si..se..ra.....ng....”Rintih Moza.
“Halah mau mati aja ninggalin pesan kematian dulu ckckckc..” Dika geleng-geleng kepala.
 Seketika itu juga Moza meninggal dunia dan dikubur di Pohon Toge raksasa dimana disampingnya telah dikubur jenazah Resky dari Suku Bahloel.
“Huh sekaranglah saatnya kita serang mereka....bawa tower cadangan itu, tower yang kita tinggalkan sudah hancur!!” Perintah Dika. “Haig...” 
Prokk....prok..prok...prokk..prok..prokk... 
“Pasukan kuda, jalan dibelakang infanteri.” Perintah Vanto “Haig...!!” 
prrr...prrrr..kdebuk...kdebuk...kdebuk...
Setelah pasukan infanteri, pemanah dan berkuda berbaris rapi di garis depan. “Pasukan Infanteri..!!!Formasi kura-kura maju jalan..!!!” Perintah Dika. “Haig...” prok..prok..brek..brek...brek..prok..prok..prok...
“Pasukan kuda berhenti, kita tetap disini untuk memberikan bantuan!!!” Perintah Vanto. “Haig...!!”
Tanah pun bergetar oleh gerak maju jalan pasukan barbar.
Saat pasukan mendekati tembok baby hui.
“Schütze...tembak.!!!”Perintah Arsyan. Melesatlah panah baby hui.....
“Akkkhhh...!!!!” “Rapatkan formasi...!!!!” Teriak Dika. 
“Siap....tembak!!!!!” Perintah Dimas. Dan dibalaslah tembakan panah oleh suku Barbar.....
Perlahan tapi pasti dengan dihujani oleh panah pasukan barbar mendekati tembok baby hui, lalu mereka mulai memasang tangga dan menurunkan pintu tower mereka tepat di tembok baby hui. “Hooo........!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak pasukan barbar.
Trang...tring...trung...duakk...brak... “Akkhhh!!!!” Trang...tring...trung.
“Cepat naiki tangga itu!!!!” Perintah Dika.
Dika turut menaiki tangga.
Trang...tring...trung... 
Terjadilah duel sengit antara Pasukan Baby hui dengan Pasukan suku barbar di atas tembok Baby hui....
Disaat kedua belah pihak sedang bertarung mati-matian.
Tet..tet...tet...
Datanglah pasukan Ksatria berkuda dari Baby Hai untuk membantu Baby Hui. “Hah pasukan dari Baby Hai telah tiba, kita pasti menang!” Kata Raja Adzie. “Eiittsss..jangan senang dulu...hiaaaaa!!!!” Kata Dika. Trang...tring...trung..
Di pasukan Baby Hai....
“Pasukan berhenti..!!!!” Perintah Pangeran Dani. Kdebuk...kdebuk..kdebuk...sreettt..
“Kita telah terlambat, suku barbar itu telah menyerang tembok Baby Hui.” Kata Pangeran Dani.

To Be Continued 

Kamis, 05 April 2012

Three Kingdom Part 6

Di kota baby hui, di dalam istana.
“Rajaaaa..............!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak sang kurir.
“Ada apa,hei bagaimana apakah mereka menerima pesannya??apa jawaban mereka??”  Drrrttt...drrrttt...drrrttt... “Gempa bumi??” “Bukan, baru saja saya mau memberi tahu kepada yang mulia bahwa suku barbar itu menolak dan sedang dalam perjalanan untuk menyerang kita...!!!!!!” Kata Sang Kurir panik. Dung..dung..dung...dung...(suara gong tanda bahaya) “Jangan panik, cepat kau sampaikan kepada kerajaan bagian baby hai bahwa kita butuh bantuan mereka..” Perintah Raja Adzie. “Baik yang mulia.” Jawab sang kurir.  “Ksatria Arsyan dan Kevin persiapkan pasukan kita untuk mempertahankan kota ini.” “Baik..” Jawab kedua ksatria itu.

Lalu kedua ksatria itu menunggangi kudanya menuju gudang persenjataan untuk mempersenjatai pasukan baby hui.
“Penasehat ambilkan baju perang saya.” Perintah Raja Adzie. “Tapi paduka tidak boleh mati karena akan membuat rakyat semakin ketakutan jika anda mati.” Nasehat sang penasehat. “Hah....justru rakyat semakin ketakutan saja jika rajanya juga takut, cepat kau ambilkan baju perang saya..” “Ba..baik yang mulia.” 
Satu menit kemudian. “Ini yang mulia baju perang anda.” “Hah lama sekali kau ngambilnya.??” “Maaf tadi saya terpeleset.” “Dasar ceroboh, ya sudah bantu saya memakai baju ini.”  Sang penasehat pun membantu Raja Adzie memakai baju perangnya. Rrrttttt.... “Ahh...sesak sekali.” Rintih Raja Adzie. “Maaf paduka saya terlalu kencang mengikatnya...(melonggarkan ikatan baju perang Raja Adzie) Bagaimana Raja apakah sudah pas??” “Nah ini baru enak, pas banget.” Setelah memakai baju perangnya dan memegang erat perisainya Raja Adzie pun langsung berjalan menuju ke tembok kota Baby Hui dimana para parjuritnya telah bersiap-siap. Sesampainya di tembok kota baby hui yang menjulang tinggi sekali, ia melihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan yaitu 5000 pasukan suku barbar berbaris untuk menyerang mereka. “Waou...banyak sekali mereka.” Kata Sang Raja. “Kemungkinan mereka ada 5000 orang.” Sahut Ksatria Arsyan. “Hmm..tapi disini kita memiliki 10000 pasukan kita pasti menang.” Kata Raja Adzie penuh keyakinan. Di suku barbar. “Pasukan...berhenti..!!!!!” Perintah Dika. Prokk...prokk....prok..prokk...brek... “Hei dimana Dukun Tio??” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas. “Hah sialan kau.” “Hmm katanya sih dia sedang mencari pasukan bantuan.” Sahut Moza. “Hah...daripada memikirkan dia lebih baik kita bersiap menyerang mereka.” Kata Dika. “Saudaraku sekaranglah saatnya kita berperang melawan baby hui untuk mengakhiri penindasan terhadap suku kita!!!!” Teriak Dika berorasi untuk menyemangati para pasukan barbar. “Haig......!!!!!!!!!!!!” Teriak para pasukan.

Sreeettt....sring....breekkk...(Suara para pasukan memakai helm perangnya, menghunuskan pedangnya dari sarung pedang, dan memposisikan perisai mereka ke arah depan).
“Pasukan Zeni....!!hancurkan tembok kota itu..!!” “Haig....!!!” Jawab pasukan Zeni. 
Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! Melesatlah ratusan batu api yang dilontarkan oleh pelontar batu suku barbar dan mengenai tembok kota baby hui. Bumm...bumm..bumm...bumm..!!!! “Akkkkhhh!!!!” bumm..bumm...bumm..!!!! Tembok baby hui pun bergetar.... “Hei...jangan diam saja, cepat balas tembakan.”Perintah Raja Adzie. “Baik....Kruppen (sebutan pasukan zeni untuk baby hui) tembak.” “Haig...”  Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! melesatlah batu-batu dari balik tembok baby hui dan menghantam pasukan infantery suku barbar.

Bumm...bumm...!!! ngiek...ngiek...ngiek.. “Akkhhh...” “Cepat mundur!!!! kita harus menjauhi jarak tembak trebuchet baby hui, tinggalkan tower itu kita masih punya tower cadangan!!!” Perintah Dika. “Haig...” Prokk...prokk...prokk...kdebuk..kdebukk....dan mundurlah pasukan infantery, pemanah serta pasukan berkuda untuk menghindari jarak tembak trebuchet baby hui. “Pasukan Zeni tetap di posisi, kita harus membalas tembakan mereka.” Perintah Moza. “Haig...”
“Hahaha....dasar mereka semua pengecut, baru segitu saja sudah mundur.” kata Raja Adzie. “Tidak mereka justru pintar.” “Hah...apa maksudmu ksatria Kevin. “Mereka menjauhi jarak tembak trebuchet kita sehingga korban dari mereka sedikit, saat amunisi kita habis baru mereka akan menyerang kita.” “Huh..dasar suku sialan...tapi pintar juga.” 


Seharian penuh kedua kubu saling tembak-menembak dengan trebuchet mereka hingga menimbulkan korban cukup besar di kedua belah pihak.
Saat Fajar menyingsing adalah saat yang paling menentukan bagi suku barbar.