Teman-temanku berteriak dan panik, namun tidak denganku.
Aku segera menarik tangan Ekaterina lalu melompat dari balkon setinggi kurang lebih satu setengah meter.
Dibelakang kami berdua, Vasily (sahabat dekat selama empat tahun) mengikuti jejak kami.
Kami bertiga segera berlari menuju sebuah persembunyian yang tak akan diketahui oleh para orang bersenjata itu, yaitu di semak-semak di samping vila.
Dari tempat kami bersembunyi terdengar dengan jelas para pemberontak itu berteriak.
“Kami pemberontak dari aliran kalpanaxisme. Kami ingin teman kami dibebaskan dalam waktu kurang lebih dua dikali dua puluh empat jam ditambah lima menit dikurang tiga puluh detik!!!!!”
Aku tidak tahu apa maksud mereka.
“Hei Leonov, truknya tidak dijaga, ayo kita cek, siapa tahu ada telepon atau semacamnya.”
Vasily memang cerdas. Otaknya yang cemerlang selalu saja menolongku disaat-saat yang genting ini.
“Hmm ide yang bagus itu.”
Aku, Ekaterina dan Vasily yang bersembunyi di semak-semak pun keluar dan segera menggeledah truk yang tidak dijaga sama sekali karena para pemberontak sedang berada di balkon vila.
“Waahh ada senjata sniper dengan peredam suaranya dan ada dua senjata AK-47 hmmm kalian berdua bawa AK-47 ini, kita lumpuhkan mereka semua.”
“Tapi Leonov, senjata ini terlalu berat untukku…” Kata Ekaterina kepadaku.
“Ya sudah kalau begitu, kamu bawa pistol ini saja, kamu lindungi kami berdua dan jangan jauh-jauh dariku.”
“I.. Iya.”
Kami bertiga pun mengendap-endap keluar dari truk dan keluar dari perkarangan vila lalu segera mencari tempat yang tinggi dan aman untuk melumpuhkan para orang bersenjata itu.
Lolongan anjing liar dan malam yang gelap menambah ketegangan kami bertiga.
Didalam benakku terpikir kalau sampai ketahuan oleh mereka mungkin nyawa kami akan melayang.
“Berhenti....sepertinya tempat ini cocok untuk tempat kita melumpuhkan mereka dengan sniper.”
Aku segera menyuruh Ekaterina untuk menunduk dan melindungiku lalu aku mengokang sniperku dan mengintip vila itu melalui teropong senjataku, terlihat bahwa orang-orang bersenjata itu berjumlah empat orang, bukan lima, ohh bukan ternyata ada sepuluh orang bersenjata yang menyandera teman-temanku aku pun mulai berpikir bahwa peluru sniperku ini hanya berjumlah 10 butir peluru dan aku lupa mengambil cadangannya di truk tadi, dilema pun menghampiriku.
To Be Continued.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar