Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Jumat, 27 April 2012

Three Kingdom Part 10


“Hai..kalian bertiga, kemari.” Perintah Raja Vanto. “Kami bertiga yang mulia??” Tanya Dika. “Iya,udah tahu nanya.” Jawab Vanto. Lalu ketiga orang itu menghampiri Raja Vanto dan berlutut di hadapannya. “Ada apa yang mulia memanggil kami bertiga??” Tanya Arif. “Hey..hey..ngapain kalian berlutut, cepat berdiri.” “Baik yang mulia.”
Mereka bertiga pun lalu berdiri.
“Nah begitu lebih baik. Mahadika dari Suku Tingku, Dimas dari Suku Djigong dan Arif dari Suku Raneh kalian bertiga aku angkat sebagai Ksatria Vazor.” Kata Raja Vanto penuh wibawa. “Terima kasih yang mulia.” Sahut mereka kompak. “Sama-sama, mulai besok rencanakan pembangunan kota ini dan beri nama baru bagi pasukan kita.” Perintah Raja Vanto. “Baik yang mulia.” “Tapi bagaimana dengan para penduduk Baby Hui? Kita musnahkan atau di suruh mengungsi ke kota Baby Hai??” Tanya Dukun Tio. “Hmm...Kita tanya mereka saja apakah mereka ingin menetap disini atau mengungsi...” Jawab Raja Vanto. “Baiklah....” 
Lalu Dukun Tio mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sia puing tembok kota Ma’aldur dan membantingnya, menjilat ,memukul, memahat hingga akhirnya terbentuklah sebuah bongkahan batu berbentuk tak karuan... “Kok jadi begini bentuknya, memang tadinya batu ini mau dibuat apa??” Tanya Dika. “Sebenarnya batu ini mau dibuat untuk tempat pemilihan para penduduk Baby Hui apakah mau menetap atau mengungsi tapi protesnya jangan ke saya dong..” Jawab Dukun Tio. “Lalu ke siapa kalau gitu??” “Ya ke penulisnya lah..” “Lah...!@#$.” Balas Dika dengan wajah bingung. “Nih dukun emang tidak bisa diandalkan.” Kata Raja Vanto. “Hus... sembarang gini-gini udah menyelamatkan kita semua loh.” Sahut Dukun Tio. “Iya dah.” Kata Raja Vanto. “Huamm....udah ngantuk nih, kita lanjutkan besok saja ya??” Usul Arif. “Hmm..baiklah berhubung hari sudah malam lebih baik kita semua beristirahat, oh iya Ksatria Dika tolong buat shift jaga untuk tetap bersiaga setiap 2 jam sekali.” Perintah Raja Vanto. “Baik...” Sahut Dika. Mereka semua pun akhirnya beristirahat dengan tenang kecuali para prajurit yang mendapat giliran jaga...

Di malam hari itu roh Raja Adzie bergentayangan karena sebelum mati ia mengucapkan sebuah mantera voodo. “Huahahahaha...hahahaha..hahaha.....dendamku pasti akan terbalaskan....sekarang enaknya kemana ya...hmm... ”Kata Raja Adzie berpikir. 
Selama berpikir Raja Adzie The Almarhum (gelar baru nih buat Raja Adzie) gentayangan ke arah Barat Laut. Akhirnya setelah berpikir sambil gentayangan ia menemukan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Amhcar yang dipimpin oleh Raja Rico The Untouched (Raja Rico memiliki seorang panglima perang yang tak lain adalah anaknya sendiri, panglima itu bernama Jenderal Raras, bila sedang tidak memimpin pasukan ia lebih dikenal dengan Putri Raras.). “Hmm..kalau tidak salah ini adalah kerajaan yang melakukan perdagangan dengan kerajaanku....aha akan kurasuki rajanya terus kuperintahkan pasukannya untuk menghancurkan Kerajaan Vazor...Huahahahah..pintarnya diriku..” Kata Raja Adzie The Almarhum.
Kemudian ia mendatangi istana Kerajaan Amhcar dan mencari-cari kamar Raja Amchar.
15 menit kemudian.
 “Huh dimana sih kamarnya?! Daritadi tidak ketemu-ketemu....ini sudah kamar ke 25 yang dibuka, awas saja kalau sampai tidak ada , kuporak-porandakan kerajaan ini..(cklek) haaa...akhirnya ini raja ketemu juga.”Kata Raja Adzie The Almarhum.
Raja Naufal The Almarhum pun tidak membuang-buang waktu, ia segera merasuki Raja Rico.
 Duaarrr...ctar...ctir...tuk..tik...tak...tik...tuk...tik..tak..tik... “Huaaa........aaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........hei penulis!suaranya jangan suara sepatu kuda napa? yang kerenan dikit kek..” Usul Raja Adzie The Almarhum yang sudah merasuki tubuh Raja Rico. (“Hehehehe.....maaf-maaf..tadi abis naik andong....diulang lagi deh kalau gitu.”) Duarr.....Jduar..blarr.....bagaikan petir yang menyambar kesana-kemari dengan cahayanya yang sangat menyilaukan roh Raja Adzie mulai merasuki tubuh Raja Rico...
”Huahahahaha...haha...hahaha...akhirnya aku punya tubuh baru...” Tawa Raja Rico alias Raja Adzie. 
Di luar istana.
“Wuahh cahaya apa itu, jangan-jangan Raja Rico terkena sihir??” Tanya seorang penjaga. “Mungkin saja, ayo kita lihat...” Ajak penjaga lainnya.
Kedua penjaga itu pun bergegas menuju kamar Raja Rico.
Sesampainya di kamar Raja Rico kedua penjaga itu tidak menemukan sebuah kejanggalan kecuali Raja Rico yang sedang tertidur. “Hmm...tidak ada apa-apa tuh, tadi perasaan ada cahaya menyilaukan???” Kata sang penjaga. “Huaaammm..ada apa ini mengapa kalian berdua memasuki kamarku??!!” Tanya Raja Rico. “Oh maaf yang mulia kami tadi melihat sebuah cahaya dari kamar anda, kami kira anda disihir jadi kami datang ke sini..” Jawab sang penjaga. “Mana mungkin saya disihir, udah sekarang kalian berdua keluar.” Perintah Raja Rico alias Raja Adzie. “Baik yang mulia.” Sahut kedua penjaga itu. 

Ini lah kisah Raja Adzie The Almarhum yang akan balas dendam
, sekarang kita balik ke Kerajaan Vazor.
Paginya di Kerajaan Vazor. “Sekarang lah saatnya untuk bertanya kepada para penduduk Baby Hui apakah mereka mau menetap atau mengungsi. Dukun Tio awas kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh-aneh lagi...”Ancam Raja Vanto. “Baik yang mulia.” Sahut Dukun Tio.
 Dukun Tio pun mengambil sebuah bongkahan batu yang lumayan besar dari sisa-sisa puing tembok kota Ma’aldur (lagi) dan membentuknya menjadi sebuah balok berukuran 1m×1m×0,5m dan menaruhnya di tengah-tengah kota.
“Penduduk Baby Hui di batu ini ada dua kolom, kolom yang pertama ‘menetap’ dan kolom yang kedua ‘mengungsi’ silahkan kalian semua memilih dengan cara memahat tanda ‘I’ pada salah satu kolom.” Jelas Dukun Tio.
Selagi penduduk Baby Hui memilih, pembangunan Kota Ma’aldur dimulai.
Setelah membuat denah kota dan mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan akhirnya mereka memulai membangun kota tersebut.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar