“Hei senjata itu dapat darimana, Leonov?”
Kharlinskiy berbalik tanya kepada ku.
“Oh senjata ini kudapatkan dari pacar Elena, Andrey…”
“Oh yayaya Andrey dia juga temanku orang nya agak aneh ya apalagi hidungnya…” Kata Kharlinskiy
“Memang hahahaha.”
Terbayang wajah Andrey dan langsung membuat ku tertawa guling-guling di pesawat hingga Kharlinskiy dan Rutlinskiy bingung.
Kharlinskiy berdiri dari kursinya dan menghampiriku.
“Ada apa dengan dirimu, Leonov?”
“Hahahaha tenang Kharlin aku tak apa-apa hanya saja saat membayangkan wajah Andrey dengan hidungnya….hahahaha..haduh haduh hahahhaa..”
“Dasar..”
Kharlinskiy pun kembali ke kursinya dan membiarkan diriku berguling-guling di lantai pesawat.
Beberapa jam kemudian tibalah kami di Pegunungan Alpen di pagi hari kira-kira pukul setengah empat pagi waktu bagian perbatasan Swiss-Italia.
“Ehem baiklah saatnya kita bersiap-siap terjun.” Kataku.
Aku membuka pintu pesawat….
“bbrrrrr dingin sekali disini…”
“Leonov sudah waktunya terjun!!” Teriak Rutlinskiy.
“Hah?!”
“Ahh kelamaan kau..”
Lagi-lagi disaat mau terjun aku ditendang dan kali ini oleh Kharlinskiy.
Wuuuuuusssshhhh angin yang sangat dingin menyelimuti diriku menembus jaket yang kukenakan…
Tepat pada ketinggian yang ditentukan aku membuka parasutku, kulihat Kharlinskiy dan Rutlinskiy melakukan hal yang sama.
Buuukkkk tibalah diriku di daratan pegunungan alpen dengan saljunya yang putih.

“Leonov!!! Awas!!!” Teriak Rutlinskiy.
“Huaaaaaa!!!”
Lagi-lagi aku hampir tertabrak oleh orang lain ckckc sial juga nasibku dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan langsung berdiri namun…
“Leonov menyingkir dari situ!! itu tempat pendaratanku!!!”
“Sial..”
Buuukkkk!!! Kharlinskiy dengan tepat menghantamku….
Krrooosaaaakkk….
“Ohh pintar sekali kau, Kharlin tali parasut kita jadi terbelit!”
“Lagipula kenapa kau tidak menyingkir hah?!”
“Hei hei sudah-sudah jangan berantem cepat kalian bereskan tali parasutnya.” Rutlinskiy mencoba menenangkan kami.
“Okok hmmm ini ke arah sini terus yang ini kesana..” Kataku mengintruksikan Kharlinskiy untuk melepas tali parasut yang membelit kami.
“Bukan seharusnya ini kesini itu kesana..”
“Eh bukan harusnya yang itu yang kesini..” Sahut Rutlinskiy
Selama berjam-jam kami mencoba melepas kan tali parasut kami.
Dua jam kemudian tali parasut yang membelit kami bertiga semakin rumit saja untuk dilepaskan, mentari pagi mulai menyinari kami.
“Hei hei ini kenapa semakin membingungkan?” Kataku.
“Mana kutahu..”
“Andai saja ada pisau..” Kata Kharlinskiy berandai-andai.
“Pisau?! Aku membawanya di kakiku hahahaha..”
Plaaaakkk….!!!
Linskiy bersaudara menamparku.
“Adoowww sakit!!!”
Aku langsung mengusap-usap pipiku dengan salju. Tamparan mereka benar-benar menyakitkan.
“Cepat Leonov potong talinya!!” Teriak Rutlinskiy tidak sabaran.
“Iya iya..”
Sreettt..sreettt..sreettt…
Dan akhirnya bebas sudah kami dari jeratan tali parasut hahaha
“Angkat tangan!!!” Teriak Seseorang dari balik rimbunan pohon dan salju.
Ternyata tanpa kusadari sedari tadi mendarat di tanah ini kami sudah di intai oleh seseorang.
Dengan segera saja kami bertiga mengangkat tangan kami karena kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
To Be Continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar