Pukul 17.00 WBA (Waktu Bagian Alaska) hari keempat dari lima hari yang ditentukan untuk babak kualifikasi.
Di dalam panser merah putih. “Baiklah check semua alat apakah berfungsi atau tidak,check juga tekanan ban,dan jangan lupa radio harus berfungsi dengan baik.”Kata Dika.
“Semua berfungsi dengan baik boss,cuma tekanan ban pada ban depan kelewat besar,bagaimana ini??” Tanya Moza.
“Hmm menurut perhitungan saya hal itu tidak masalah asalkan berhati-hati saja dalam mengendarai panser ini.”Sahut Arif.
“Ya...ya..itu menurutmu tapi sepertinya ada yang salah dengan pemasangan ban ini.”Kata Dika.
“Bagaimana kalau kita cek bannya.”Usul Tio.
“Tim Indonesia silahkan menuju garis start kualifikasi.” Kata seorang panitia lomba lewat intercom.
“Hei sudah tidak ada waktu lagi nih buat mengecek bannya.”Sahut Moza.
“Lupakan saja itu,kita mesti prioritaskan babak kualifikasi ini.”Kata Dika.
Bruuum...teketeketek....
“Tim Indonesia apakah kalian sudah siap??” Tanya panitia lomba lewat intercom.
“Kami telah siap.”Jawab Dika.
“3....2....1....go....!!!” Teriak panitia lomba.
bruuuuuuuuum........sraaakkkk....................
Akhirnya Tim Indonesia memacu Pansernya menuju Kota Nome melalui lintasan yang sudah ditentukan sebab perjalanan itu adalah babak kualifikasi. “Belok kiri 30º, lurus 1 km, awas gundukan 25 º..”Kata Dimas memandu Dika.
Enam setengah jam sudah mereka mengendarai panser itu.
Di perjalanan, Pukul 2230 WBA.
“Menurut data GPS dan perhitunganku kita akan tiba di kota Nome sekitar ± 30 menit lagi.”Kata Arsyan.
“Hmm sejauh ini tidak ada masalah,wuiih apaan tuh ada bola api besar di arah jam 11.”Sahut Dika.
“Apakah itu panser peserta lain yang kecelakaan, Dik??”
“Mungkin saja, Rif. Moza coba kau tanya situasi di daerah sekitar sini. Moza...!!!woi kok gak ada respon sih.”
“Ya jelas lah, Dik orang dia lagi tidur.”Sahut Tio.
“Haduh hari gini malah tidur emangnya ini jalan-jalan apa.”Keluh Dika.
“Buruan bangunin tuh si Moza kita butuh informasi secepatnya.”Perintah Arsyan.
“Ok...woy bangun Moz!!!!!!!!”Teriak Tio.
“Hah ada apa, baik laksanakan (memencet tombol booster roket).”
Lalu keluarlah sebuah nozzle dari bagian booster dan duarrrr...
“Waaaaaaaa...apa yang kau lakukan!!!”Teriak Arif.
“Loh katanya kan tadi disuruh nyalain booster roket!!”Balas Moza.
“Hei Dika disini kan batas maks kecepatannya 380 km/jam,sekarang kecepatan kita berapa??”Tanya Dimas.
“(melihat speedometer digital)kecepatan kita sudah 425 km/jam sebentar lagi akan menembus 500 km/jam.!!”
“Hei cepat matikan boosternya!!” Perintah Arif.
“Baik (memencet tombol booster roket) huft...”Sahut Moza.
“Dasar bodoh,kita jadi terkena pinalti..”Omel Dika.
Tiba-tiba duaaarrrr.....kedua ban belakang kanan pada panser mereka meletus sehingga membuat panser itu miring ke kanan dan terguling.
“Wuaa kita terguling...!!”Teriak Moza.
“Jangan panik cepat gunakan balon pelindung.”Perintah Dika.
“Baik (Memencet tombol)”Sahut Arif.
Dan keluarlah balon besar yang menyelimuti panser sehingga membuat panser itu tidak jadi terguling melainkan memantul beberapa kali dan berhenti.
“Hei..hei...cepat kempeskan balon pelindung ini.”
“Ok, Dik (Memencet tombol)”Sahut Arif.
Setelah balon mengempes mereka pun keluar.
“Huh tulangku rasanya sakit semua.”Keluh Dika.
“Hueeksss...mual dan pusing..hueksss....huekss.”Sahut Moza.
“Wah Moza malah muntah lagi, dasar siapa sih yang merekomendasikan dia jadi crew kita.?” Tanya Dimas.
“Menteri Olahraga, katanya sih dia yang paling pinter dalam hal elektronik.”Jawab Dika.
“Loh bukannya si Adzie yang pinter elektronik ya, Dik.”.
“Nah itu dia yang bikin aku bingung, mungkin karena berat badan yang berlebihan jadi dia didepak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar