Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Senin, 28 Mei 2012

Three Kingdom 16


Di pihak Kerajaan Vazor.
Raja Vanto yang berada diatas kuda di temani oleh para Jenderal, Kapten dan Dukun Vazor berorasi di depan Prajuritnya.
“Saudaraku, sekarang lah saatnya kita basmi Kerajaan Razor!! Raja Razor telah menculik Putri Vidyani!! Mereka menantang kita untuk berperang dengan datang ke perbatasan kita dan membawa pasukannya! Tiada ampun bagi mereka!!!!!” Kata Raja Vanto berapi-api. “Hoooiiii!!!!” Sahut para pasukan Vazor. “Baik lah sesuai dengan strategi yang telah kita buat, Jenderal Dimas Pasukan Schutze berada di barisan paling belakang mendukung pasukan Tiberiun, Kapten Tiberiun kau tunggu perintah saya untuk menggerakan pasukanmu, Jenderal Mahadika gerakan Pasukan Centaurion ke belakang dan memutar menuju balik hutan yang berada disisi kanan kita itu dan kau harus terlihat seperti kembali ke Kota Vazor supaya tidak ada yang mencurigainya,  Jenderal Arif Pasukan Lexcron mu melindungi Pasukan Zioner dan Calisto, Kapten Zioner tembakan ‘catapult-catapult’ itu selagi Pasukan Kodoknya Dukun Tio bergerak dan kau Dukun Tio Pasukan Kodokmu menyerang mereka dengan frontal untuk mengaburkan pandangan mereka terhadap Pasukan Centaurion dengan di lindungi oleh ‘catapult’.” Perintah Raja Vanto.
“Baik Yang Mulia.” Sahut para Jenderal, Kapten dan Dukun Vazor. 
para Jenderal dan Kapten Vazor kecuali Dukun Tio kembali ke pasukan masing-masing.


“Hmm Yang Mulia, nama pasukan saya bukan kodok tapi odong-odong.”
“Oh iya maaf, saya ingatnya kodok hehehe.” “Ahhh raja ini, oh iya apakah Raja ingin mencoba ramuan kuat saya ini?”
“Hmmm...tidak perlu saya adalah Raja dan Prajurit Sejati saya tidak akan menggunakan ramuan apapun untuk memenangkan suatu pertempuran, melainkan dengan kekuatan sendiri.” Jawab Raja Vanto.
“Hmm apa yang dikatakan Raja Vanto itu benar....ahh gak usah pake ramuan ini deh mending dengan kekuatan sendiri.” Kata Tio.
Ia pun segera menuju barisan pasukan odong-odong.
“Pasukan Odong-odong!!!”
“Hooiii...!!”
“Maju jalan...!!!!!hunuskan tombak, bila sudah mendekati musuh tembakan odong-odong.!! “Haigg!!!” Prookk..prok..prok...prok...
Di Pasukan Zioner.
“Tembakan Catapult..!!!” Perintah kapten Zioner.
“Hoiii..!!!” Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! melesatlah batu-batu dari catapult Zioner.
Wuuussshhhh bummm..bumm..buumm... “Aaaarrrggggghhh” Pasukan Razor bertumbangan akibat terkena lemparan batu dari ‘catapult’ Pasukan Zioner
Di pihak Razor.
“Heeiiiiii...Jenderal Kevin cepat perintahkan Kruppen (Pasukan sejenis Zioner) untuk membalas tembakan catapult mereka...!!!!” Perintah Raja Arsyan.
“Baik yang mulia. Kruppen, Tembaakkkk!!!”
“Haiigg.”  Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! melesatlah batu-batu balasan dari catapult Kruppen.
Wuuussshhhh bummm..bumm..buumm... “Aaaarrrggggghhh”
“Pasukan odong-odong, tetap dalam formasi kita sudah mendekati musuh !!!”
“haiiiggg.”
“Mereka tetap tak bergeming CUIH...Jenderal Kevin gerakan Truppen Klinge (Pasukan Infantri utama sekelas dengan Pasukan Tiberiun) kita dan taruh Truppen Speerwerfer (Pasukan Pelempar Lembing) diantara mereka.”
“Baik yang mulia. Pasukan majuu!!!”
“Hoooiii..!!!”
Prookk..prok..prok...prok...
Disaat kedua pasukan mulai mendekat diselingi oleh hantaman batu catapult Pasukan Centaurion bergerak mundur.
“Pasukan..!! mundur...!!” Perintah Jenderal Mahadika.
Prrr...kedebuk...kedebukk..
“Hei hentikan Kruppen.”
“Baik yang Mulia. Kruppen hentikan tembakan!!!” Kata Jendera Kevin.
Pihak Vazor pun turut menghentikan tembakan Pasukan Zionernya.
“Kita sudah mendekati musuh, tembakkan odong-odong!!!!” Perintah Dukun Shidiq.
Dong..dong...dong...dong...melesatlah ribuan panah dari senjata odong-odong..
(Karena suara dari senjata busur ‘dong’ maka pasukan dan senjata tersebut diberi nama odong-odong)
“Arrgggghhhh.....!!!!!”
Pasukan Razor berjatuhan.
“Heiii cepat lemparkan lembing kalian!!!!!” Perintah Kapten Razor. Wuuukkkkkkk.......
“Rapatkan perisai!!” Perintah Dukun Tio.
Duaannnngg..braakkk.... “Arrrggghhhh!!!”
“Pasukan Tombak, Formasi Phalanx...serangggg!!!!,  pasukan odong-odong serang dengan derajat tinggi.” Perintah Dukun Tio.
“hoooooooo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Pasukan Tombak bersemangat.
“Truppen Klinge buat pertahanan!!! Truppen Speerwerfer, tembak terus!!!” Perintah Kapten Razor.
Pasukan tombak odong-odong terjatuh dan terlempar akibat hantaman lembing, namun mereka tetap menyerang dengan tombak mereka yang panjang dan membentuk Formasi Phalanx.
Bruuuaakkk.....dong..dong..dong...trang...trung...tring...
Akibat Tombak pasukan odong-odong yang panjang, pasukan Razor tidak dapat menyerang mereka karena jangkauan pedangnya yang pendek.
Dengan mudah pasukan otok-otok memukul mundur Truppen Klinge dan Truppen Speerwerfer, tombak mereka bagaikan sebuah tusuk sate yang menusuk hingga 5 orang sekaligus.
“Raja Arsyan, Truppen Klinge dan Truppen Speerwerfer sudah tidak kuat lagi menahan pasukan odong-odong itu.” Kata Jenderal Kevin.
“Hmm kalau begitu perintahkan mereka mundur dan keluarkan pasukan terkuat kita untuk menghancurkan mereka”
“Baik yang mulia. Cepat tiup trompet tanda mundur.”
“haigg.”
Tet...tet...tet...tet...tet.tet.tetetetetet
“Hah suara itu, Truppen Klinge dan Speerwerfer cepat mundur!!!” Perintah Kapten Razor.
Dengan tergesa-gesa pasukan Razor mundur.
“Hah mereka mundur Hahahaha...kita menang, kemenangan milik kita!!!” Kata Dukun Tio.
“Wah tak kusangka pasukan odong-odong kita hebat sekali.” Kata Raja Vanto.
“Tapi jangan senang dahulu Yang Mulia, sepertinya itu hanyalah taktik mereka.” Sahut Jenderal Arif.
“Hmm sepertinya begitu, kita lihat saja kejutan apa yang mereka berikan kepada kita.”

To Be Continued

Jumat, 25 Mei 2012

Three Kingdom Part 15


Di Kerajaan Amhcar di saat yang bersamaan.
“Huaammm...uuuenaknya abis tidur siang, wah udah gelap nih saatnya makan malam hahahaha...” Kata Raja Rico/Adzie.
Tiba-tiba..duuuaaarrrrrr..!!!! drrtttt!!  terjadilah gempa bumi lokal.
Bruuuaakkk kasur yang dipakai oleh Raja Rico/Adzie pun rusak kdebbuukkk!!
 “Addooouuuwww sakit!!” Rintih Raja Rico/Adzie.
Ia pun segera bangun dan berlari menuju balkon istana.
“Heiiii pengawal apa yang terjadi??!!” Teriak Raja Rico/Adzie.
“Sepertinya ada sebuah meteor menghantam tanah pertanian kita, yang mulia.”
“Hmm kalau begitu perintahkan prajurit Amhcar untuk mengecek.”
“Baik yang mulia!” Seru sang pengawal.
Para prajurit kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Arum dari Amhcar (Isitilah keren : General Arum of Amhcar) pun segera mengecek penyebab gempa lokal tersebut sambil membawa obor.
Sesampainya di tempat kejadian gempa lokal (TKGL).
“Stoppp!!” Seru Jenderal Arum.  
Para prajurit Amhcar pun tertegun melihat sebuah kawah besar. “Wah ini namanya bencana, kita akan mati!!” Teriak seorang prajurit histeris.
Prajurit lainnya pun mulai merasa takut.
“Kalian tenang!!! sekarang kita ambil batu meteor itu, siapa tahu bisa di manfaatkan.” Perintah sang Jenderal Arum.
“Ba..ba..baiikk..” Seru para prajurit.
“Wah ini batu meteor kok kecil amat?? seperti batu biasa wujudnya?” Tanya seorang prajurit.
“Mana saya tahu yang penting batu ini kita bawa ke Raja Rico.” Jawab Jenderal Arum.
Sebenarnya batu itu adalah batu yang dilempar oleh Dukun Tio. Namun akibat pengaruh obat kuat batu itu terlempar hingga nun jauh ke Kerajaan Amhcar dan mengakibatkan gempa lokal.
Dan para prajurit Amhcar pun segera kembali ke istana untuk menunjukan batu meteor tersebut kepada Raja Amhcar.
“Raja kami membawa batu meteor yang menyebabkan gempa dan mungkin saja ada manfaatnya untuk menyerangan Kerajaan Vazor.” Kata Jenderal Arum.
“Hmmm bagus-bagus, sekarang teliti batu itu dan cari manfaatnya, aku ingin menaklukan Kerajaan Vazor.”
“Tapi siapa yang bisa meneliti batu ini, Yang mulia??”  
“Hmmm siapa ya??”
“Saya tahu siapa yang bisa meneliti batu ini, yaitu penyihir C.A.P, ia adalah penyihir sekaligus tabib yang hebat di kerajaan ini.” Sahut Putri Raras.
“Hmm...baiklah anakku, aku turuti saranmu. Sekarang kau antar Jenderal Arum ke penyihir C.A.P.”
“Baik, Ayahanda.” Jawab Putri Raras.
Putri Raras pun segera mengantar Jenderal Arum yang membawa batu tersebut ke Penyihir C.A.P. (Candra Anisa Puspitasari saingannya Dukun Tio).
“Ada apa malam-malam begini mendatangi saya??” Tanya Penyihir C.A.P.
“Saya minta bantuannya untuk menerawang batu ini, batu ini berasal darimana dan adakah manfaatnya?” Tanya Putri Raras. “Hmmm (menggenggam batu tersebut) batu ini berasal dari padang rumput kerajaan Vazor dan di lempar oleh dukun yang bernama Tio. Dukun itu mempunyai resep ramuan yang dapat membuat orang menjadi kuat seperti gajah, aku harus mendapatkan resep ramuan itu!” Kata Penyihir C.A.P.
“Bagaimana caranya mendapatkan resep itu?”
“Saya masih belum tau hehehe, yang pasti kalau ingin menghancurkan kerajaan Vazor, kita harus mendapatkan resep ramuan itu.” Jelas Penyihir  C.A.P.
“Hmm..bagaimana kalau besok kita intai peperangan antara Kerajaan Vazor dan Kerajaan Razor di perbatasan, siapa tau kita bisa menemukan kelemahan Dukun Tio?” Usul Jenderal Arum.
“Ide yang bagus itu, nanti saya akan meminta izin kepada Raja untuk tugas pengintaian ini.” Sahut Putri Raras.
“Baiklah akan kupersiapkan pasukan pengintai.”
Putri Rarassegera memintai Izin kepada Raja Rico/Adzie dan Izin tersebut diberikan oleh Raja Rico/Adzie.
Keesokan harinya pasukan pengintai yang dipimpin oleh Putri Raras, Jenderal Arum, dan Penyihir C.A.P.  berangkat menuju perbatasan dimana terjadi peperangan antara Kerajaan Razor dan Vazor.

To Be Continued

Three Kingdom Part 14


“Haduh...lama sekali mereka, brrr....keburu mati kedinginan nih...” Kata Dukun Tio. 
Akibat tidak sabar menunggu Dukun Shidiq mulai membuat eksperimen-eksperimen aneh lainnya dengan bahan yang ada di sekitarnya. 
“Hmm akhirnya bisa membuat bubuk ramuan tolak mati. Ramuan yang bisa membuat orang menghindari kematiannya, terbuat dari akar panu, kutil katak, lumut pohon, dan setetes keringatku. Wah, harus di catat nih biar gak lupa.” 
Ia pun mulai mencatat berbagai ramuan yang telah ditemukannya mulai dari ramuan tolak mati, ramuan tolak loyo, ramuan mati rasa, ramuan terima berkah, ramuan pengemis, dan lain-lain di secarik kertas yang ia bawa dan ia teringat bahwa ia membawa resep ramuan kuatnya. 
“Waduh kenapa gak dari tadi ya kubuat ramuan kuat ini...hmm (membaca resepnya) ramuan ini terdiri dari kutil kuda, kutil nyamuk, kutil cecak, kutil sapi dan yang terakhir kutilku sendiri. Wah kalau kutil hewannya sih sudah kubawa tapi kutil di tubuhku sudah tidak ada, hah resep ini kok aneh banget, sepertinya harus dicari penggantinya nih. Aha ganti saja dengan keringat, siapa tahu bisa lebih kuat dari pada yang tadi.” 
Dukun Tio pun mulai membuat resep ramuan kuatnya yang terdiri dari kutil kuda, kutil nyamuk, kutil cecak, kutil sapi, dan setetes keringatnya sendiri. 
Duuaarrr.. “Beh kenapa sih setiap buat ramuan selalu meledak? hah yang penting jadi deh, sekarang saatnya mencoba.”  
Ia pun memakan bubuk ramuan kuatnya. Jegleerrr..
Dukun Tio pun berubah menjadi orang kuat.. “Hohohoho..berhasil juga, sekarang akan kucoba menghancurkan pohon ini huahahaha...” 
Jeddduuuuukkkkk....!! “Adddoooouuwwww...sakit!!!” Teriak Dukun Tio.
Tiba-tiba pohon yang di pukul oleh Dukun Tio roboh..kkkrrrraaaakkkkk kaboouummmm!!! 
“Wahhh berhasil rupanya ramuan kuat ini hahaha. Sekarang aku harus lari ke kemah Raja Vanto..” 
Sreeettt...sreettt Dukun Tio mulai mengambil ancang-ancang dan wuuuussshhhhh.....kabummm....gussrraaakkk!!! ia tersandung batu dan terjatuh. “Aaaooouuuuwwww.....setan nih batu!!!” ia pun bangun dari jatuhnya, mengambil batu yang membuat ia tersandung dan melemparnya....ngguuuiiiinnggggg........!!! “Widih jauh amat tuh batunya?? ahh masa bodo lah yang penting sekarang ke perkemahan Raja Vanto dulu.” Pikir Dukun Tio. 
Dukun Tio pun mulai mengambil ancang-ancang lagi. Sreeettt...sreettt.....wuuuussshhhhh....nguuuoooongggg....
Ia berlari dan meninggalkan jejak debu yang sangat tebal.

Di perkemahan.
“Loh Dukun Tio kemana?” Tanya Raja Dzaki.
“Waduh..gara-gara membicarakan strategi perang sampai lupa kalau kami meninggalkan Dukun Tio di padang rumput.” Jawab Jenderal Mahadika.
“Kalau begitu kalian jemput dia.”
“Baik yang mulia.”
Namun Dukun Tio sudah tiba di perkemahan sambil terengah-engah dan dibelakangnya banyak jejak debu berterbangan dan tenda-tenda prajurit porak poranda.
“Wah Dukun Tio udah datang...baru saja kami mau menjemputmu.” Kata Jenderal Mahadika
“Hah lama sekali kau, aku sampai kedinginan nih...bagaimana rapat strateginya?”
“Hahaha loh kok tau kalau kita habis membicarakan strategi perang?”
“Ya iya lah namanya juga dukun.”
“Hei Dukun Tio..!!!” “Ada apa yang mulia. Sepertinya anda marah?”
“bagaimana tidak marah, liat tuh belakangmu!!”
Dukun Tio pun melihat kebelakang dan ia pun terkejut.
“Waouuuwww...tendanya porak-poranda...hmm baiklah yang mulia, akan saya bereskan tenda-tenda itu.” Kata Dukun Tio lemas.

To Be Continued

Rabu, 16 Mei 2012

Three Kingdom Part 13


“GALOP INFERNAL
Ce bal est original 
d'un galop infernal 
donnons tous le signal!
Vive le galop infernal! 
Donnons le signal 
d'un galop infernal!
Amis, vive le bal!
La la la la la!!!!!! 





 Dukun Tio pun bernyanyi selagi membuat ramuan anehnya..tiba-tiba duarrr....!!!
“Wuaahhhh ngaduknya kebanyakan gara-gara keasyikan nyanyi....yah muka ane gosong dah...ahhh..sialan....hmm yang penting ramuannya sudah jadi...” Kata Dukun Tio. 
Ia pun segera meminumkan ramuan itu kepada Ksatria Dika dan Arif. “Kok gak ada efeknya sih??? apa ane salah masukin bahannya, coba ahhh kayaknya enak deh..(meminum ramuan aneh itu) Hueeekkk....aneh sekali rasanya tapi hmm kok rasanya beda ya sama ramuan pembangkit nyawa (melihat bahan-bahannya) waduh...bahannya kelebihan satu yaahhh ini mah bukannya jadi ramuan pembangkit nyawa malah jadi ramuan kuat.” Kata Tio dalam hatinya.
Tapi Dukun Tio kaget karena ramuan itu berhasil membangkitkan nyawa Ksatria Dika dan Ksatria Arif. “Wihhh ...ramuannya berhasil....horayyy...!!!!” Teriak Dukun Tio.
“Hah...saya hidup kembali...!!!” Teriak Ksatria Arif. “Yayayayaya...tapi kok rasanya ada yang aneh ya dimulutku???” Tanya Ksatria Dika. “Ahhh sudahlah jangan dipikirkan sekarang kita susul Raja Vanto dan para pasukan di Perbatasan Razor-Vazor.” Jawab Dukun Tio. “Hahh..emang ada apa Raja Vanto ke perbatasan??” Tanya Arif. “Kita akan berperang dengan Kerajaan Razor karena mereka telah menculik Putri Vidyani.” Jelas Dukun Tio. “Kalau begitu ayo kita susul mereka.” Sahut Ksatria Dika.
Lalu mereka bertiga segera menuju ke kandang kuda. 
“Loh kemana kudaku??” Tanya Ksatria Dika. “Mana kutahu mungkin dibawa sama Raja Vanto kali...” Jawab Arif asal. “Bagaiman kalau kita lari saja??” Usul Dukun Tio. “Aaahhhh gewla...dari sini ke perbatasan kan jauh, pake kuda aja butuh setengah hari..” Sahut Ksatria Dika. “Tenang saja berkat ramuan kuatku kita tidak akan kelelahan walaupun lari selama dua hari nonstop.” Jelas Dukun Tio. “Wahh..keren juga tuh, ayo...”Kata Ksatria Dika. “Ok pada abal-abal...”Kata Dukun Tio. “Aba-aba kali bukan abal...” Potong Ksatria Dika. “Owh iya...pada aba-aba yg ketiga kita lari sama-sama...1..2...3....yak...!!!”
Mereka bertiga berlari meninggalkan Kota Vazor dan menuju Perbatasan Razor-Vazor tanpa disadari mereka berlari bagaikan badai dan memporak porandakan kota Vazor.
Nggguooooooonnggggg......!!!!!!!!!!!!!!!!

Sayang akibat ramuan kuatnya Dukun Tio belum sempurna, kekuatan mereka menghilang di tengah perjalanan. 
“Hei...hei kok kita melambat??” Tanya Dika. 
“Aku tidak tahu..” Dukun Tio mengangkat bahunya. 
“Haduh...gimana dong jarak kita dari pasukan Raja masih jauh ini..” Sahut Arif. 
“Oh iya baru ingat, Dukun Tio kan pernah memberikan sebuah peluit pemanggil kuda, kalau ditiup bakal datang kuda kesayangan kita. Sejauh apapun jaraknya pasti akan datang....” Jelas Dika. 
“Iya saya tahu itu..cepat kau tiup peluitnya.” Potong Dukun Tio.
Dika pun meniup peluitnya dan dengan sekejap datanglah kuda kesayangan Dika dan Arif.
“Loh kok cuma dua yang datang??” 
“Ini peluit kan cuma bisa memanggil kuda milik kami berdua saja.” Jelas Dika kepada Dukun Tio

Mereka berdua pun menaiki kudanya.

“Hei..hei..saya naik apa dong??” Tanya Dukun Tio. 
“Eh iya ya, kalau kudaku gak mungkin di naiki dua orang soalnya kamu berat, Yo. Eh kau saja, Rif yg naik berdua sama Dukun Tio.” 
“Eh enak saja, ini kuda juga kasian kalau di naiki berdua.” Arif menggelengkan kepalanya. 
“Ya sudahlah kamu tunggu disini aja nanti kita jemput lagi sambil membawa 1 kuda.” Kata Dika. 
“Hmm baiklah...” Dukun Tio pun menyerah dan ditinggallah ia di tengah-tengah padang rumput yang begitu luasnya. 
Dibawah sinar matahari yang mulai tenggelam dan langit yang memerah ia menunggu mereka berdua di atas batu. 
Kedebuk...kdebuk..kdebuk..prrr....
Akhirnya kedua Ksatria itu sampai di perkemahan dimana para Prajurit Vazor beristirahat dan menunggu esok hari untuk berperang. 
“Kami ingin bertemu dengan raja.” Kata Dika kepada pengawal raja. “Tunggu sebentar.” Sang pengawal pun masuk ke dalam tenda Raja Vanto.
“Raja, Panglima perang kita telah datang!” Seru pengawal raja. 
“Suruh mereka masuk.” 
“Baik yang mulia.” Si pengawal pun keluar dari tenda dan mempersilakan kedua Ksatria itu masuk. 
Di dalam tenda kedua ksatria itu mulai membicarakan strategi perang dengan Raja Vanto dan lupa dengan Dukun Tio yang ditinggal sendirian di tengah hamparan padang rumput yang luas, gelap dan dingin. 


Selasa, 15 Mei 2012

Three Kingdom Part 12


Akhirnya Ksatria Kevin beserta beberapa prajurit berkudanya menuju celah Khuber.
Di waktu yang bersamaan didepan istana Bogor eh salah Vazor.
“Bolehkah saya minta tolong??” Tanya Raja Vanto. “Silahkan yang mulia.” Jawab Dika. “Seperti biasa, antarkan adik tiri saya ke celah Khuber.” Perintah Raja Vanto. “Baik yang mulia. Ayo Rif.” Kata Dika. “Ok..” Sahut Arif.
Mahadika, Arif, dan Putri Vidyani pun berkuda menuju celah Khuber (Khuber pass (harusnya Khyber pass)).
Bagi kedua ksatria dan sang Putri ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Seperti biasa sang Putri tak henti-hentinya membicarakan betapa indahnya pemandangan di perjalanan. “Wah indahnya pohon itu, wah blablablablablabla................” Kata Putri Vidyani. “Haduh ini putri kenapa sih tidak bisa diam, dari dulu hingga saat ini dan sejak dari Kota Vazor hingga sekarang masih aja ngoceh??” Bisik Dika. “Ahh sudah lah namanya juga putri bawel.” Balas Arif sambil berbisik.
Sesampainya di celah Khuber pass mereka pun beristirahat menunggu sore hari, sayangnya mereka diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Ksatria Kevin.
Trang...tring...trung.....
Terjadilah duel antara Ksatria Vazor melawan Ksatria Razor (Putri Vidyani juga ikut bertarung loh).
Akibat kalah jumlah kedua Ksatria Vazor itu pun kalah dan mati sedangkan sang putri tertawan. “Hauhauhauhau....akhirnya kalian mati juga, sudah kutunggu-tunggu hari istimewa ini..hauhauhau...” Kata Ksatria Kevin.
Ksatria Kevin membawa Putri Aprilia ke Kota Razor.
 Selama di perjalanan sang putri tidak henti-hentinya mengoceh hingga membuat para Ksatria Razor kesal dan menyumpal mulutnya. Namun tanpa disadari Kuda para Ksatria Vazor menyeret kedua Ksatria Vazor tersebut kembali ke Kota Vazor.

Sesampainya di kota Razor, di dalam Istana. 
“Raja Arsyan saya telah membawa Putri Vidyani!!!!” Teriak Ksatria Kevin. “Ohh..bagus..bagus tapi kenapa mulutnya disumpal??” Tanya Raja Arsyan. “Suaranya itu loh yang mulia, bisa memekakan telinga.” Jawab Ksatria Kevin. “Ahh...masa, coba kamu lepasin sumpalannya.” Perintah Raja Arsyan. “Hmmm baiklah kalau raja tidak percaya (melepas sumpalannya Putri Vidyani).” 
“Aaaaaaaaaaaaa........dasar kalian tak tahu diri, berani-beraninya menculik saya...kakakku tidak akan membiarkan kalian hidup, sebentar lagi kalian akan binasaaaaaaaaaaaaa.......!!!!!!!!!!” Teriak Putri Vidyani. “Aaa...cepat sumpal lagi mulutnya.....!!!(kedubrak)” Teriak Raja Arsyan. 
Ksatria Kevin segera menyumpal mulutnya. 
“Haduh...Raja Arsyan sampai pingsan gara-gara mendengar teriakan putri ini. Pengawal!!!bawa putri ini ke ruang bawah tanah.” Perintah Ksatria Kevin. “Baik.” Sahut seorang pengawal kerajaan. “Bagaimana ini caranya membangunkan raja???......(Galon aqua jatuh ke atas kepalanya Kevin..duangg..!!)Haduh...aha disiram pake air...” Kata Ksatria Kevin. 
Ia pun segera menyiram air dari galon aqua yang diberikan oleh penulis ke Raja Arsyan byurrr..... “Huah..banjir..banjir....hah..hah...apa yang terjadi...??” “Raja tadi pingsan setelah mendengar teriakan Putri itu. Oh iya, pasukan kita telah siap untuk dibawa ke perbatasan Razor-Vazor.” “Owh...hah..hah.....ya sudah tunggu apalagi sekarang kita pimpin pasukan ke perbatasan Razor-Vazor.” “Baik.” 
Di luar istana. “Sekarang lah saatnya kita membalas kekalahan kita terhadap Kerajaan Vazor, kita akan bawa mereka ke pertempuran terbuka di perbatasan Razor-Vazor. Maju Jalan!!!!!!”Kata Raja Arsyan “Haig..!!” 
Prok..prok... Prokk..prok..prokk...kdebuk...kdebuk...kdebuk...jreeekkk....

Di Kota Vazor di dalam istana di saat yang bersamaan. “Hah....sepertinya aku punya firasat buruk.” Kata Dukun Tio. “Raja...!!!!!!!!!!!!!!!!!! kedua panglima kita telah pulang dalam keadaan sekarat, sekarang mereka ada di balai pengobatan.” Teriak seorang prajurit. “Tuh kan.” “Hah...udah jangan banyak bicara, sekarang kita ke balai pengobatan.” Kata Raja Vanto. 
Sesampainya di balai pengobatan. 
“Apa yang terjadi??” Tanya Raja Vanto. Kaa.....mii.......Ekkkhhh (meninggal dunia).”Rintih Ksatria Dika. “Yah nih orang cepet amat matinya??? gak tahan banting..ckckckc...”Sahut Dukun Tio. “Kan masih ada si Arif.” “Oh iya ya..” “Apa yang terjadi, Rif??” Tanya Raja Vanto kepada Arif. “Ekkhhh (meninggal dunia)..” “Ya elah yang ini malah ikut-ikutan nyusul..ckcckckkc..bila ku mati kau juga mati dah.... ” Sahut Dukun Tio lagi. “Hah elah dasar ksatria kok abal semua...dan sekarang ada dimana adik tiri saya !!!??? (Sambil menggoncang-goncangkan tubuh Ksatria Dika yang sudah gugur)” Raja Vanto mengamuk.
“Raja!!!!!!!!!!!!!!” Teriak seorang prajurit. “Ada apa lagi ini hah???!!” “Kami melihat pergerakan Pasukan Razor yang dipimpin Raja Arsyan menuju perbatasan Razor-Vazor.” “Apa!!!, kalau begitu cepat persiapkan pasukan kita.” Perintah Raja Vanto. “Baik yang mulia.” Sahut sang prajurit. 
Teng...teng..teng..teng..(suara bel tanda prajurit Vazor harus bersiap-siap perang)
“Hmmm...pasti Raja Arsyan yang menculik Putri Vidyani.” Kata Dukun Tio. “Sepertinya begitu..kita tidak mungkin memimpin pasukan kita tanpa para panglima perang ini..” Sahut Raja Vanto. “Raja tenang saja saya bisa membangkitkan mereka dengan ramuan saya.” Kata Dukun Tio. “Ramuan apa itu???” Tanya Raja Vanto. “Ramuan kutil pembangkit nyawa hehehe....ramuan ini terdiri dari kutil kuda, kutil nyamuk, kutil cecak, kutil sapi dan yang terakhir kutil saya sendiri...” Jawab Dukun Tio. “Ya sudah sana cepat buat ramuan aneh itu, saya akan memimpin pasukan ke perbatasan.” “Ok yang mulia..oh iya yang mulia Pasukan Odong-odong saya harus berada di garis terdepan dari pasukan lainnya karena mereka dengan pimpinan saya akan maju terlebih dahulu.” Sahut Dukun Tio. “Ya....” Sahut Raja Vanto. “Hmmm..sebenarnya saya bingung apa yang dia bicarakan tapi biarlah yang penting pasukan odong-odong harus berada di garis terdepan.” Kata Raja Vanto dalam hatinya.
Raja Vanto pun segera memimpin pasukannya menuju perbatasan Vazor sedang kan Dukun Tio membuatkan ramuan kutil pembangkit nyawa itu untuk menghidupkan kembali nyawa kedua Ksatria Dzazor. 

Three Kingdom Part 11

Dua jam kemudian. “Hah pemilihan sudah selesai, sekarang kita lihat hasilnya.” Kata Raja Vanto. “Hmm....yap hasilnya rakyat Baby Hui memilih menetap, mulai sekarang mereka menjadi Rakyat Vazor.” Jelas Dukun Tio. “Cepat amat ngitung hasilnya??” Tanya Ksatria Dika. “Dukun gitu loh..ini mah enteng.”Jawab Dukun Tio.
Selama 5 tahun Kerajaan Vazor membangun pasukan dan kotanya.
Kemudian terbentuklah 3 kerajaan yang sangat kuat yaitu Kerajaan Baby Hai yang berganti nama menjadi Razor dengan Raja Arsyan di Timur dengan Kota Bentengnya, Exortus, Kerajaan Vazor dengan Raja Vanto di Selatan dengan Kota Bentengnya, Austrum dan Kerajaan Amhcar di Utara dengan Raja Rico yang telah dirasuki oleh Adzie The Almarhum dengan Kota Bentengnya, Aquilonem.
“Yang mulia saya sudah membuat nama-nama baru bagi pasukan kita, ini daftarnya (memberikan sebuah gulungan).”Kata Dika.

Calisto (Kavaleri Raja)
Pemimpin : Raja Vazor
Anggota : Keluarga Raja Vazor
Jenis : Kavaleri berat
Senjata : Tombak, pedang, perisai, dan sangat-sangat terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Calisto'

Centaurion (Kavaleri pengawal raja/kavaleri pemanah)
Pemimpin : Panglima perang (Mahadika)
Anggota : Orang terhormat/Bangsawan
Jenis : Kavaleri berat
Senjata : Tombak, pedang, perisai, busur, anak panah dan sangat-sangat terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Centaurion'

Lexcron (Kavaleri utama)
Pemimpin : Panglima perang (Arif)
Anggota : Rakyat Vazor
Jenis : Kavaleri menengah
Senjata : Tombak, pedang, perisai, dan lumayan terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Lexcron'

Schutze (Pasukan pemanah)
Pemimpin : Panglima perang (Dimas)
Anggota : Rakyat Vazor
Jenis : Infanteri pemanah
Senjata : Busur, anak panah, dan pedang
Ilustrasi Pasukan 'Schutze'

Tiberiun (Infanteri utama)
Pemimpin : Kapten
Anggota : Rakyat Vazor
Jenis : Infanteri berat
Senjata : Pedang, perisai, lembing dan sangat-sangat terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Tiberiun'

Zioner (Pasukan zeni/medis)
Pemimpin : Kapten
Anggota : Rakyat Vazor
Jenis : Pasukan bantuan/pasukan pembuat mesin perang
Senjata : Pedang, Trebuchet, peralatan medis (perban dan obat-obatan) dan tidak terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Zioner'

Militia (pasukan milisi)
Pemimpin : Kapten
Anggota :Rakyat Vazor yang tinggal di desa yang berada dibalik Hutan Babi
Jenis : Infanteri ringan
Senjata : Pedang, perisai, dan lumayan terlindungi
Ilustrasi Pasukan 'Militia'

Odong-odong army (Infanteri keberatan)
Pemimpin : Dukun (Tio)
Anggota : Rakyat Vazor
Jenis : Infanteri keberatan bawaannya
Senjata : Pedang, Tombak sepanjang 2 meter, lembing, odong-odong, perisai, busur, anak panah dan lumayan terlindungi

Setelah membaca gulungan tersebut Raja Vanto terlihat kebingungan. “Ada apa yang mulia??” Tanya Dika. “Hmm...sebenarnya Odong-odong army itu apa ya???” Tanya balik Raja Vanto. “Owh itu pasukan yang dibentuk oleh Dukun Tio, saya sendiri juga tidak tahu apa itu senjata odong-odong.” Jawab Dika.
“Yah masa gitu aja gak tau.” Sahut Dukun Tio. “Emang apaan sih odong-odong itu???” Tanya Arif. “Ada deh.” Jawab Dukun Tio.
*Sebenarnya senjata Odong-odong itu adalah sebuah Crossbow.
Sekarang kita beralih ke Kerajaan Razor....
“Huahahahahahaha...I’m King of the world, sekarang saya akan membalas kekalahan saya ke Kerajaan Vazor, Ksatria Kevin tolong jelaskan strategi untuk menghancurkan kerajaan Vazor yang telah kau buat.” Perintah Raja Arsyan. “Baik, seperti yang telah kita ketahui (pidato nih). Kerajaan Vazor memiliki kota benteng yang sangat kuat, temboknya sangat sulit untuk dihancurkan dengan trebuchet. Dengan strategi pengepungan juga sangatlah tidak menguntungkan karena mereka memiliki mata air tersendiri di dalam kota, yang lebih mengerikan lagi mereka masih punya pasukan di balik rimbunnya Hutan Babi. Pasukan ini disebut pasukan milisi atau gerilyawan, jika kita mengepung mereka mungkin saja saat malamnya justru kita yang diserang oleh pasukan milisi. Saran saya lebih baik bawa mereka ke pertempuran terbuka.” Jelas Ksatria Kevin. “Hmmm....tapi bagaimana caranya membawa mereka ke pertempuran terbuka??” Tanya Raja Arsyan. “Hmmm....nah itu dia, saya sampai sekarang pun masih memikirkan caranya...” Jawab Ksatria Kevin. Mereka berdua pun berpikir, hingga satu minggu lamanya.
“(Muncul Petromak diatas kepalanya Kevin)Aha....Raja Vanto mempunya adik tiri, kalau tidak salah namanya Putri Vidyani......”
“Terus kita culik itu putri??” Potong Arsyan. “Yap betul sekali.” “Tapi bagaimana caranya??” “Hmm...................................(Petromaknya jatuh ke kepalanya Kevin) Haduh.....aha Putri itu selalu berkuda ke perbatasan Khuber pass setiap sore hari hanya untuk melihat Matahari tenggelam di puncak Kheber, nah di saat itulah kita tangkap dia, ketika sang putri telah tertawan kita harus segera mengirim pasukan kita ke perbatasan Razor-Vazor. Bagaimana? bagus kan ide saya, yang mulia??” “Hmmm....pintar juga kau, baiklah segera pimpin pasukan ke celah Khuber dan saya akan mempersiapkan pasukan, sebentar lagi sudah mau sore mungkin Putri itu sedang dalam perjalanan.” Perintah Raja Arsyan. “Baik yang mulia...” Sahut Ksatria Kevin.