“Yang mulia
tidak apa-apa kan??” Tanya Jenderal Mahadika.
“Iya, hanya
lecet sedikit kok.”
“Ya sudah ayo
cepat lari ke lorong bawah tanah, mumpung debunya masih berterbangan.”
Bangunlah mereka
berdua dan masuk ke lorong bawah tanah lalu berjalan menuju ujung lorong.
“Akhirnya sampai
juga diujung lorong, baik lah aku akan keluar dulu memastikan keadaan, yang
mulia tunggu dulu disini.”
Beberapa menit
kemudian. Sraaakkk turun lah seorang prajurit Razor.
“Temanmu sudah
kubunuh!! Mau lari kemana kau hahahaha...” Kata Prajurit Razor.
“Tidak mungkin
Jenderal sehebat dia mati terbunuh oleh dirimu??”
“Mungkin saja
hahahaha sekarang mati lah kau hyaaatttt!!!!!!!” Teriak sang prajurit Razor.
Sreeetttt...
“Arrrggghhhhh...” Rintih sang prajurit Razor. Kedubrraakk....
“Yang mulia tidak
apa-apa??” Tanya Jenderal Mahadika.
“Iya, kamu sendiri
tidak apa-apa kan??”
“Tidak apa-apa, yang mulia, mari kubantu naik ke atas.”
Naik lah mereka
berdua ke atas tanah, mereka telah keluar dari tingginya tembok kota
Exortus dan segera menaiki
kuda yang telah menunggu mereka disana.
Kdebbuukkk...kdeebbuuk...kdeebuuuk!!!
Mereka berdua
akhirnya berhasil lolos lalu pulang ke Kerajaan Vazor melalui hutan supaya tidak ketahuan oleh pasukan
Razor yang sedang mundur dari pertempuran.
Raja
Arsyan dan Pasukannya sampai di
Benteng kota Exortus.
Raja Arsyan pun segera melihat tembok yang telah dihancurkan.
“Wahh benar-benar
hancur.” Kata Raja Arsyan lemas.
“Iya yang mulia
kita benar-benar kalah dalam statregi.” Sahut Jenderal Kevin.
“Sebaiknya kita
istirahat dulu untuk penjagaan di tembok yang hancur ini kita serahkan pada
prajurit yang tidak ikut bertempur di perbatasan.”
“Baik yang mulia.”
“Baik yang mulia.”
Belum lama istirahat Raja Arsyan dikagetkan oleh informasi yang mengejutkan.
“Maafkan saya yang
mulia.” Kata seorang prajurit.
“Ada apa??”
“Hmmm...Putri Vidyani..hmmm..”
“Heii yang jelas
kalau bicara!
ada apa dengan Putri Vidyani dia masih didalam sel kan?! jadi tenang aja dia tidak akan bisa lolos.”
“Nah itu dia
masalahnya yang mulia, Putri Vidyani yang kita culik telah lolos.”
“Apaaa...??
Bagaimana bisa ia lolos??!! ”
“ Hmm jadi begini
ada seorang Prajurit Dzazor yang menyamar menjadi prajurit Razor lalu dia
menyelamatkan Putri dan Ia juga lah yang menghancurkan tembok benteng kita.”
Raja Arsyan yang mendengar hal itu mulai geram.
“Huh sialan....!!!
Terus kenapa kalian tidak bisa menangkap mereka hah??!! mereka kan hanya berdua
saja sedangkan kalian banyak???!!!!”
“Permainan pedang
mereka sangat hebat yang mulia, kami tidak bisa menandinginya.”
“hahh bodooohhh
kaliann, sekarang kau ke Kerajaan Vazor dan bilang kepada mereka bahwa saya meminta gencatan
senjata dan mengajukan damai.” Perintah Raja Arsyan.
“Sekarang yang
mulia??”
“Iyaa sekarang memang mau kapan lagi, bisa-bisa kita akan diserang kalau
kita tidak meminta gencatan senjata.” Jawab Raja Arsyan kesal.
“Baik yang mulia.”
Segeralah prajurit
tadi menuju ke Kerajaan Vazor meminta gencatan senjata dan berdamai.
Di Kerajaan Vazor di dalam istana yang sederhana.
“Hmm bagaimana ya
dengan adikku??” Tanya Raja Vanto.
“Pasti dia berhasil
lolos yang mulia.” Jawab Jenderal Arif.
“Kenapa kau begitu
yakin??”
“Ya karena walaupun
wajahnya Jenderal Mahadika kurang meyakinkan dia pasti selalu berhasil dan
tidak mudah menyerah dalam melakukan apapun (Fitnah kalau dalam kenyataan wkwk)
jadi menurut saya ia pasti berhasil membawa Putri Vidyani kembali.” Sahut Dukun Tio.
“Hmm kupegang
kata-katamu itu, semoga adikku bisa kembali pulang.”
Lalu datanglah
seorang prajurit penjaga gerbang utama.
“Ada apa sepertinya
kamu tergesa-gesa sekali??” Tanya Raja Vanto.
“Yang mulia pasti
tidak percaya.”
“Iya, ada apa
dulu?”
“Putri Vidyani telah kembali bersama Jenderal Mahadika tanpa luka
sedikitpun, sekarang mereka ada diruang makan.” jawab si prajurit.
Bergegaslah Raja Vanto menuju ruang makan dan menemui kedua orang itu.
“Ohh adikku kau
tidak apa-apa kan??”
“Iya
tidak apa-apa kakanda, cuma lecet sedikit hehehe.”
“Baguslah..hahaha
kalau begitu untuk merayakannya kita adakan pesta rakyat..heii kalian semua ayo
kita buat makanan yang banyak untuk
rakyat kita dan kita adakan pesta di seluruh negeri ini jangan lupa beritahukan
pada rakyat.” Perintah Raja Vanto.
“Baik.” Sahut para
Jenderal kompak.
Dan dimulailah
persiapan pesta rakyat yang akan berlangsung selama tiga hari.
Selagi semua rakyat
mempersiapkan pesta mereka, datanglah si Prajurit Razor yang sudah dimarahin
habis-habisan oleh Raja Arsyan untuk menyampaikan pesannya.
“Yang mulia ada
yang ingin bertemu dengan anda.” Kata
Jenderal Dimas.
“Suruh
dia masuk.”
“Baik yang mulia.”
Masuklah si Prajurit Razor tadi.
“Ada apa datang kemari??”
“Hmm kami dari Kerajaan Razor meminta gencatan
senjata dan ingin berdamai dengan Kerajaan anda.”
“Hah?? Gencatan senjata? Hahahahaha”
“Hahahaha” Para Jenderal yang lain pun ikut tertawa.
“Hahahaha hahahahah uhuk uhuk uhuk…..”
“Eh eh Raja Vanto keselek cepat ambil kan air!!” Perintah Jenderal Dika.
“Baikk..”
Byyuuuuurrrrr
“Wuaah wuaahh ahh gembel kalian seharusnya jangan disiram juga sayanya.”
“Ahh maaf yang mulia kami tidak tahu dan kami juga sudah panik.”
“Ahh ya sudahlah kalau begitu kami terima gencatan senjata tersebut, mulai sekarang kita akan menjalin persahabatan.” Kata Raja Vanto dengan bijak.
“Hahahaha” Para Jenderal yang lain pun ikut tertawa.
“Hahahaha hahahahah uhuk uhuk uhuk…..”
“Eh eh Raja Vanto keselek cepat ambil kan air!!” Perintah Jenderal Dika.
“Baikk..”
Byyuuuuurrrrr
“Wuaah wuaahh ahh gembel kalian seharusnya jangan disiram juga sayanya.”
“Ahh maaf yang mulia kami tidak tahu dan kami juga sudah panik.”
“Ahh ya sudahlah kalau begitu kami terima gencatan senjata tersebut, mulai sekarang kita akan menjalin persahabatan.” Kata Raja Vanto dengan bijak.
“Terima kasih yang mulia, kami selaku rakyat Exortus
menghargai keputusan Yang Mulia Raja Vanto..”
“Hahaha ya sudah kembali lah ke Exortus dan sampaikan berita ini kepada rajamu..”
“Baik, yang mulia..”
“Hahaha ya sudah kembali lah ke Exortus dan sampaikan berita ini kepada rajamu..”
“Baik, yang mulia..”
“Sebaiknya yang mulia berjaga-jaga kalau permintaan
itu hanyalah siasat licik Raja Arsyan..”
“Tenang Jenderal Dika, tenanglah...tidak ada yang perlu di takutkan, permintaan gencatan senjata itu benar-benar murni bukan suatu siasat..”
“Kenapa kau begitu yakin, Dukun Tio?” Tanya Jenderal Dimas
“Tenang Jenderal Dika, tenanglah...tidak ada yang perlu di takutkan, permintaan gencatan senjata itu benar-benar murni bukan suatu siasat..”
“Kenapa kau begitu yakin, Dukun Tio?” Tanya Jenderal Dimas
“Dukun dilawan hahahaha...”
“Baik lah aku percaya kepada kata-kata mu, Dukun Tio. Sekarang lebih baik kita merayakan kemenangan kita dengan rakyat Vazor...”
Nguuunnggg..duaarr...duaarrr....
Kembang api buatan Dukun Tio meledak di mana-mana, suara kemeriahan menggelegar dimana-dimana, namun disisi lain di Kota Exortus ada yang sedang galau.
“Baik lah aku percaya kepada kata-kata mu, Dukun Tio. Sekarang lebih baik kita merayakan kemenangan kita dengan rakyat Vazor...”
Nguuunnggg..duaarr...duaarrr....
Kembang api buatan Dukun Tio meledak di mana-mana, suara kemeriahan menggelegar dimana-dimana, namun disisi lain di Kota Exortus ada yang sedang galau.
“Yang Muliaaaaaa Arsyan, Kerajaan Vazor menerima
gencatan senjata kita!!!” Teriak prajurit yang dikirim sebelumnya
“Ssssssstttt jangan ganggu yang mulia, sepertinya ia
sedang mengalami masa yang dinamakan masa kegalauan..”Sahut Penasihat Raja.
“Apa itu galau?”
“Keripik kentang. Aahh sudah lah lebih baik kau pergi saja dari sini, nanti biar saya saja yang memberitahu kan kepada Raja.”
“Keripik kentang. Aahh sudah lah lebih baik kau pergi saja dari sini, nanti biar saya saja yang memberitahu kan kepada Raja.”
“Baik..”
“Yang mulia sebenarnya kenapa yang mulia melamun
terus??” Tanya sang penasihat raja
“Ahhh aku hanya teringat akan wajah putri yang kita
culik itu, lebih baik kamu cari tabib atau semacam nya untuk membuatku tenang.”
“Baik yang mulia..”To be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar