“Yah nih orang malah pada berantem...” “Au tuh dasar orang aneh, kita cari babi bercula satu yuk daripada bengong disini.” Ajak Dika. “Ayuk.” Balas Resky. “Eh boleh ikutan gak???” Tanya Dimas dari Suku Djigong. “Hmm boleh.” Jawab Dika. “Eh ngemeng-ngemeng, kita mau cari dimana babi bercula satunya???” Tanya Resky. “Di hutan Babi lah (Karena banyak sekali babi yang berkeliaran)” Jawab Dimas. “Oh ok deh kalau gitu kita berangkat.”
Akhirnya setelah mempersiapkan peralatan berburu, mereka bertiga meninggalkan Dukun Tio dan Sang Maestro Moza yang sedang cekcok untuk mencari babi bercula satu di hutan babi.
Sesampainya di hutan babi.
“Hah apa-apaan ini hutan kita sudah hilang???!!” Resky terkejut.
Karena penasaran apa yang telah terjadi mereka menyusuri hutan babi yang telah gundul tersebut dan melihat sungai yang telah disumbat sehingga mengakibatkan sungai di daerah keenam suku tersebut mengering.
“Hei lihat ada suku lain di seberang sungai sedang menarik kayu!!” Teriak Resky.
“Hmm sepertinya merekalah yang menebang pohon hutan babi hingga gundul dan menyumbat sungai ini.” Kata Dika dengan mantab.
“Hei lihat ada penunggang kuda yang mendatangi kita..!!” Teriak Dimas . “Aku tahu”
kdebuk.. kdebuk..kdebuk.. kdebuk.. kdebuk.. kdebuk..ngiiieeeekkkkk....
“Sedang apa kalian disini??” Tanya penunggang kuda itu. “Justru yang harus bertanya itu aku, sedang apa kalian disini hah, hutan kami kalian tebang dengan seenaknya.” Balas Dika. “Saya Arsyan, ksatria baby hui. Ini daerah kekuasaan Raja Adzie dari Baby Hui, kalian jangan macam-macam ya...!!!” “Memang salah kami apa??” Tanya Dimas. “Kalian telah melanggar perbatasan kerajaan Baby hui, bodoh..!!” Bentak penunggang kuda. “Dasar ksatria tak tahu diri!!!!” Kata Dika. “Apa katamu hiaaaaaaaaa.......!!!!!!!” Sring...trang...tring...trung...truing....
terjadilah duel pedang antara Arsyan ksatria baby hui dan Dika dari Suku Tingku.
To be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar