“Hah
Dika...kukira orangnya ganteng gitu, ternyata...(kecewa)”
“Hehehehe, maaf
yang mulia.”
“Lalu siapa yang
memimpin pasukanmu?”
“Mungkin
Jenderal Arif yang memimpin, sekarang cepat yang mulia masuk ke lorong itu.”
“Tidak mau, kau
harus ikut masuk ke lorong ini juga!!”
“Haduh aku harus
meledakkan tembok itu sebelum pergi meninggalkan Kerajaan ini. ”
“Kalau begitu
kubantu saja daripada harus menunggu.”
“Ya sudah lah
kalau yang mulia bersikeras.”
Akhirnya Jenderal
Mahadika dan Putri Vidyani bahu membahu menaruh 50 buah bom (seukuran botol
Aqua 1 Liter) yang dahsyat racikan Dukun Tio ke tembok Kerajaan Razor.
“Baiklah
sekarang tinggal menyulut sumbunya dan kabur, kalau bomnya sudah meledak
pakailah kain ini untuk menutupi hidungmu.” Kata Jenderal Mahadika.
“Buat apa?”
“Karena bom ini
terbuat dari bulu ketek dan keringat Dukun Tio dipastikan bila meledak akan bau
sekali.” “Owh begitu, ok deh.”
“Sekarang yang mulia
lari ke lorong tadi dan tunggu di ujung lorong, nanti aku akan menyusulmu.”
“Baik.”
“du..di..du..di..dam..dam..du...di..du.di..dam..(ctraakkcttraaakkk)
aiihhh ini beneran batu api apa bukan sih?? daritadi gak keluar-keluar
apinya..(ctraakkcttraaakkk csssssss) akhirnya hahaha.” Kata Jenderal Mahadika.
“Jangan senang
dulu, Putri Vidyani sudah kutawan hahahaha.” Kata seorang prajurit Razor.
“Huh sialan,
tapi bagaimana ya sumbu bomnya sudah kusulut dan tidak bisa dimatikan hehehe.”
Tawa Jenderal Mahadika licik.
“Hmmm....hmmm..(menggigit
tangan prajurit yang membekap mulutnya).”Kata Putri Vidyani.
“Aaaaaaaaaaa......”
Teriak si prajurit.
Putri Vidyani
pun segera mencabut pedang dari prajurit Razor tadi dan menusuknya.
Sringgg
jleebbbb!
“Arrrgggg!!!”
Rintih Prajurit Razor.
Sringgg....trang..tringg...truunngg!!!!
Terjadilah pertarungan
antara Putri Vidyani dan Jenderal Mahadika dengan prajurit Razor, namun
prajurit Razor tidak ada habis-habisnya walaupun sudah banyak yang terbunuh.
Kemudian seorang
prajurit Razor melihat bom yang dipasang oleh Jenderal Mahadika, terlihat sumbu
yang terbakar sudah pendek.
“Heiii!!!
hentikan pertarungan !! bomnya akan meledak !! selamatkan diri kalian!!!”
Teriak si Prajurit.
Berlarilah
prajurit Razor menyelamatkan diri tanpa menghiraukan Jenderal Mahadika dan
Putri Vidyani.
“Ayo yang mulia,
lari ke lorong bawah tanah!!!” Perintah Jenderal Mahadika.
Mereka pun lari
menyelamatkan diri menuju lorong bawah tanah yang dibuat oleh Jenderal Mahadika
selama 1 menit berkat ramuan Dukun Tio, namun blaaarrrr!!!!! meledak lah bom
buatan Dukun Tio hingga membuat Jenderal Mahadika dan Putri Tio terhempas.
“Cepat Putri
tutup hidungmu dengan kain yang kuberikan tadi!!”
“Iya..(menutup
hidung)” Kata Putri Vidyani.
“Ayam..ayam...!!”
“Hahahaha...Raja
Arsyan latah..hahahaa.” Tawa prajurit pengawal.
“Hah diam
kau!!!”
“Maaf yang
mulia.”
Kedua pasukan
kerajaan yang sedang bertempur pun tercengang dan mengehentikan pertempuran
mereka karena suara ledakan yang mengagetkan itu.
“Ledakan tadi
berasal darimana hah?” Tanya Raja Arsyan.
“Sepertinya dari
kerajaan kita, yang mulia.”
“Wah kalau yang
dihancurkan tembok kita, kita bisa diserang dengan mudah. Perintahkan pasukan
Zerstorer untuk mundur!!
“Baik yang
mulia.”
Tet..tet...tetetetetetettete.....
“Pasukan cepat mundur!!”
Perintah Jenderal Kevin.
Pasukan
Zerstorer pun segera mundur
Di Pihak Vazor.
“Waouuwww...ledakannya hebat sekali sepertinya hahaha..”
Tawa Raja Vanto.
“Ya, dan Pasukan
Razor sudah mundur, dipastikan mereka akan memperkuat kota benteng mereka.” Sahut
Jenderal Arif.
“Hmm..baiklah
kita juga mundur, kita tunggu utusan mereka yang akan meminta gencatan
senjata.”
“Raja yakin
mereka akan meminta gencatan senjata??”
“Kuharap
begitu.” Kata Raja Vanto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar