“Hai..kalian bertiga, kemari.” Perintah
Raja Vanto. “Kami bertiga yang mulia??” Tanya Dika. “Iya,udah tahu nanya.”
Jawab Vanto. Lalu ketiga orang itu menghampiri Raja Vanto dan berlutut di
hadapannya. “Ada apa yang mulia memanggil kami bertiga??” Tanya Arif.
“Hey..hey..ngapain kalian berlutut, cepat berdiri.” “Baik yang mulia.”
Mereka bertiga pun lalu berdiri.
“Nah begitu lebih baik. Mahadika dari
Suku Tingku, Dimas dari Suku Djigong dan Arif dari Suku Raneh kalian bertiga
aku angkat sebagai Ksatria Vazor.” Kata Raja Vanto penuh wibawa. “Terima kasih
yang mulia.” Sahut mereka kompak. “Sama-sama, mulai besok rencanakan
pembangunan kota ini dan beri nama baru bagi pasukan kita.” Perintah Raja Vanto. “Baik yang mulia.” “Tapi bagaimana dengan para penduduk Baby Hui? Kita
musnahkan atau di suruh mengungsi ke kota Baby Hai??” Tanya Dukun Tio.
“Hmm...Kita tanya mereka saja apakah mereka ingin menetap disini atau
mengungsi...” Jawab Raja Vanto. “Baiklah....”
Lalu Dukun Tio mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sia puing tembok kota Ma’aldur dan membantingnya, menjilat ,memukul, memahat hingga akhirnya terbentuklah sebuah bongkahan batu berbentuk tak karuan... “Kok jadi begini bentuknya, memang tadinya batu ini mau dibuat apa??” Tanya Dika. “Sebenarnya batu ini mau dibuat untuk tempat pemilihan para penduduk Baby Hui apakah mau menetap atau mengungsi tapi protesnya jangan ke saya dong..” Jawab Dukun Tio. “Lalu ke siapa kalau gitu??” “Ya ke penulisnya lah..” “Lah...!@#$.” Balas Dika dengan wajah bingung. “Nih dukun emang tidak bisa diandalkan.” Kata Raja Vanto. “Hus... sembarang gini-gini udah menyelamatkan kita semua loh.” Sahut Dukun Tio. “Iya dah.” Kata Raja Vanto. “Huamm....udah ngantuk nih, kita lanjutkan besok saja ya??” Usul Arif. “Hmm..baiklah berhubung hari sudah malam lebih baik kita semua beristirahat, oh iya Ksatria Dika tolong buat shift jaga untuk tetap bersiaga setiap 2 jam sekali.” Perintah Raja Vanto. “Baik...” Sahut Dika. Mereka semua pun akhirnya beristirahat dengan tenang kecuali para prajurit yang mendapat giliran jaga...
Lalu Dukun Tio mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sia puing tembok kota Ma’aldur dan membantingnya, menjilat ,memukul, memahat hingga akhirnya terbentuklah sebuah bongkahan batu berbentuk tak karuan... “Kok jadi begini bentuknya, memang tadinya batu ini mau dibuat apa??” Tanya Dika. “Sebenarnya batu ini mau dibuat untuk tempat pemilihan para penduduk Baby Hui apakah mau menetap atau mengungsi tapi protesnya jangan ke saya dong..” Jawab Dukun Tio. “Lalu ke siapa kalau gitu??” “Ya ke penulisnya lah..” “Lah...!@#$.” Balas Dika dengan wajah bingung. “Nih dukun emang tidak bisa diandalkan.” Kata Raja Vanto. “Hus... sembarang gini-gini udah menyelamatkan kita semua loh.” Sahut Dukun Tio. “Iya dah.” Kata Raja Vanto. “Huamm....udah ngantuk nih, kita lanjutkan besok saja ya??” Usul Arif. “Hmm..baiklah berhubung hari sudah malam lebih baik kita semua beristirahat, oh iya Ksatria Dika tolong buat shift jaga untuk tetap bersiaga setiap 2 jam sekali.” Perintah Raja Vanto. “Baik...” Sahut Dika. Mereka semua pun akhirnya beristirahat dengan tenang kecuali para prajurit yang mendapat giliran jaga...
Di malam hari itu roh Raja Adzie
bergentayangan karena sebelum mati ia mengucapkan sebuah mantera voodo.
“Huahahahaha...hahahaha..hahaha.....dendamku pasti akan terbalaskan....sekarang
enaknya kemana ya...hmm... ”Kata Raja Adzie berpikir.
Selama berpikir Raja Adzie The Almarhum (gelar baru nih buat Raja Adzie) gentayangan ke arah Barat Laut. Akhirnya setelah berpikir sambil gentayangan ia menemukan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Amhcar yang dipimpin oleh Raja Rico The Untouched (Raja Rico memiliki seorang panglima perang yang tak lain adalah anaknya sendiri, panglima itu bernama Jenderal Raras, bila sedang tidak memimpin pasukan ia lebih dikenal dengan Putri Raras.). “Hmm..kalau tidak salah ini adalah kerajaan yang melakukan perdagangan dengan kerajaanku....aha akan kurasuki rajanya terus kuperintahkan pasukannya untuk menghancurkan Kerajaan Vazor...Huahahahah..pintarnya diriku..” Kata Raja Adzie The Almarhum.
Selama berpikir Raja Adzie The Almarhum (gelar baru nih buat Raja Adzie) gentayangan ke arah Barat Laut. Akhirnya setelah berpikir sambil gentayangan ia menemukan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Amhcar yang dipimpin oleh Raja Rico The Untouched (Raja Rico memiliki seorang panglima perang yang tak lain adalah anaknya sendiri, panglima itu bernama Jenderal Raras, bila sedang tidak memimpin pasukan ia lebih dikenal dengan Putri Raras.). “Hmm..kalau tidak salah ini adalah kerajaan yang melakukan perdagangan dengan kerajaanku....aha akan kurasuki rajanya terus kuperintahkan pasukannya untuk menghancurkan Kerajaan Vazor...Huahahahah..pintarnya diriku..” Kata Raja Adzie The Almarhum.
Kemudian ia mendatangi istana Kerajaan
Amhcar dan mencari-cari kamar Raja Amchar.
15 menit kemudian.
“Huh dimana sih kamarnya?! Daritadi tidak
ketemu-ketemu....ini sudah kamar ke 25 yang dibuka, awas saja kalau sampai
tidak ada , kuporak-porandakan kerajaan ini..(cklek) haaa...akhirnya ini raja
ketemu juga.”Kata Raja Adzie The Almarhum.
Raja Naufal The Almarhum pun tidak
membuang-buang waktu, ia segera merasuki Raja Rico.
Duaarrr...ctar...ctir...tuk..tik...tak...tik...tuk...tik..tak..tik...
“Huaaa........aaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........hei penulis!suaranya jangan suara
sepatu kuda napa? yang kerenan dikit kek..” Usul Raja Adzie The Almarhum yang
sudah merasuki tubuh Raja Rico. (“Hehehehe.....maaf-maaf..tadi abis naik
andong....diulang lagi deh kalau gitu.”) Duarr.....Jduar..blarr.....bagaikan
petir yang menyambar kesana-kemari dengan cahayanya yang sangat menyilaukan roh
Raja Adzie mulai merasuki tubuh Raja Rico...
”Huahahahaha...haha...hahaha...akhirnya aku punya tubuh baru...” Tawa Raja Rico alias Raja Adzie.
Di luar istana.
“Wuahh cahaya apa itu, jangan-jangan Raja Rico terkena sihir??” Tanya seorang penjaga. “Mungkin saja, ayo kita lihat...” Ajak penjaga lainnya.
”Huahahahaha...haha...hahaha...akhirnya aku punya tubuh baru...” Tawa Raja Rico alias Raja Adzie.
Di luar istana.
“Wuahh cahaya apa itu, jangan-jangan Raja Rico terkena sihir??” Tanya seorang penjaga. “Mungkin saja, ayo kita lihat...” Ajak penjaga lainnya.
Kedua penjaga itu pun bergegas menuju
kamar Raja Rico.
Sesampainya di kamar Raja Rico kedua
penjaga itu tidak menemukan sebuah kejanggalan kecuali Raja Rico yang sedang
tertidur. “Hmm...tidak ada apa-apa tuh, tadi perasaan ada cahaya
menyilaukan???” Kata sang penjaga. “Huaaammm..ada apa ini mengapa kalian berdua
memasuki kamarku??!!” Tanya Raja Rico. “Oh maaf yang mulia kami tadi melihat
sebuah cahaya dari kamar anda, kami kira anda disihir jadi kami datang ke
sini..” Jawab sang penjaga. “Mana mungkin saya disihir, udah sekarang kalian
berdua keluar.” Perintah Raja Rico alias Raja Adzie. “Baik yang mulia.” Sahut
kedua penjaga itu.
Ini lah kisah Raja
Adzie The Almarhum yang akan balas dendam
, sekarang kita balik ke Kerajaan Vazor.
Paginya di Kerajaan Vazor. “Sekarang lah saatnya untuk bertanya kepada para penduduk Baby Hui apakah mereka mau menetap atau mengungsi. Dukun Tio awas kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh-aneh lagi...”Ancam Raja Vanto. “Baik yang mulia.” Sahut Dukun Tio.
Paginya di Kerajaan Vazor. “Sekarang lah saatnya untuk bertanya kepada para penduduk Baby Hui apakah mereka mau menetap atau mengungsi. Dukun Tio awas kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh-aneh lagi...”Ancam Raja Vanto. “Baik yang mulia.” Sahut Dukun Tio.
Dukun Tio pun mengambil sebuah bongkahan batu
yang lumayan besar dari sisa-sisa puing tembok kota Ma’aldur (lagi) dan
membentuknya menjadi sebuah balok berukuran 1m×1m×0,5m dan menaruhnya di
tengah-tengah kota.
“Penduduk Baby Hui di batu ini ada dua
kolom, kolom yang pertama ‘menetap’ dan kolom yang kedua ‘mengungsi’ silahkan
kalian semua memilih dengan cara memahat tanda ‘I’ pada salah satu kolom.”
Jelas Dukun Tio.
Selagi penduduk Baby Hui memilih, pembangunan Kota Ma’aldur dimulai.
Selagi penduduk Baby Hui memilih, pembangunan Kota Ma’aldur dimulai.
Setelah membuat denah kota dan
mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan akhirnya mereka memulai membangun kota
tersebut.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar