“Hore..!!!!!!!!!!!!” Teriak Pasukan Suku
Barbar. “Kemenangan milik kita!!!!” Teriak Dimas.
“Hu...ha..hu..ha...hu...” Para Pasukan barbar menyanyi dan menari hingga esok hari..
Keesokan harinya di pagi yang cerah.
Prok..prok...prok...
“Hah suara apa itu???” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas. “Ayo kita lihat.” Ajak Vanto.
“Hu...ha..hu..ha...hu...” Para Pasukan barbar menyanyi dan menari hingga esok hari..
Keesokan harinya di pagi yang cerah.
Prok..prok...prok...
“Hah suara apa itu???” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas. “Ayo kita lihat.” Ajak Vanto.
Mereka
bertiga berlari menuju tembok kota yang sudah runtuh.
“Yah ternyata itu si Dukun Tio bersama pasukannya.” Kata Dika.
“Pasukan berhenti!!!” Perintah Dukun Tio. Prok..prok..brek.
“Yah ternyata itu si Dukun Tio bersama pasukannya.” Kata Dika.
“Pasukan berhenti!!!” Perintah Dukun Tio. Prok..prok..brek.
Ternyata yang datang adalah pasukan
bantuan yang dipimpin oleh Dukun Tio mereka semua berjumlah 1500 orang terdiri
dari 1000 infanteri dan 500 kavaleri.
“Yah Dukun Tio terlambat memberikan bantuan.” Kata Dika (lagi). “Tuh dukun bisa dipercaya tidak sih???” Tanya Dimas. “Mana kutahu.” Jawab Dika.
“Yah Dukun Tio terlambat memberikan bantuan.” Kata Dika (lagi). “Tuh dukun bisa dipercaya tidak sih???” Tanya Dimas. “Mana kutahu.” Jawab Dika.
“Aduh...” Kata Dukun Tio dengan sangat-sangat kecewa
sehingga tidak dapat berkata apa-apa lagi selain ‘aduh’.
Dukun Tio dan pasukannya pun masuk kedalam kota Baby Hui dengan diliputi rasa kecewa karena perang telah berakhir sebelum mereka tiba (Perang selesai kok malah sedih, mestinya senang dong)..
Di dalam kota baby hui saat sore hari menjelang malam.
“Mari kita berdoa untuk mengucapkan terima kasih kepada dewa. Hahihohehohohohoho.....mambu gero-gero...kaiakaia..smbaiaa.....terima kasih dewa kau telah membantu kami memenangkan peperangan ini.....” Kata Dukun Tio.
*Sing..krik..krik..krik...
Dukun Tio dan pasukannya pun masuk kedalam kota Baby Hui dengan diliputi rasa kecewa karena perang telah berakhir sebelum mereka tiba (Perang selesai kok malah sedih, mestinya senang dong)..
Di dalam kota baby hui saat sore hari menjelang malam.
“Mari kita berdoa untuk mengucapkan terima kasih kepada dewa. Hahihohehohohohoho.....mambu gero-gero...kaiakaia..smbaiaa.....terima kasih dewa kau telah membantu kami memenangkan peperangan ini.....” Kata Dukun Tio.
*Sing..krik..krik..krik...
“Loh,kenapa kalian diam
saja??” Tanya Dukun Tio. “Loh memang kami harus ngapain??” Sahut Dika. “Ya
ikuti perkataan saya lah.” Balas Dukun Tio. “Owh...tapi kan biasanya cuma anda
yang berdoa yang lainnya nungguin.” Jelas Dika. “Hmm....oh iya..ya..saya lupa..hahahaha.”
Kata Dukun Tio tertawa. “Nih dukun memang meragukan...ckckckck.” Bisik Dimas.
“Ahh sudahlah biarkan saja, dia juga sudah membantu kita dalam memenangkan
peperangan ini.” Kata Dika. “Hmm....iya juga sih.” Kata Dimas.
Lalu mereka semua pun menunggui dukun Tio yang berdoa sambil merayakan kemengan mereka selama enam malam, enam siang, enam pagi, dan enam sore.
Lalu mereka semua pun menunggui dukun Tio yang berdoa sambil merayakan kemengan mereka selama enam malam, enam siang, enam pagi, dan enam sore.
Di hari terakhir perayaan saat hari
sudah malam. “Kita butuh seorang Raja untuk memimpin Kerajaan baru ini!!!” Kata
Dukun Tio. “Hah..hmmm...iya ya..” Sahut Dika. “Itu sudah pasti si Dimas yang
ganteng ini, nanti namaku berganti menjadi Dimas The Great hahahaha.” Kata
Dimas sombong. “Lah..lah...lah..enak aja kau, yang mengalahkan rajanya kan aku,
seharusnya aku yang jadi rajanya!!!” Sahut Dika. “Enak aja kau...!!!” “Ya emang
enak..!!” “Huh berani-beraninya kau denganku...!!!” “Emang berani! ngapain juga
takut sama orang cadel muka jelek seperti dirimu!!!” “Huh dasar kurang
dihajar!!!(sring) hiaattt!!!” Sring...trang...tring..trang..
“Aduh malah pada duel pedang ckckckck dasar, bodohnya
mereka berdua.” Kata Dukun Tio. “Terus siapa yang jadi rajanya??” Tanya
Vanto. “Vanto..” Jawab Dukun Tio singkat. “Hah...saya??” “Bukan kamu tapi Vanto..”
“Iya saya kan..??” “Haduh...dibilang dari tadi si Vanto bukan kamu.........”
“Hah au dah...” Kata Vanto menyerah. “Eh tunggu kamu Vanto kan??” Tanya Tio.
“Iya....” Jawab Vanto “Owh maaf..hahaha..tadi saya sedang kebingungan gara-gara
mereka berdua bertarung..” Jelas Tio. “Iya..iya saya maafkan.” Balas Vanto dengan
perasaan masih kesal. “Okelah kalau begitu,kamu berlutut didepan saya.”
Perintah Dukun Tio. “Ngapain??” Tanya Vanto. “Ahhh udah kamu ikutin perintah
saya saja.” Jawab Dukun Tio. “Baiklah...”. “Cublak...cublak..suweng...suwe..ora..minum..jamu..dewa
telah mengutus saya untuk mengangkat anda menjadi seorang raja suku barbar
dengan pernyataan ini anda telah resmi menjadi Raja Vanto dengan gelar The
Pongo...(Istilah kerennya King Vanto The Pongo) sekarang anda berhak memerintah
kami semua dengan adil (memberikan sebuah pedang kepada Vanto) pedang ini
adalah lambang kerajaan kita, gunakan dengan sebaik-baiknya.” Kata Tio. “
Ok...mulai sekarang nama kerajaan ini bukanlah kerajaan Baby Hui lagi melainkan
Kerajaan Vazor dan nama kota benteng ini adalah Austrum.” Sahut Vanto. “Hidup
Raja Vanto....!!!!” Teriak Dukun Tio. “Hidup......!!!!” Sahut para prajurit Vazor
memecah keheningan malam hingga mengagetkan kedua kstria yang dari tadi sedang
bertarung dengan sengitnya. “Hah,ada apa ini??” Tanya Dika. “Mana kutahu.”
Jawab Dimas dengan enteng. “Dukun Tio mengangkat Vanto menjadi raja.” Sahut
Arif. “Hah yang bener??” Tanya mereka berdua. “Ho’oh,beneran lah kemana aja
tadi...” “Ya bertarung lah.....sia-sia diriku bertarung dengan Dimas.” “Baru
tahu kalau menyelesaikan masalah dengan bertarung pasti tidak ada hasilnya.”
Sahut Arif. “Iya..huh..” Kata Dika menyesal. To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar