Dan akhirnya Ban Tim Amerika pecah lalu terguling namun masih selamat karena memiliki balon pelindung.
“Hahahah rasakan itu Amrik…!!!” Teriak Mekanik Malaysia.
Disaat yang bersamaan Tim Indonesia masih bersantai ria menikmati salju.
Mereka tidak mengetahui kondisi para peserta di belakang mereka karena sudah terlampau jauh.
"Indah sekali pemandangan di daerah sini." Kata Dika yang sedang bersantai di kursi supir.
"Pengalaman pertama ngeliat salju pula." Sambung Dimas yang juga sedang bersantai.
"Sudah tiga jam setelah badai salju, mana tim lain ya?" Arif mulai khawatir dengan keadaan yang terlalu tenang ini.
"Santai saja dulu, kawan. Nikmati dulu pemandangan ini, belum pernah liat salju kan?" Sahut Moza.
"Pernah, saat perayaan ulang tahunku yang ke 12 ada salju lokal yang datang dari atas."
"Ehh, Arif, itu namanya tepung." Tio membenarkan apa yang dikatakan Arif.
Belum mereka menikmati pemandangan yang indah itu, tiba-tiba ada suatu objek yang tidak diketahui mendekat.
"Hei teman-teman! Lihat apa yang ada di radar kita." Moza mengagetkan mereka yang sedang bersantai ria.
"Apa itu? Itu burung..!." Dimas mencoba menebak.
“Kapal!” Arsyan ikutan menebak.
"Bukan, itu pesawat!" Tio juga berusaha menebak benda apa itu.
"Itu superman!" Dika ikut menebak juga.
"BUKAN! Itu misil!! Menghindar!!" Arif memperingati Dika
"Berpegangan semua!!!"
Seketika itu juga panser itu berbelok masuk ke dalam hutan yang lebat untuk menghindari kejaran misil itu. Beruntung misil itu menabrak pohon sekitar dan meledak. Mendengar suara ledakan itu seluruh kehidupan yang ada di hutan berlarian menjauhi lokasi misil itu
“Darimana asalnya misil itu, Moz?"
"Itu misil yang diluncurkan oleh panser Malaysia! Mereka ada di sekitar sini, Dik."
"Sekarang di radar terlihat dua objek lainnya. Itu adalah panser Brunei dan Malaysia."
"Kalian kangen kami? Ayo serang dia, Brunei!"
"Roger that!"
Seketika itu juga hutan itu menjadi lahan pertempuran yang menegangkan.
"Misil ada dimana-mana! Tetap fokus, Dika!"
"Tenang Dim, kau tidak akan menyesal memilihku sebagai pengemudi panser ini."
Dika langsung menekan tombol A untuk menghindari misil yang bertebangan di sekitarnya.
"Kita harus menyingkirkan mereka!"
"Dengan apa? Panser ini punya senjata apa?"
"Tenang nak. Aku sudah memasukkan beberapa senjata di panser ini" Tio langsung membuka kontrol rahasia pengendali senjata.
Dengan sekejap Tio langsung menekan sebuah tombol lalu meluncurlah sebuah roket dari bagian bawah panser menuju ke arah tim Brunei.
"Roket apa itu, Yo?" .
"Lihat saja dulu kawanku."
Roket itu meledak di depan panser tim Brunei dan mengeluarkan suatu gas.
"Kita terkena roket!.... Bau apa ni? Kurang oksigen! Segera berhenti!"
Panser tim Brunei melambatkan mobilnya dan behenti di pinggir sungai dekat situ. Para awak panser keluar dan langsung menceburkan diri ke sungai karena tidak kuat akan bau yang sangat-sangat dahsyat, 10 kali lipat dari bau Sigung.