Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Kamis, 23 Juni 2011

Race Around The World 10

Dan akhirnya Ban Tim Amerika pecah lalu terguling namun masih selamat karena memiliki balon pelindung.

Hahahah rasakan itu Amrik…!!!” Teriak Mekanik Malaysia.

Disaat yang bersamaan Tim Indonesia masih bersantai ria menikmati salju.

Mereka tidak mengetahui kondisi para peserta di belakang mereka karena sudah terlampau jauh.

"Indah sekali pemandangan di daerah sini." Kata Dika yang sedang bersantai di kursi supir.
"Pengalaman pertama ngeliat salju pula
." Sambung Dimas yang juga sedang bersantai.
"Sudah
tiga jam setelah badai salju, mana tim lain ya?" Arif mulai khawatir dengan keadaan yang terlalu tenang ini.
"Santai saja dulu, kawan. Nikmati dulu pemandangan ini
, belum pernah liat salju kan?" Sahut Moza.
"Pernah, saat perayaan ulang tahunku yang ke 12 ada salju lokal yang datang dari atas
."
"Ehh, Arif, itu namanya tepung
." Tio membenarkan apa yang dikatakan Arif.


Belum mereka menikmati pemandangan yang indah itu, tiba-tiba ada suatu objek yang tidak diketahui mendekat.

"Hei teman-teman! Lihat apa yang ada di radar kita
." Moza mengagetkan mereka yang sedang bersantai ria.
"Apa itu? Itu burung..
!." Dimas mencoba menebak.

“Kapal!” Arsyan ikutan menebak.
"Bukan, itu pesawat
!" Tio juga berusaha menebak benda apa itu.
"Itu superman!" Dika ikut menebak
juga.
"BUKAN! Itu misil!! Menghindar!!"
Arif memperingati Dika
"Berpegangan semua!!!"


Seketika itu juga panser itu berbelok masuk ke dalam hutan yang lebat untuk menghindari kejaran misil itu. Beruntung misil itu menabrak pohon sekitar dan meledak. Mendengar suara ledakan itu seluruh kehidupan yang ada di hutan berlarian menjauhi lokasi misil itu
“Darimana asalnya misil itu, Moz?"
"Itu misil yang diluncurkan oleh panser Malaysia! Mereka ada di sekitar sini
, Dik."
"Sekarang di radar terlihat dua objek lainnya. Itu adalah panser Brunei dan Malaysia."
"Kalian kangen kami? Ayo serang dia, Brunei!"
"
Roger that!"

Seketika itu juga hutan itu menjadi lahan pertempuran yang menegangkan.

"Misil ada dimana-mana! Tetap fokus
, Dika!"
"Tenang Dim, kau tidak akan menyesal memilihku sebagai pengemudi panser ini
."

Dika langsung menekan tombol A untuk menghindari misil yang bertebangan di sekitarnya.
"Kita harus menyingkirkan mereka!"
"Dengan apa? Panser ini punya senjata apa?"
"Tenang nak. Aku sudah memasukkan beberapa senjata di panser ini" Tio langsung me
mbuka kontrol rahasia pengendali senjata.

Dengan sekejap Tio langsung menekan sebuah tombol lalu meluncurlah sebuah roket dari bagian bawah panser menuju ke arah tim Brunei.
"Roket apa itu
, Yo?" .
"Lihat saja dulu kawan
ku."


Roket itu meledak di depan panser tim Brunei dan mengeluarkan suatu gas.
"Kita terkena roket!.... Bau apa ni? Kurang oksigen!
Segera berhenti!"


Panser tim Brunei melambatkan mobilnya dan behenti di pinggir sungai dekat situ. Para awak panser keluar dan langsung
menceburkan diri ke sungai karena tidak kuat akan bau yang sangat-sangat dahsyat, 10 kali lipat dari bau Sigung.

Peluru Terakhir part 3

“Ohh tidak.”

“Ada apa, Leonov??

“Mereka semua berjumlah sepuluh orang dan peluruku pun berjumlah sepuluh butir ini akan menjadi momen yang sangat sulit.”

“Hmm baiklah aku akan mengambilkan cadangannya di truk tadi kamu lindungi aku dari sini....”

“Eh jangan !!!”

Tanpa menghiraukanku Ekaterina segera meninggalkanku di bukit ini dan kembali ke vila yang dipenuhi oleh orang bersenjata itu, hanya untuk mengambil magasin senjata ini!

Ahh bagaimana kalau ia tertembak?? Aku pun mulai risau ia adalah wanita yang cantik, terlihat dari tatapan matanya bahwa ia memiliki hati yang indah, aku pun baru dekat dengannya beberapa jam yang lalu dan saat ini dia mengambil resiko nyawanya hanya untuk mengambil magasin senjataku ini!

Mata tajamku terus memperhatikan Ekaterina yang mendekati vila melalui teropong senjataku.

“Hah awas... “ Teriakku dalam hati.

Dengan reflek aku menekan pelatuk senjataku dzzuuuuu....orang bersenjata yang menghadang Ekaterina langsung jatuh namun hal itu membuat ia ketahuan! Dia tertembak amarahku pun langsung memuncak, tanpa berpikir panjang aku segera mengambil senjata AK-47 yang dibawa oleh Vasily.

“Heiii Leonov tunggu!!!”

Sambil berlari ke arah vila aku terus menembaki orang-orang bersenjata itu.

Satu demi satu jatuh dan dengan sekejap aku sudah sampai dihadapan Ekaterina yang terluka,

ternyata orang-orang bersenjata itu lebih banyak dari perhitunganku semula.

Tanpa menghiraukan tembakan yang sangat gencar itu aku segera menolongnya dan menariknya ke balik tembok.

“Kau tidak apa-apa kan??” “Heii jawab pertanyaanku??!!!”

“Hah..hah...hah...kakiku tertembak tidak apa-apanya bagaimana !! mungkin sebentar lagi aku meninggal.”

“Jangan begitu bertahanlah itu hanya kaki bukan jantung!!!” “Sial peluruku habis!!”

“Ambil pistolku ini kau pasti sangat membutuhkannya.” Kata Ekaterina dengan nafas yang tersengal-sengal menahan rasa sakit.

Duuuuuaaaaarrrrrr!!!!!!!!!! sebuah bom yang lumayan dahsyat meluluh lantakkan balkon vila itu semua teman-temanku yang berada di balkon itu gugur sekarang hanya kami bertiga yang tersisa.

“Mereka semua mati!!!” “Sekarang hanya kita bertiga bertahanlah, kita pasti selamat.”

“I..iyyaaa..”

Pukul 00.00 tanggal 12 Februari 2011

“Heh Vasily bawa Ekaterina pergi dari sini!! Cepat!! Aku akan melindungi kalian!!”

“Tapi, Leonov..”

“Hah sudah lah jangan hiraukan diriku cepat kalian berdua pergi kalau kita disini terus kita akan mati semua!! Ayo cepat peluruku sudah menipis!!”

Mereka berdua pun segera meninggalkanku.

Yaakk praktis hanya aku sendirian yang berjuang untuk nyawaku sendiri dengan peluru yang semakin menipis.

Duaaaaarrrrr!!!!! Peluru terakhir dan nyawa terakhir......


The End

Selasa, 21 Juni 2011

Peluru Terakhir part 2

Teman-temanku berteriak dan panik, namun tidak denganku.

Aku segera menarik tangan Ekaterina lalu melompat dari balkon setinggi kurang lebih satu setengah meter.

Dibelakang kami berdua, Vasily (sahabat dekat selama empat tahun) mengikuti jejak kami.

Kami bertiga segera berlari menuju sebuah persembunyian yang tak akan diketahui oleh para orang bersenjata itu, yaitu di semak-semak di samping vila.

Dari tempat kami bersembunyi terdengar dengan jelas para pemberontak itu berteriak.

“Kami pemberontak dari aliran kalpanaxisme. Kami ingin teman kami dibebaskan dalam waktu kurang lebih dua dikali dua puluh empat jam ditambah lima menit dikurang tiga puluh detik!!!!!”

Aku tidak tahu apa maksud mereka.

Hei Leonov, truknya tidak dijaga, ayo kita cek, siapa tahu ada telepon atau semacamnya.”

Vasily memang cerdas. Otaknya yang cemerlang selalu saja menolongku disaat-saat yang genting ini.

“Hmm ide yang bagus itu.”

Aku, Ekaterina dan Vasily yang bersembunyi di semak-semak pun keluar dan segera menggeledah truk yang tidak dijaga sama sekali karena para pemberontak sedang berada di balkon vila.

“Waahh ada senjata sniper dengan peredam suaranya dan ada dua senjata AK-47 hmmm kalian berdua bawa AK-47 ini, kita lumpuhkan mereka semua.”

“Tapi Leonov, senjata ini terlalu berat untukku…” Kata Ekaterina kepadaku.

“Ya sudah kalau begitu, kamu bawa pistol ini saja, kamu lindungi kami berdua dan jangan jauh-jauh dariku.”

I.. Iya.”

Kami bertiga pun mengendap-endap keluar dari truk dan keluar dari perkarangan vila lalu segera mencari tempat yang tinggi dan aman untuk melumpuhkan para orang bersenjata itu.

Lolongan anjing liar dan malam yang gelap menambah ketegangan kami bertiga.

Didalam benakku terpikir kalau sampai ketahuan oleh mereka mungkin nyawa kami akan melayang.

“Berhenti....sepertinya tempat ini cocok untuk tempat kita melumpuhkan mereka dengan sniper.”

Aku segera menyuruh Ekaterina untuk menunduk dan melindungiku lalu aku mengokang sniperku dan mengintip vila itu melalui teropong senjataku, terlihat bahwa orang-orang bersenjata itu berjumlah empat orang, bukan lima, ohh bukan ternyata ada sepuluh orang bersenjata yang menyandera teman-temanku aku pun mulai berpikir bahwa peluru sniperku ini hanya berjumlah 10 butir peluru dan aku lupa mengambil cadangannya di truk tadi, dilema pun menghampiriku.


To Be Continued.....

Senin, 20 Juni 2011

Peluru Terakhir

Tanggal 11 Februari 2011 aku mengikuti suatu acara di sebuah vila bersama teman-temanku yang berjumlah kurang lebih 105an orang.

Sempat muncul rasa menyesal karena disuruh bawa barang-barang yang lumayan banyak dan cukup menguras uang.

Oh ya namaku Leonov.

Pukul satu siang diadakan apel pembukaan acara tersebut di sebuah lapangan yang sangat besar.

Setelah itu kami pun berangkat menuju suatu tempat acara itu diadakan.

Di perjalanan serasa lama sekali karena bis yang kutumpangi pelan lihat saja bis yang lainnya sudah jauh berada didepan.

“Ini supir kok lamban bener nyetirnya ckckck keburu sore nih.” Pikirku.

Sesampainya disana hawa sejuk datang menghampiri hmmm gak sejuk-sejuk amat sih hehehe..

Saat kami melihat vila yang akan kami tinggali, semuanya bengong.

Hei, Vasily apakah Vila sebesar itu cukup untuk seratus-an orang??”

Aku tidak tahu yang penting bisa tidur.

Huuuu..

Vila itu terdiri dari tiga lantai, lantai paling atas ada beberapa kamar sedangkan di lantai dua ada balkon yang mengarah ke lembah bila kita melihat dari balkon itu kita bisa melihat pemandangan kota yang indah sekali ada juga kamar untuk pesertanya lalu lantai paling bawah ada lagi kamar untuk para peserta dan disebelahnya ada aula.

Sekitar pukul lima sore kami semua dikumpulkan, yang wanita dibagi kamar tidurnya sedangkan yang pria...

“Yaakkk yang pria nanti tidurnya di aula, sekarang ambil tas kalian lalu bawa ke aula.” Kata seseorang panitia acara lantang.

Kami pun segera menaruh tas kami di sebuah aula yang cukup besar untuk dimuati semua pria bahkan lebih nyaman daripada kamar yang digunakan oleh wanita karena kamar wanita sempit dan diisi oleh 21 orang!

Hei kita tidurnya di lantai?? tidak ada alasnya??” Tanyaku.

Tenang aja pasti ada, masa kita dibiarkan seperti Romusha hahaha.” Jawab Vasily.

“Terserah dirimu lah hahaha...”

Tiba-tiba mataku terpaku pada seorang wanita yang sudah kukenal sejak lama namun kami tidak begitu dekat, sebut saja namanya Ekaterina.

Saat malam tiba kami semua dikumpulkan ke balkon dan kebetulan sekali Ekaterina berada di sebelahku.

Wajahnya seakan-akan menyinari kegelapan malam itu, aku pun mulai tertarik padanya

Di tengah acara tiba-tiba datang lah beberapa truk dengan sangat kencang menabrak pintu pagar dan keluar lah beberapa orang bersenjata dari truk itu sambil berteriak.

“Jangan bergerak!!!!” Duaarrrr...


To Be Continued......

Minggu, 19 Juni 2011

Setua itu kah diri saya?

Baru kali ini benar-benar merasa tua setelah ibunya temen ku A.K.A Maria Bonita (ok saya bingung mau pake gue-aku-saya maklum jawa tulen gak enak klu pake gue jadi yahh pake aku dan saya aja ya) menanyakan saat pulang dari acara melayat.
"Eh kamu anak kelas tiga kan udah lulus,kan?"
"Hah? siapa tante?"
"Kamu.."
"Loh dia kan masih kelas sepuluh, ma." Potong Bonita
"Hoalah dikira udah lulus maaf ya."
"Ahh iya tante gapapa."
Si Linda, Eggy, (kebetulan jg ada) dan Bonita pun langsung tertawa melihat wajahku ini.

Apakah wajahku setua itu?? perasaan masih muda deh? apa mungkin karena jenggot dan kumisku ini? ahh tak taulah sejak saat itu jadi merasa ketuaan -_________-

P.S
Cerita Race Around The World terbit setiap seminggu atau 2 minggu sekali tergantung kesibukan penulisnya mungkin bisa dua bulan sekali

Jumat, 17 Juni 2011

Race Around The World 9

Dan seperti yang kita saksikan di layar televisi anda para pembalap menghentikan panser mereka karena cuaca yang sangat-sangat buruk ini…”

“Apa-apaan itu, lihat!! Tim Indonesia tetap melanjutkan perjalanan mereka!! Mereka sepertinya nekad sekali menantang maut!!!” Seru komentator kedua.

Apa ini?” Kata operator elektronik Amerika.

Hei hei ada apa??” Tanya pengemudi Amerika.

Di layar radar kita Tim Indonesia tetap melanjutkan perjalanan mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti tidak ada yang bisa menghalangi bahkan badai yang pekat sekalipun !!”

“Ahh biasa aja hahaha nanti juga mereka akan kebingungan jika memasuki daerah Kanada dan tentu saja Amerika hahaha.”

Di Tim Indonesia

“Nyeaahahahaha berkat radar dopler 3 dimensi generasi sepuluh bernama ‘MozzaDroplet’ ini kita bisa tetap jalan meskipun ada badai.” Kata Mozza.

“Benar-benar hebat kau, Moz hahaha saya salut.” Potong Tio.

“Sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan Alaska-Kanada.” Kata Dimas.

“Jalanan sepertinya mulai ditebali oleh salju, ban kita kemungkinan bisa slip lebih baik gunakan tombol C, Dik.” Saran Tio.

“Baiklah kita gunakan tombol C.”

Dika pun segera menekan tombol C dan keluarlah semacam paku-paku kecil di ban panser Indonesia.

Beberapa jam kemudian ketika Tim Indonesia telah mencapai Kanada tepatnya dekat ‘Kuane National Park’ badai salju yang menghadang Tim-tim lain di Alaska mulai mereda.

Yaaakkk sepertinya badai salju yang sangat dahsyat sudah mulai reda, pesawat UAV Global Hawk mulai diterbangkan kembali dan para Tim juga sudah melanjutkan balapan yang sangat panjang ini.”

Seperti yang kita lihat di map satelit, Tim Panser Indonesia sudah memimpin jauh disusul oleh Tim Amerika yang baru mencapai ‘Tanana Valley State Forest’, lalu Tim Rusia, Jerman, Polandia, Cina, Somalia, Jepang, Angola, dan Libya.”

Setelah mencari informasi ternyata Tim Indonesia menggunakan Radar yang bernama MozzaDroplets, radar inilah yang membuat mereka tetap bisa melanjutkan perjalanan di badai salju tadi.” Jelas Komentator kedua.

Tiga Jam kemudian.

Di Tim Malaysia

Sial kita ketinggalan ama indon bapuk itu, gunakan booster, kita kejar Amrik lalu hancurkan Indon!!!” Perintah Navigator Malaysia

Tim Malaysia dan Brunei pun bekerja sama menyingkirkan Tim-tim lain (kebanyakan ditembak bannya supaya terguling dan terhenti sementara untuk diperbaiki) hingga dengan cepat mereka mendekati Tim Amerika yang terlalu santai.

Waoouuww lihat Tim Malaysia mulai beringas mereka bekerja sama dengan Brunei untuk menyingkirkan tim-tim lain dan memotong jalur!!!”

“Seperti yang kita lihat dengan Global Hawk, mereka mendekati Tim Amerika!!!”

“Akhirnya kite dekat dengan Amrik itu, luncurkan roket!” Perintah pengemudi Malaysia.

Wuuusshhh wuuusshhh meluncurlah dua roket dari Malaysia dan Brunei ke arah panser Amerika.

RPG cepat menyingkir!!!”

Jduuuummmmm...kraaakkk...kraakkk (suara auto jack + jump jet)

Dengan sigap panser Amerika pun menghindar.

Keluarkan ranjau paku!!!” Perintah Navigator AS.

“Ranjau paku, awas!!”

Jduuuummmmm...kraaakkk...kraakkk (suara auto jack + jump jet)

Arrggghh hamper saja, cepet gunakan mini gun!!”Seru pengemudi Malaysia.

Drrrrttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!

Race Around The World 8

Di Tim Somalia.

Amerika sialan!!! Hei operator elektronik cepat tembakan RPG!!!” Perintah Mekanik Somalia

“Ok.”

Si orang Somalia pun keluar dari semacam pintu palka yang ada diatas panser mereka dan menenteng RPG.

Mati kau Amerika!!! hahaha

Wuuuuussssshhhhh!!!!!!!

RPG !!!!” Teriak operator elektronik Amerika.

Jdduuummmmm....kraaakkk...krrakkk

Panser Amerika terbang memutar untuk menghindari RPG somalia.

Wuuuussshhhh duarrr!!!

Sial meleset!!!”

“Tembak lagi!!!”

“Peluru kita cuma satu tadi, yang lainnya di mexico”

“Arrggghhh sial..!!”

Para Tim Negara saling beradu panser mereka mulai dari menabrak, menyenggol ke pinggir sungai, bahkan melempar granat ke panser lawan.

Setelah melewati beberapa panser lawan, panser merah putih berhadapan dengan panser negara Malaysia dan Brunei.

Heii lihat itu Tim Indonesia!!!” Seru Navigator Malaysia.

Tenang saja, kita akan hancurkan mereka hahahaha, sambungkan dengan Tim Brunei...” Kata Pembalap Malaysia.

Kita telah tersambung dengan Tim Brunei.” Sahut Ahli elektronik Malaysia.

Saudaraku mari kita hancurkan Tim Indonesia..”

“Roger..rogerr...”

Ngguuuuuoooonngggg brruuuuaaakkkkkkk panser merah putih di himpit oleh panser Malaysia dan Brunei.

“Woooo..sepertinya tim Malaysia bekerja sama dengan Brunei untuk menyingkirkan kita..!!!”

“Tenang saja, Moz hehehe.” Tawa Dika licik.

Jduuummm...kraakkk...krakkk..

Brruuuaaakkkk...Nguooonnnnnggg...

Tim Malaysia dan Brunei mempermainkan Tim Indonesia.

Badai yang sangat besar akan menghadang kita, Dik!!” Seru Moza.

“Itu dia yang kutungg-tunggu, kita gunakan badai besar itu untuk bersembunyi dari mereka..”

Lihat para tim terhadang oleh badai salju yang sangat pekat, mudah-mudahan saja mereka selamat dari badai salju itu..!!!”Seru komentator pertama.

Yapp...lima pesawat pengintai Global Hawk yang memberikan kita informasi tentang balapan secara visual mulai kembali ke pangkalan udara dan kita hanya bisa melihat mereka melalui peta online yang terhubung oleh satelit..”Sahut komentator kedua.

“ Kita hanya bisa melihat titik-titik di peta dimana para tim berada..ini sangat-sangat tidak menguntungkan bagi para penonton..”

Di Panser Indonesia

“Wohhooo jarak pandang kita sangat pendek sekali.” Kata Arsyan.

“Hehehehehe......

Memencet tombol A

Jduuuummmmm...kraaakkk...kraakkk (suara auto jack + jump jet)

Disaat Panser Tim Indonesia meloncat ke arah kanan datanglah badai salju yang pekat sehingga Tim Malaysia dan Brunei yang sedang menjepit Panser Indonesia kelabakan.

Arrrrggg mereka kabur..!!!”

“Lebih baik kita berhenti karena jarak pandang kita sangat tipis.”

“Hmm baiklah aku juga sudah mendengar bahwa peserta lainnya juga menghentikan panser mereka untuk menghindari kecelakaan.”

Namun Tim Indonesia tetap melanjutkan perjalanannya karena mereka memiliki radar dopler 3 dimensi yang dapat memetakan kondisi jalan di depan mereka dalam cuaca yang sangat buruk sekalipun.