“Rajaaaa..............!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak sang kurir.
“Ada apa,hei bagaimana apakah mereka menerima pesannya??apa jawaban mereka??” Drrrttt...drrrttt...drrrttt... “Gempa bumi??” “Bukan, baru saja saya mau memberi tahu kepada yang mulia bahwa suku barbar itu menolak dan sedang dalam perjalanan untuk menyerang kita...!!!!!!” Kata Sang Kurir panik. Dung..dung..dung...dung...(suara gong tanda bahaya) “Jangan panik, cepat kau sampaikan kepada kerajaan bagian baby hai bahwa kita butuh bantuan mereka..” Perintah Raja Adzie. “Baik yang mulia.” Jawab sang kurir. “Ksatria Arsyan dan Kevin persiapkan pasukan kita untuk mempertahankan kota ini.” “Baik..” Jawab kedua ksatria itu.
“Penasehat ambilkan baju perang saya.” Perintah Raja Adzie. “Tapi paduka tidak boleh mati karena akan membuat rakyat semakin ketakutan jika anda mati.” Nasehat sang penasehat. “Hah....justru rakyat semakin ketakutan saja jika rajanya juga takut, cepat kau ambilkan baju perang saya..” “Ba..baik yang mulia.”
Satu menit kemudian. “Ini yang mulia baju perang anda.” “Hah lama sekali kau ngambilnya.??” “Maaf tadi saya terpeleset.” “Dasar ceroboh, ya sudah bantu saya memakai baju ini.” Sang penasehat pun membantu Raja Adzie memakai baju perangnya. Rrrttttt.... “Ahh...sesak sekali.” Rintih Raja Adzie. “Maaf paduka saya terlalu kencang mengikatnya...(melonggarkan ikatan baju perang Raja Adzie) Bagaimana Raja apakah sudah pas??” “Nah ini baru enak, pas banget.” Setelah memakai baju perangnya dan memegang erat perisainya Raja Adzie pun langsung berjalan menuju ke tembok kota Baby Hui dimana para parjuritnya telah bersiap-siap. Sesampainya di tembok kota baby hui yang menjulang tinggi sekali, ia melihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan yaitu 5000 pasukan suku barbar berbaris untuk menyerang mereka. “Waou...banyak sekali mereka.” Kata Sang Raja. “Kemungkinan mereka ada 5000 orang.” Sahut Ksatria Arsyan. “Hmm..tapi disini kita memiliki 10000 pasukan kita pasti menang.” Kata Raja Adzie penuh keyakinan. Di suku barbar. “Pasukan...berhenti..!!!!!” Perintah Dika. Prokk...prokk....prok..prokk...brek... “Hei dimana Dukun Tio??” Tanya Dika. “Mana kutahu.” Jawab Dimas. “Hah sialan kau.” “Hmm katanya sih dia sedang mencari pasukan bantuan.” Sahut Moza. “Hah...daripada memikirkan dia lebih baik kita bersiap menyerang mereka.” Kata Dika. “Saudaraku sekaranglah saatnya kita berperang melawan baby hui untuk mengakhiri penindasan terhadap suku kita!!!!” Teriak Dika berorasi untuk menyemangati para pasukan barbar. “Haig......!!!!!!!!!!!!” Teriak para pasukan.
“Pasukan Zeni....!!hancurkan tembok kota itu..!!” “Haig....!!!” Jawab pasukan Zeni.
Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! Melesatlah ratusan batu api yang dilontarkan oleh pelontar batu suku barbar dan mengenai tembok kota baby hui. Bumm...bumm..bumm...bumm..!!!! “Akkkkhhh!!!!” bumm..bumm...bumm..!!!! Tembok baby hui pun bergetar.... “Hei...jangan diam saja, cepat balas tembakan.”Perintah Raja Adzie. “Baik....Kruppen (sebutan pasukan zeni untuk baby hui) tembak.” “Haig...” Krekk...krek...krek...krekk..kreekk...Wuuuiiiikkkk!!! melesatlah batu-batu dari balik tembok baby hui dan menghantam pasukan infantery suku barbar.
“Hahaha....dasar mereka semua pengecut, baru segitu saja sudah mundur.” kata Raja Adzie. “Tidak mereka justru pintar.” “Hah...apa maksudmu ksatria Kevin. “Mereka menjauhi jarak tembak trebuchet kita sehingga korban dari mereka sedikit, saat amunisi kita habis baru mereka akan menyerang kita.” “Huh..dasar suku sialan...tapi pintar juga.”
Saat Fajar menyingsing adalah saat yang paling menentukan bagi suku barbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar