Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Jumat, 28 Oktober 2011

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 3

“Hei senjata itu dapat darimana, Leonov?”
Kharlinskiy berbalik tanya kepada ku.

“Oh senjata ini kudapatkan dari pacar Elena, Andrey…”
“Oh yayaya Andrey dia juga temanku orang nya agak aneh ya apalagi hidungnya…” Kata Kharlinskiy
“Memang hahahaha.”

Terbayang wajah Andrey dan langsung membuat ku tertawa guling-guling di pesawat hingga Kharlinskiy dan Rutlinskiy bingung.

Kharlinskiy berdiri dari kursinya dan menghampiriku.

“Ada apa dengan dirimu, Leonov?”
“Hahahaha tenang Kharlin aku tak apa-apa hanya saja saat membayangkan wajah Andrey dengan hidungnya….hahahaha..haduh haduh hahahhaa..”

“Dasar..”
Kharlinskiy pun kembali ke kursinya dan membiarkan diriku berguling-guling di lantai pesawat.

Beberapa jam kemudian tibalah kami di Pegunungan Alpen di pagi hari kira-kira pukul setengah empat pagi waktu bagian perbatasan Swiss-Italia.

“Ehem baiklah saatnya kita bersiap-siap terjun.” Kataku.

Aku membuka pintu pesawat….
“bbrrrrr dingin sekali disini…”
“Leonov sudah waktunya terjun!!” Teriak Rutlinskiy.
“Hah?!”
“Ahh kelamaan kau..”
Lagi-lagi disaat mau terjun aku ditendang dan kali ini oleh Kharlinskiy.

Wuuuuuusssshhhh angin yang sangat dingin menyelimuti diriku menembus jaket yang kukenakan…
Tepat pada ketinggian yang ditentukan aku membuka parasutku, kulihat Kharlinskiy dan Rutlinskiy melakukan hal yang sama.

Buuukkkk tibalah diriku di daratan pegunungan alpen dengan saljunya yang putih.





“Leonov!!! Awas!!!” Teriak Rutlinskiy.
“Huaaaaaa!!!”

Lagi-lagi aku hampir tertabrak oleh orang lain ckckc sial juga nasibku dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan langsung berdiri namun…
“Leonov menyingkir dari situ!! itu tempat pendaratanku!!!”
“Sial..”
Buuukkkk!!! Kharlinskiy dengan tepat menghantamku….
Krrooosaaaakkk….
“Ohh pintar sekali kau, Kharlin tali parasut kita jadi terbelit!”
“Lagipula kenapa kau tidak menyingkir hah?!”

“Hei hei sudah-sudah jangan berantem cepat kalian bereskan tali parasutnya.” Rutlinskiy mencoba menenangkan kami.

“Okok hmmm ini ke arah sini terus yang ini kesana..” Kataku mengintruksikan Kharlinskiy untuk melepas tali parasut yang membelit kami.

“Bukan seharusnya ini kesini itu kesana..”

“Eh bukan harusnya yang itu yang kesini..” Sahut Rutlinskiy

Selama berjam-jam kami mencoba melepas kan tali parasut kami.

Dua jam kemudian tali parasut yang membelit kami bertiga semakin rumit saja untuk dilepaskan, mentari pagi mulai menyinari kami.


“Hei hei ini kenapa semakin membingungkan?” Kataku.
“Mana kutahu..”
“Andai saja ada pisau..” Kata Kharlinskiy berandai-andai.

“Pisau?! Aku membawanya di kakiku hahahaha..”

Plaaaakkk….!!!

Linskiy bersaudara menamparku.

“Adoowww sakit!!!”

Aku langsung mengusap-usap pipiku dengan salju. Tamparan mereka benar-benar menyakitkan.

“Cepat Leonov potong talinya!!” Teriak Rutlinskiy tidak sabaran.

“Iya iya..”

Sreettt..sreettt..sreettt…

Dan akhirnya bebas sudah kami dari jeratan tali parasut hahaha

“Angkat tangan!!!” Teriak Seseorang dari balik rimbunan pohon dan salju.

Ternyata tanpa kusadari sedari tadi mendarat di tanah ini kami sudah di intai oleh seseorang.

Dengan segera saja kami bertiga mengangkat tangan kami karena kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi.


To Be Continued

Jumat, 21 Oktober 2011

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir Part 2

Beberapa hari kemudian aku tiba di Hawaii saat sore hari.
Saat aku ingin memasuki Lamborghini ku Zelanya menghampiriku.
“Hei Leonov bolehkah aku menumpang denganmu?”
“Tentu saja ayo masuk..”

Di perjalanan kami berbicara banyak terutama tentang organisasi VENOM.
Sesampainya di sebuah penginapan..
“Loh hei ini kan penginapanku juga.” Kataku

“Wah kebetulan sekali nomer berapa kamarmu?”
“Sayang nya nomer sial, tiga belas.”
“Ahh jangan percaya dengan hal itu.”

Segera kami ke kamar masing-masing dan beristirahat

Keesokan harinya aku menuju Pantai Waikiki menikmati matahari terbit hmm..
Betapa indahnya, sebenarnya aku ingin sekali mengajaknya ke tempat ini sebab aku pernah berkata ingin mencari pemandangan-pemandangan matahari yang indah dan ia ingin ikut namun hal ini tidak akan terjadi atau bisa dibilang susah untuk dilakukan.

Aku menyusuri pantai dan lagi-lagi di depan mataku terpampang slide-slide masa lalu terutama saat pertama kali melihatnya di acara itu…..


“Hei Leonov!!”
Suara Zelanya mengagetkanku

“Kau ini membuatku kaget saja hahaha..”
“Habisnya wajahmu datar tidak ada ekspresi.”
“Sebentar-sebentar kenapa setiap aku di suatu tempat kenapa selalu ada dirimu?” *Pengalihan supaya tidak menjurus ke ‘wajah datar’.
“Hmm sepertinya aku ditakdirkan untuk membantumu dan mungkin kau belum tahu bahwa aku adalah informan VENOM, oh iya kau masih ingat dia kan?”
Zelanya menunjuk dua orang di belakangnya yang sedang membeli minuman.
“Hmm jadi selama ini yang memberi informasi itu kau dan sepertinya aku kenal orang itu…ohh yayaya linskiy bersaudarakah itu?”
“Iyapp masih ingat juga rupanya dirimu.” Kata Zelanya
“Hahaha mana mungkin lah aku melupakan sahabat-sahabatku.”


Yap Linskiy bersaudara terdiri dari Rutlinskiy dan Kharlinskiy dengar-dengar mereka adalah juara dunia dalam kejuaran penembak jitu hmm sepertinya kalau tidak salah mereka tiga bersaudara tapi aku tidak tahu siapa satunya lagi.

“Hai, Leonov. Ini diminum…” Kata Rutlinskiy.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Kebetulan sekali aku memang sangat-sangat haus saat itu, betapa bahagianya memiliki sahabat seperti mereka ternyata masih ada yang mempedulikan diriku.

Tririririrt HP Zelanya berbunyi.
“Hmm sepertinya Andrey dan kawan-kawan mengalami kesulitan dalam menjalankan misinya.”
“Hah? Loh mereka sedang melakukan apa saat ini?” Tanyaku penuh penasaran.

“Mereka saat ini sedang memburu pemimpin mafia di Italia tepatnya perbatasan Italia dengan Swiss dan mereka terhalang oleh dua bersaudara penembak jitu bernama Ilvano dan Mozilo.” Jelas Zelanya.
“Pegunungan Alpen? hmm aku harus membantu mereka!”
“Tenang, Leonov aku tahu kamu ingin membantu mereka dan sudah kupersiapkan pesawat untuk mengirimmu.”
“Hahahah terima kasih, Zelanya. Jadi kapan aku bisa ke sana membantu mereka?”
“Sayangnya kau baru bisa ke sana dua hari lagi tapi tak apa-apalah gunakan dua hari itu untuk mempersiapkan diri.”
“Oh iya, Leonov bolehkah kami bergabung membantumu?” Tanya Kharlinskiy.
“Tentu saja..” Jawabku.

Selama dua hari aku mempersiapkan berbagai perlengkapan terutama perlengkapan untuk bekerja di daerah salju dan tentu saja VSSK ku.

Hari yang telah dinantikan tiba.
Kami bertiga memasuki pesawat yang akan membawa kami menuju perbatasan Italia, terlihat Rutlinskiy dan Kharlinskiy membawa Sniper berjenis sama dengan milikku, VSSK.

Bagaimana dengan Zelanya? Dia tetap di Hawaii memantau kami dengan satelit, sedangkan Lamborghini ku akan di kirim di sebuah landasan pacu yang terpencil lebih tepatnya di terjunkan semoga saja tidak ada yang lecet hehehehe

Bisa dibilang ini adalah perjalanan yang sangat panjang kami sempat transit beberapa kali sebelum tiba di titik penerjunan kami. Di saat itu kami berbincang-bincang mengenai senjata yang digunakan.

“Hei dapat darimana kalian senjata itu?” Tanyaku

“Kami memenangkan sebuah kejuaraan tembak dunia dengan hadiah senjata ini, bagus kan?” Jawab Kharlinskiy.
“Wahh hebat hahaha…”


Glek berarti mereka ini adalah penembak jitu nomer satu di dunia

To Be Continued

Jumat, 14 Oktober 2011

Peluru Terakhir : Nyawa Terakhir


Sejak kejadian pengepungan itu aku mulai berpikir mereka sepertinya sudah tidak memerlukan diriku, aku merasa mereka sudah bersenang-senang dengan pasangan mereka masing-masing.

Kuputuskan pergi menuju Hawaii secara diam-diam.

Oh yeeahh Hawaii tempat dimana aku bisa menikmati Matahari berpendar dari ufuk Timur dan meredup di ufuk Barat hmm apa dari ufuk Barat ke ufuk Timur ya? Okok ini masalah anak SD tak usah dipikirkan biarkan saja mereka yang berpikir.

Ruuoooonnnnngggg!!!!
Perjalanan darat yang panjang menuju pelabuhan Vladivostok menantikku.
Di perjalanan aku selalu bengong entah apa yang kupikirkan saat itu.
Ckkiiiiiitttt!!!
“Huaaaahhh hampir saja nabrak!!!”
“Hei, kalau jalan hati-hati !!!!” Teriak supir truk yang hampir saja kutabrak.


Hati yang mengganjal ini membuatku tak tenang.

Siberia..

Aku beristirahati di tepi Danau Baikal daerah Irkuts.
“Hmm bunga merah..”
Melihat sebuah tanaman berbunga merah aku segera turun dari mobil dan memetiknya lalu kusandarkan diriku di Lamborghini.

Kuhirup wangi nya dan seakan-akan di depan mataku tertampil slide demi slide bayangan masa lalu ku.
Segera ku tersadar masa lalu hanyalah masa lalu biarlah di kenang di kepala yang sudah mulai rusak ini…
Kelanjutkan perjalananku munuju Pelabuhan Vladivostok agar tak tertinggal oleh kapal.

Sesampainya di Pelabuhan Vladivostok aku segera memarkir mobilku ke dalam kapal dan menuju kamar yang telah kupesan.
Buooonngggg!!!! Suara peluit uap berbunyi tanda kapal yang aku naiki segera berangkat.

Betapa menyenangkannya perjalanan laut dari Vladivostok menuju Hawaii setelah melewati perjalanan darat yang sangat panjang dan melelahkan dari Novossibirsk menuju Vladivostok dengan Lamborghini kesayanganku.

Separuh perjalanan sudah kutempuh.
Saat sedang memandangi matahari tenggelam di atas dek tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.
“Hei Leonov masih ingat dengan diriku?”
“I..iyaa..sepertinya aku kenal dirimu?”

Aku mulai mengingat-ingat wajah yang tampak tak asing dari memori yang sudah berkarat ini…
“Ahhh Zelanya, apakah itu kau??”
“Akhirnya ingat juga hahahaha dengar-dengar dari seseorang kau menjadi agen Minyak eh…VERMAK… LEWIS ….hmm..VELO ..VES…??”
“VENOM maksudmu?”
“Yayaya itu dia hahaha dimana teman-temanmu bukankah kalian selalu bersama-sama?”
“Aku sendirian, ingin mencari ketenangan hati..”
“Ada apa memangnya?”
“Aku merasakan mereka meninggalkan ku..tahu kan maksudku?”
“Yayaya aku tahu maksudmu.”

“Itu dia..”
“Kau tahu Leonov, meskipun kau merasa mereka meninggalkanmu sebenarnya mereka masih membutuhkanmu..”
Kata-kata Zelanya membuatku terhenyak…
“Pikirkan lah itu, sekarang aku mau pergi dulu daahh sampai jumpa di Hawaii..”
Zelanya pergi meninggalkan diriku yang daritadi masih terhenyak akan kata-katanya.

“Heeiii tunggu!!!”
….byyuuuuurrrr….
“Huaah tolong!!!!”

Sial niatnya ingin bertanya kepada Zelanya maksud dari kata-katanya malah tersandung oleh kaki sendiri dan terjatuh ke laut.

“Tolong wwoooyyyy!!!!!”

“Tangkap ini!!!” Teriak Zelanya.
Ia melemparkan sebuah pelampung, segera saja kugapai pelampung itu..
“Huaahh huaaahhh…”

Untung saja aku bisa kembali ke kapal lagi kalau tidak mungkin nasibku akan berakhir dengan damai

“Dasar ceroboh bagaimana bisa kau jatuh ke laut hah?!” Tanya Zelanya

“Diamlah kau aku kedinginan ini bbrrrrr…”

Aku langsung berlari ke dalam kamar dan menghangatkan diri dengan hairdryer.