“Hah, pasukan berkuda Baby Hai telah
datang.” Kata Ksatria Arif dari suku Raneh. “Aku tahu, sekaranglah saatnya kita
serang mereka.” Sahut Vanto.
“Serang....!!!!!!!!!” Perintah Vanto.
kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk...
“Hei lihat itu pasukan berkuda suku barbar.!!!” Teriak pengawal kerajaan Baby Hai. “Baiklah...kita serang mereka. Serang...!!!!!!” Perintah Pangeran Dani.
kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk...
“Hei lihat itu pasukan berkuda suku barbar.!!!” Teriak pengawal kerajaan Baby Hai. “Baiklah...kita serang mereka. Serang...!!!!!!” Perintah Pangeran Dani.
kdebuk..kdebuk... kdebuk..kdebuk...
kdebuk..kdebuk...
Kedua pasukan semakin mendekat dan menghunuskan tombak mereka.
Dug...dug....dug...dug....dug.. Kdebuk...kdebuk..kdebuk... dug...dug....dug
“Hoooo....!!!!!” Kedua pasukan saling berteriak..
Kedua pasukan semakin mendekat dan menghunuskan tombak mereka.
Dug...dug....dug...dug....dug.. Kdebuk...kdebuk..kdebuk... dug...dug....dug
“Hoooo....!!!!!” Kedua pasukan saling berteriak..
Kdebuk...kdebuk..kdebuk...sring..sring...ngikngik.......
“Akhh!!!!!” Bruakk...tring..trang...tring....ngikngik.... “Akhh!!!!!” bruak!!!
Duel antara pasukan berkuda Baby Hui dan Suku Barbar berlangsung sengit, korban berjatuhan dimana-mana....
Di tembok Baby Hui. Trang...trung...tring... “Hah..kuat juga kau ternyata.” Kata Dika. Trang..tring.. “Jangan anggap remeh diriku ya, badan besar gini ahli pedang.” Balas Raja Adzie. Trang...trung..tring....
Dengan pemandangan kota yang terbakar Pasukan Baby Hui berjuang mati-matian untuk mempertahankan kotanya namun pintu gerbang telah hancur didobrak oleh ‘Battering Ram’ Suku Barbar.
“Cepat masuk ke kota!! Selang....!!!” Perintah Dimas. “Hah selang? Apa itu selang komandan...!!!!” Sahut seorang prajurit pemanah “Bodoh maksudku se..r...ang!!!” Jawab Dimas tergagap mengatakan huruf ‘r’ karena ia cadel.
Pasukan pemanah yang dipimpin oleh Dimas pun meninggalkan busur mereka dan mengeluarkan pedang lalu menyerang kota Baby Hui melalui pintu yang telah dihancurkan oleh ‘Battering Ram’ mereka.
Duel antara pasukan berkuda Baby Hui dan Suku Barbar berlangsung sengit, korban berjatuhan dimana-mana....
Di tembok Baby Hui. Trang...trung...tring... “Hah..kuat juga kau ternyata.” Kata Dika. Trang..tring.. “Jangan anggap remeh diriku ya, badan besar gini ahli pedang.” Balas Raja Adzie. Trang...trung..tring....
Dengan pemandangan kota yang terbakar Pasukan Baby Hui berjuang mati-matian untuk mempertahankan kotanya namun pintu gerbang telah hancur didobrak oleh ‘Battering Ram’ Suku Barbar.
“Cepat masuk ke kota!! Selang....!!!” Perintah Dimas. “Hah selang? Apa itu selang komandan...!!!!” Sahut seorang prajurit pemanah “Bodoh maksudku se..r...ang!!!” Jawab Dimas tergagap mengatakan huruf ‘r’ karena ia cadel.
Pasukan pemanah yang dipimpin oleh Dimas pun meninggalkan busur mereka dan mengeluarkan pedang lalu menyerang kota Baby Hui melalui pintu yang telah dihancurkan oleh ‘Battering Ram’ mereka.
Bagaikan badai, pasukan pemanah yang
dipimpin oleh Dimas menyerbu Baby Hui, mereka pun memenuhi sudut-sudut kota dan
membunuh siapa saja yang ada dihadapan mereka.
Di tembok Baby Hui Dika dan Raja Adzie bertarung dengan sengit. Sreeettttt.... “Akkkhhh!!!!” Rintih Dika. “Hahahah dasar suku lemah...” Kata Raja Adzie. “Hah....hah...sialan kau!!!!” Teriak Dika.
Trang..trang..trang...Dika pun langsung menyerang Adzie dengan membabi buta nonstop dan tidak memberi kesempatan kepada Adzie untuk menyerang kembali, ya itu adalah jurus andalannya jika ia sedang marah. Trang...trang...trang..Sreeeettt...
“ Ahhhhh....aku akan kembali!!!” Teriak Raja Adzie.
Dan terbunuhlah Raja Adzie oleh Mahadika dari Suku Tingku dan Pangeran Dani dari Baby Hai yang ikut bertarung pun turut terbunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Ksatria Vanto dan Arif.
Di tembok Baby Hui Dika dan Raja Adzie bertarung dengan sengit. Sreeettttt.... “Akkkhhh!!!!” Rintih Dika. “Hahahah dasar suku lemah...” Kata Raja Adzie. “Hah....hah...sialan kau!!!!” Teriak Dika.
Trang..trang..trang...Dika pun langsung menyerang Adzie dengan membabi buta nonstop dan tidak memberi kesempatan kepada Adzie untuk menyerang kembali, ya itu adalah jurus andalannya jika ia sedang marah. Trang...trang...trang..Sreeeettt...
“ Ahhhhh....aku akan kembali!!!” Teriak Raja Adzie.
Dan terbunuhlah Raja Adzie oleh Mahadika dari Suku Tingku dan Pangeran Dani dari Baby Hai yang ikut bertarung pun turut terbunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Ksatria Vanto dan Arif.
Pasukan berkuda Baby Hai yang melihat
hal itu akhirnya melarikan diri. “Mundur!!!!” Perintah pengawal kerajaan Baby
Hai. kdebuk... kdebuk.. kdebuk..!!!
“Hah mereka melarikan diri...” Kata Vanto. “Bagaimana kalau kita kejar mereka??” Usul Arif. “Tidak perlu.” “Kenapa??” Tanya Arif. “Kita sudah sangat kelelahan lebih baik kita istirahat dari pada mengejar mereka, sebentar lagi juga mereka akan mati dengan sendirinya.” Jelas Vanto. “Hmm...baiklah..”
“Hah mereka melarikan diri...” Kata Vanto. “Bagaimana kalau kita kejar mereka??” Usul Arif. “Tidak perlu.” “Kenapa??” Tanya Arif. “Kita sudah sangat kelelahan lebih baik kita istirahat dari pada mengejar mereka, sebentar lagi juga mereka akan mati dengan sendirinya.” Jelas Vanto. “Hmm...baiklah..”
“Pasukan!!!! kita ke Benteng Baby Hui.”
Perintah Vanto. “Haig...!!”
Prrrr..kdebuk..kdebuk...Saat itu juga berakhirlah kejayaan kerajaan Baby Hui, namun para suku Barbar tidak mengetahui bahwa Ksatria Arsyan dan Ksatria Kevin telah melarikan diri terlebih dahulu sebelum Raja Adzie meninggal terbunuh (gak setia kawan).
Setelah membakar mayat pasukan baby hui dan pasukan barbar para suku barbar merayakan kemenangannya di Kota Baby Hui yang telah mereka kuasai.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar