Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Jumat, 09 Maret 2012

Three Kingdom part 4

Trang...tring...trung...truing....trang...tring...trung...truing....
Trang...sreeettttt...”Akhhh!!!!” Rintih Resky. “Huh mampus, cepat bunuh mereka semua!!!” Teriak ksatria baby hui.
“Huh aaaaaaaaaaa!!!!!!” Teriak Dukun Tio. trang..tring..trung...sretttt. “Akkkkkhhhhh...!!!!!” Rintih Ksatria Baby hui tadi.
Trang...tring...trung...truing....trang...tring...trung...truing....
Akhirnya duel pedang tersebut berakhir, dimenangkan oleh keenam orang suku tersebut dan hanya menyisakan 2 ksatria baby hui.
“Hah.....kita telah kehilangan Resky, semoga dia tidak diterima oleh dewa.” Kata Dukun Tio. “Yayaya....”Sahut Dika.
“Heh...apa kalian menyerah??” Tanya Dika. “Saya menyerah..” Jawab Arsyan.
“Huft heh temanmu ini namanya siapa???” Tanya Resky. “Dia Kevin dari baby hai.” “Hah kerajaan mana tuh baby hai???” “Itu kerajaan bagian baby hui, yang memimpin seorang pangeran tapi masih dibawah kekuasaan Raja Adzie.” “Owh....” Kata mereka berlima (Padahal mereka gak ngerti). “Hmm bagaimana ini, kita bunuh mereka atau biarkan hidup saja???” Tanya Dika. “Jangan dibunuh, kita suruh mereka membongkar tanggul penyumbat sungai itu saja.” Jawab Moza dengan bijaksana. “Hmm..pintar juga kamu. Hei...kami akan membiarkan kalian hidup, tapi kalian harus membongkar tanggul penyumbat itu baru kalian boleh kembali ke kota kalian..” Perintah Dika. “Baik...” Jawab kedua ksatria baby hui/hai itu.
1 jam kemudian.

Byurrr!!!( suara air sungai)
“Huft akhirnya selesai juga, apakah kami boleh kembali ke kota kami????” Tanya Arsyan. “Hmm baiklah kalian boleh tinggalkan tempat ini, oh iya sekalian kalian bawa mayat teman-teman kalian ini.” Jawab Dika. “Baik...” Sahut kedua ksatria baby hui/hai itu.
Lalu kembalilah kedua ksatria itu menuju kota baby hui sambil membawa mayat teman-teman mereka.
“Nah karena tanggul penyumbatnya sudah dibongkar, sekarang kita pulang.” “Eh gimana nih mayatnya si Resky??” Tanya Dimas kepada Moza. “Wah...gimana ya???” Pikir Moza. “Lebih baik kita tinggalkan saja karena akan membawa kesialan jika dibawa ke rumah kita.” Sahut Dukun Tio. “Ok dah kalau gitu kita kubur saja deh kasian..” “Hmmm baiklah, kita kubur di bawah pohon ini saja.”
Akhirnya mereka berlima mengubur jenazah Resky di bawah pohon toge raksasa dan kembali ke tempat tinggal mereka, disana mereka disambut dengan meriah karena telah membuat air sungai mengalir kembali dan membuat upacara sakral lagi, lalu Dukun Tio berdoa. “Hohoohooo ina ni keke...yamko rambe yamko...apuse...terima kasih dewa karena kau telah membantu kami dalam memenangkan pertarungan dengan ksatria baby hui dan terima kasih juga karena sungai ini telah mengalir kembali....”

Yayaya mereka semua larut dalam kegembiraan...
Di Kota Baby Hui..
“Raja,dua ksatria yang berpatroli di sekitar hutan babi telah kembali dalam keadaan terluka dan membawa mayat ksatria lainnya...!!” Teriak seorang prajurit. “Apaa...??? yang benar,hei cepat siapkan kuda kesayangan saya.” “Baik yang mulia.” “Hiaaa..” Kdebuk...kdebuk...kdebuk...
“Huft gila nih raja berat banget kayak apaan aja.” Pikir sang kuda.
Ngikngikngik....
“Halah nih kuda lemot banget jalannya.” Kata Raja Adzie. “Protes aja nih raja udah tau badannya berat malah disuruh cepet.” Pikir sang Kuda lagi.
ngiek..ngiekk...ngiek.....
Sang Raja baby hui pun menghampiri kedua ksatria tersebut. “Apa yang telah terjadi??” Tanya Sang Raja Adzie. “Kami dikalahkan oleh enam orang suku barbar..” Jawab Arsyan.
“Hah..kalian dikalahkan oleh enam orang?? kalian kan ada sepuluh mengapa bisa dikalahkan oleh suku-suku aneh itu??”
“Ampun yang mulia mereka sangat terampil sekali dalam memainkan pedang mereka.”
“Hah...dasar kalian ksatria tak berguna!!!!”
“Ampun yang mulia....” Mereka berdua pun gemetaran melihat kemarahan Raja Adzie.
“Hah.. (Kebanyakan “Hah”nya) ya sudah kalian boleh kembali ke rumah kalian.”
“Baik yang mulia.”
“Eeeiiiitttsss....kalian kubur dulu teman-teman kalian ini..”
“Baik....”
“Hah daripada ane mati gara-gara ngebawa nih raja mending pura-pura pingsan saja deh.” Pikir si Kuda.
Ngiek..ngiekkk...kdebuk. “Walah kenapa nih kuda malah pingsan??”Tanya Sang Raja Adzie. “Hmm sepertinya dia pingsan gara-gara keberatan membawa Raja.” Jawab Ksatria Kevin. “Hah kau berani-beraninya mencela raja.!!” “Ampun yang mulia.” “Hmm tapi bener juga sih,saya mesti diet. Baiklah angkut kuda ini dengan gerobak dan saya akan jalan saja menuju istana supaya kurus dikit.” Perintah Raja Adzie.
Sang Raja pun kembali menuju istananya dengan berjalan kaki dan dikawal oleh dua ksatria baby hui sedangkan ksatria Arsyan dan Kevin harus mengubur jenazah kedelepan ksatria yang telah dibunuh oleh Suku-suku...
Di Istana.
“Hosh..hosh.. Hei penasehat,bagaimana ini apa kita perlu untuk mengusir suku-suku itu dari tanah ini???”
“Sepertinya tidak perlu, lebih baik kita lakukan dengan cara diplomatis daripada dengan cara fisik karena hanya akan merugikan pihak kita.” Jawab Penasehat itu dengan bijaksana.
“Hmm baiklah saya ikut nasihatmu saja, besok kirimkan seorang kurir ke desa suku-suku itu.”
“Baik yang mulia.”
Namun sang kurir sedang berlibur karena cuti sehingga Sang Raja Adzie pun harus menunggu 1 bulan lagi.


Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar