Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Rabu, 27 Juni 2012

Three Kingdom 19


“Yang mulia tidak apa-apa kan??” Tanya Jenderal Mahadika.
“Iya, hanya lecet sedikit kok.”                                                                 
“Ya sudah ayo cepat lari ke lorong bawah tanah, mumpung debunya masih berterbangan.”
Bangunlah mereka berdua dan masuk ke lorong bawah tanah lalu berjalan menuju ujung lorong.
“Akhirnya sampai juga diujung lorong, baik lah aku akan keluar dulu memastikan keadaan, yang mulia tunggu dulu disini.”
Beberapa menit kemudian. Sraaakkk turun lah seorang prajurit Razor.
“Temanmu sudah kubunuh!! Mau lari kemana kau hahahaha...” Kata Prajurit Razor.
“Tidak mungkin Jenderal sehebat dia mati terbunuh oleh dirimu??”
“Mungkin saja hahahaha sekarang mati lah kau hyaaatttt!!!!!!!” Teriak sang prajurit Razor.

Sreeetttt... “Arrrggghhhhh...” Rintih sang prajurit Razor. Kedubrraakk....
“Yang mulia tidak apa-apa??” Tanya Jenderal Mahadika.
“Iya, kamu sendiri tidak apa-apa kan??”
“Tidak apa-apa, yang mulia, mari kubantu naik ke atas.”
Naik lah mereka berdua ke atas tanah, mereka telah keluar dari tingginya tembok kota Exortus dan segera menaiki kuda yang telah menunggu mereka disana.
Kdebbuukkk...kdeebbuuk...kdeebuuuk!!!
Mereka berdua akhirnya berhasil lolos lalu pulang ke Kerajaan Vazor melalui hutan supaya tidak ketahuan oleh pasukan Razor yang sedang mundur dari pertempuran.
Raja Arsyan dan Pasukannya sampai di Benteng kota Exortus.
Raja Arsyan pun segera melihat tembok yang telah dihancurkan.
“Wahh benar-benar hancur.” Kata Raja Arsyan lemas.
“Iya yang mulia kita benar-benar kalah dalam statregi.” Sahut Jenderal Kevin.
“Sebaiknya kita istirahat dulu untuk penjagaan di tembok yang hancur ini kita serahkan pada prajurit yang tidak ikut bertempur di perbatasan.”
“Baik yang mulia.”
 Belum lama istirahat Raja Arsyan dikagetkan oleh informasi yang mengejutkan.
“Maafkan saya yang mulia.” Kata seorang prajurit.
“Ada apa??”
“Hmmm...Putri Vidyani..hmmm..”
“Heii yang jelas kalau bicara! ada apa dengan Putri Vidyani dia masih didalam sel kan?! jadi tenang aja dia tidak akan bisa lolos.”
“Nah itu dia masalahnya yang mulia, Putri Vidyani yang kita culik telah lolos.”
“Apaaa...?? Bagaimana bisa ia lolos??!! ”
“ Hmm jadi begini ada seorang Prajurit Dzazor yang menyamar menjadi prajurit Razor lalu dia menyelamatkan Putri dan Ia juga lah yang menghancurkan tembok benteng kita.”
Raja Arsyan yang mendengar hal itu mulai geram.
“Huh sialan....!!! Terus kenapa kalian tidak bisa menangkap mereka hah??!! mereka kan hanya berdua saja sedangkan kalian banyak???!!!!”
“Permainan pedang mereka sangat hebat yang mulia, kami tidak bisa menandinginya.”
“hahh bodooohhh kaliann, sekarang kau ke Kerajaan Vazor dan bilang kepada mereka bahwa saya meminta gencatan senjata dan mengajukan damai.” Perintah Raja Arsyan.
“Sekarang yang mulia??”
“Iyaa sekarang memang mau kapan lagi, bisa-bisa kita akan diserang kalau kita tidak meminta gencatan senjata.” Jawab Raja Arsyan kesal.
“Baik yang mulia.”
Segeralah prajurit tadi menuju ke Kerajaan Vazor meminta gencatan senjata dan berdamai.

Di Kerajaan Vazor di dalam istana yang sederhana.
“Hmm bagaimana ya dengan adikku??” Tanya Raja Vanto.
“Pasti dia berhasil lolos yang mulia.” Jawab Jenderal Arif.
“Kenapa kau begitu yakin??”
“Ya karena walaupun wajahnya Jenderal Mahadika kurang meyakinkan dia pasti selalu berhasil dan tidak mudah menyerah dalam melakukan apapun (Fitnah kalau dalam kenyataan wkwk) jadi menurut saya ia pasti berhasil membawa Putri Vidyani kembali.” Sahut Dukun Tio.
“Hmm kupegang kata-katamu itu, semoga adikku bisa kembali pulang.”
Lalu datanglah seorang prajurit penjaga gerbang utama.
“Ada apa sepertinya kamu tergesa-gesa sekali??” Tanya Raja Vanto.
“Yang mulia pasti tidak percaya.”
“Iya, ada apa dulu?”
“Putri Vidyani telah kembali bersama Jenderal Mahadika tanpa luka sedikitpun, sekarang mereka ada diruang makan.” jawab si prajurit.
Bergegaslah Raja Vanto menuju ruang makan dan menemui kedua orang itu.
“Ohh adikku kau tidak apa-apa kan??”
“Iya tidak apa-apa kakanda, cuma lecet sedikit hehehe.”
“Baguslah..hahaha kalau begitu untuk merayakannya kita adakan pesta rakyat..heii kalian semua ayo kita buat makanan  yang banyak untuk rakyat kita dan kita adakan pesta di seluruh negeri ini jangan lupa beritahukan pada rakyat.” Perintah Raja Vanto.
“Baik.” Sahut para Jenderal kompak.
Dan dimulailah persiapan pesta rakyat yang akan berlangsung selama tiga hari.
Selagi semua rakyat mempersiapkan pesta mereka, datanglah si Prajurit Razor yang sudah dimarahin habis-habisan oleh Raja Arsyan untuk menyampaikan pesannya.
“Yang mulia ada yang ingin bertemu dengan anda.” Kata Jenderal Dimas.
Suruh dia masuk.”
“Baik yang mulia.”
Masuklah si Prajurit Razor tadi.
“Ada apa datang kemari??”
“Hmm kami dari Kerajaan Razor meminta gencatan senjata dan ingin berdamai dengan Kerajaan anda.”
“Hah?? Gencatan senjata? Hahahahaha”
“Hahahaha” Para Jenderal yang lain pun ikut tertawa.
“Hahahaha hahahahah uhuk uhuk uhuk…..”
“Eh eh Raja Vanto keselek cepat ambil kan air!!” Perintah Jenderal Dika.
“Baikk..”
Byyuuuuurrrrr 
“Wuaah wuaahh ahh gembel kalian seharusnya jangan disiram juga sayanya.”
“Ahh maaf yang mulia kami tidak tahu dan kami juga sudah panik.”
“Ahh ya sudahlah kalau begitu kami terima gencatan senjata tersebut, mulai sekarang kita akan menjalin persahabatan.” Kata Raja Vanto dengan bijak.
“Terima kasih yang mulia, kami selaku rakyat Exortus menghargai keputusan Yang Mulia Raja Vanto..”
“Hahaha ya sudah kembali lah ke Exortus dan sampaikan berita ini kepada rajamu..”
“Baik, yang mulia..”
“Sebaiknya yang mulia berjaga-jaga kalau permintaan itu hanyalah siasat licik Raja Arsyan..”
“Tenang Jenderal Dika, tenanglah...tidak ada yang perlu di takutkan, permintaan gencatan senjata itu benar-benar murni bukan suatu siasat..”
“Kenapa kau begitu yakin, Dukun Tio?” Tanya Jenderal Dimas
“Dukun dilawan hahahaha...”
“Baik lah aku percaya kepada kata-kata mu, Dukun Tio. Sekarang lebih baik kita merayakan kemenangan kita dengan rakyat Vazor...”

Nguuunnggg..duaarr...duaarrr....
Kembang api buatan Dukun Tio meledak di mana-mana, suara kemeriahan menggelegar dimana-dimana, namun disisi lain di Kota Exortus ada yang sedang galau.
“Yang Muliaaaaaa Arsyan, Kerajaan Vazor menerima gencatan senjata kita!!!” Teriak prajurit yang dikirim sebelumnya
“Ssssssstttt jangan ganggu yang mulia, sepertinya ia sedang mengalami masa yang dinamakan masa kegalauan..”Sahut Penasihat Raja.
“Apa itu galau?”
“Keripik kentang. Aahh sudah lah lebih baik kau pergi saja dari sini, nanti biar saya saja yang memberitahu kan kepada Raja.”
“Baik..”
“Yang mulia sebenarnya kenapa yang mulia melamun terus??” Tanya sang penasihat raja
“Ahhh aku hanya teringat akan wajah putri yang kita culik itu, lebih baik kamu cari tabib atau semacam nya untuk membuatku tenang.”
“Baik yang mulia..”


To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar