“GALOP INFERNAL
Ce bal est original
d'un galop infernal
donnons tous le signal!
Vive le galop infernal!
Donnons le signal
d'un galop infernal!
Amis, vive le bal!
La la la la la!!!!!!
Dukun Tio pun bernyanyi selagi membuat ramuan anehnya..tiba-tiba duarrr....!!!
Ce bal est original
d'un galop infernal
donnons tous le signal!
Vive le galop infernal!
Donnons le signal
d'un galop infernal!
Amis, vive le bal!
La la la la la!!!!!!
Dukun Tio pun bernyanyi selagi membuat ramuan anehnya..tiba-tiba duarrr....!!!
“Wuaahhhh ngaduknya kebanyakan gara-gara
keasyikan nyanyi....yah muka ane gosong dah...ahhh..sialan....hmm yang penting
ramuannya sudah jadi...” Kata Dukun Tio.
Ia pun segera meminumkan ramuan itu kepada Ksatria Dika dan Arif. “Kok gak ada efeknya sih??? apa ane salah masukin bahannya, coba ahhh kayaknya enak deh..(meminum ramuan aneh itu) Hueeekkk....aneh sekali rasanya tapi hmm kok rasanya beda ya sama ramuan pembangkit nyawa (melihat bahan-bahannya) waduh...bahannya kelebihan satu yaahhh ini mah bukannya jadi ramuan pembangkit nyawa malah jadi ramuan kuat.” Kata Tio dalam hatinya.
Ia pun segera meminumkan ramuan itu kepada Ksatria Dika dan Arif. “Kok gak ada efeknya sih??? apa ane salah masukin bahannya, coba ahhh kayaknya enak deh..(meminum ramuan aneh itu) Hueeekkk....aneh sekali rasanya tapi hmm kok rasanya beda ya sama ramuan pembangkit nyawa (melihat bahan-bahannya) waduh...bahannya kelebihan satu yaahhh ini mah bukannya jadi ramuan pembangkit nyawa malah jadi ramuan kuat.” Kata Tio dalam hatinya.
Tapi Dukun Tio kaget karena ramuan itu
berhasil membangkitkan nyawa Ksatria Dika dan Ksatria Arif. “Wihhh ...ramuannya
berhasil....horayyy...!!!!” Teriak Dukun Tio.
“Hah...saya hidup kembali...!!!” Teriak
Ksatria Arif. “Yayayayaya...tapi kok rasanya ada yang aneh ya dimulutku???”
Tanya Ksatria Dika. “Ahhh sudahlah jangan dipikirkan sekarang kita susul Raja
Vanto dan para pasukan di Perbatasan Razor-Vazor.” Jawab Dukun Tio.
“Hahh..emang ada apa Raja Vanto ke perbatasan??” Tanya Arif. “Kita akan
berperang dengan Kerajaan Razor karena mereka telah menculik Putri Vidyani.”
Jelas Dukun Tio. “Kalau begitu ayo kita susul mereka.” Sahut Ksatria Dika.
Lalu mereka bertiga segera menuju ke
kandang kuda.
“Loh kemana kudaku??” Tanya Ksatria Dika. “Mana kutahu mungkin dibawa sama Raja Vanto kali...” Jawab Arif asal. “Bagaiman kalau kita lari saja??” Usul Dukun Tio. “Aaahhhh gewla...dari sini ke perbatasan kan jauh, pake kuda aja butuh setengah hari..” Sahut Ksatria Dika. “Tenang saja berkat ramuan kuatku kita tidak akan kelelahan walaupun lari selama dua hari nonstop.” Jelas Dukun Tio. “Wahh..keren juga tuh, ayo...”Kata Ksatria Dika. “Ok pada abal-abal...”Kata Dukun Tio. “Aba-aba kali bukan abal...” Potong Ksatria Dika. “Owh iya...pada aba-aba yg ketiga kita lari sama-sama...1..2...3....yak...!!!”
“Loh kemana kudaku??” Tanya Ksatria Dika. “Mana kutahu mungkin dibawa sama Raja Vanto kali...” Jawab Arif asal. “Bagaiman kalau kita lari saja??” Usul Dukun Tio. “Aaahhhh gewla...dari sini ke perbatasan kan jauh, pake kuda aja butuh setengah hari..” Sahut Ksatria Dika. “Tenang saja berkat ramuan kuatku kita tidak akan kelelahan walaupun lari selama dua hari nonstop.” Jelas Dukun Tio. “Wahh..keren juga tuh, ayo...”Kata Ksatria Dika. “Ok pada abal-abal...”Kata Dukun Tio. “Aba-aba kali bukan abal...” Potong Ksatria Dika. “Owh iya...pada aba-aba yg ketiga kita lari sama-sama...1..2...3....yak...!!!”
Mereka bertiga berlari meninggalkan Kota
Vazor dan menuju Perbatasan Razor-Vazor tanpa disadari mereka berlari bagaikan
badai dan memporak porandakan kota Vazor.
Nggguooooooonnggggg......!!!!!!!!!!!!!!!!
“Hei...hei kok kita melambat??” Tanya Dika.
“Aku tidak tahu..” Dukun Tio mengangkat bahunya.
“Haduh...gimana dong jarak kita dari pasukan Raja masih jauh ini..” Sahut Arif.
“Oh iya baru ingat, Dukun Tio kan pernah memberikan sebuah peluit pemanggil kuda, kalau ditiup bakal datang kuda kesayangan kita. Sejauh apapun jaraknya pasti akan datang....” Jelas Dika.
“Iya saya tahu itu..cepat kau tiup peluitnya.” Potong Dukun Tio.
Dika pun meniup peluitnya dan dengan sekejap datanglah kuda kesayangan Dika dan Arif.
“Loh kok cuma dua yang datang??”
“Ini peluit kan cuma bisa memanggil kuda milik kami berdua saja.” Jelas Dika kepada Dukun Tio
Mereka berdua pun menaiki kudanya.
“Hei..hei..saya naik apa dong??” Tanya Dukun Tio.
“Eh iya ya, kalau kudaku gak mungkin di naiki dua orang soalnya kamu berat, Yo. Eh kau saja, Rif yg naik berdua sama Dukun Tio.”
“Eh enak saja, ini kuda juga kasian kalau di naiki berdua.” Arif menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah kamu tunggu disini aja nanti kita jemput lagi sambil membawa 1 kuda.” Kata Dika.
“Hmm baiklah...” Dukun Tio pun menyerah dan ditinggallah ia di tengah-tengah padang rumput yang begitu luasnya.
Dibawah sinar matahari yang mulai tenggelam dan langit yang memerah ia menunggu mereka berdua di atas batu.
Kedebuk...kdebuk..kdebuk..prrr....
Akhirnya kedua Ksatria itu sampai di perkemahan dimana para Prajurit Vazor beristirahat dan menunggu esok hari untuk berperang.
“Kami ingin bertemu dengan raja.” Kata Dika kepada pengawal raja. “Tunggu sebentar.” Sang pengawal pun masuk ke dalam tenda Raja Vanto.
“Raja, Panglima perang kita telah datang!” Seru pengawal raja.
“Suruh mereka masuk.”
“Baik yang mulia.” Si pengawal pun keluar dari tenda dan mempersilakan kedua Ksatria itu masuk.
Di dalam tenda kedua ksatria itu mulai membicarakan strategi perang dengan Raja Vanto dan lupa dengan Dukun Tio yang ditinggal sendirian di tengah hamparan padang rumput yang luas, gelap dan dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar