Sepertinya anda kesini karena salah alamat (baca : nyasar)

Jumat, 25 Mei 2012

Three Kingdom Part 14


“Haduh...lama sekali mereka, brrr....keburu mati kedinginan nih...” Kata Dukun Tio. 
Akibat tidak sabar menunggu Dukun Shidiq mulai membuat eksperimen-eksperimen aneh lainnya dengan bahan yang ada di sekitarnya. 
“Hmm akhirnya bisa membuat bubuk ramuan tolak mati. Ramuan yang bisa membuat orang menghindari kematiannya, terbuat dari akar panu, kutil katak, lumut pohon, dan setetes keringatku. Wah, harus di catat nih biar gak lupa.” 
Ia pun mulai mencatat berbagai ramuan yang telah ditemukannya mulai dari ramuan tolak mati, ramuan tolak loyo, ramuan mati rasa, ramuan terima berkah, ramuan pengemis, dan lain-lain di secarik kertas yang ia bawa dan ia teringat bahwa ia membawa resep ramuan kuatnya. 
“Waduh kenapa gak dari tadi ya kubuat ramuan kuat ini...hmm (membaca resepnya) ramuan ini terdiri dari kutil kuda, kutil nyamuk, kutil cecak, kutil sapi dan yang terakhir kutilku sendiri. Wah kalau kutil hewannya sih sudah kubawa tapi kutil di tubuhku sudah tidak ada, hah resep ini kok aneh banget, sepertinya harus dicari penggantinya nih. Aha ganti saja dengan keringat, siapa tahu bisa lebih kuat dari pada yang tadi.” 
Dukun Tio pun mulai membuat resep ramuan kuatnya yang terdiri dari kutil kuda, kutil nyamuk, kutil cecak, kutil sapi, dan setetes keringatnya sendiri. 
Duuaarrr.. “Beh kenapa sih setiap buat ramuan selalu meledak? hah yang penting jadi deh, sekarang saatnya mencoba.”  
Ia pun memakan bubuk ramuan kuatnya. Jegleerrr..
Dukun Tio pun berubah menjadi orang kuat.. “Hohohoho..berhasil juga, sekarang akan kucoba menghancurkan pohon ini huahahaha...” 
Jeddduuuuukkkkk....!! “Adddoooouuwwww...sakit!!!” Teriak Dukun Tio.
Tiba-tiba pohon yang di pukul oleh Dukun Tio roboh..kkkrrrraaaakkkkk kaboouummmm!!! 
“Wahhh berhasil rupanya ramuan kuat ini hahaha. Sekarang aku harus lari ke kemah Raja Vanto..” 
Sreeettt...sreettt Dukun Tio mulai mengambil ancang-ancang dan wuuuussshhhhh.....kabummm....gussrraaakkk!!! ia tersandung batu dan terjatuh. “Aaaooouuuuwwww.....setan nih batu!!!” ia pun bangun dari jatuhnya, mengambil batu yang membuat ia tersandung dan melemparnya....ngguuuiiiinnggggg........!!! “Widih jauh amat tuh batunya?? ahh masa bodo lah yang penting sekarang ke perkemahan Raja Vanto dulu.” Pikir Dukun Tio. 
Dukun Tio pun mulai mengambil ancang-ancang lagi. Sreeettt...sreettt.....wuuuussshhhhh....nguuuoooongggg....
Ia berlari dan meninggalkan jejak debu yang sangat tebal.

Di perkemahan.
“Loh Dukun Tio kemana?” Tanya Raja Dzaki.
“Waduh..gara-gara membicarakan strategi perang sampai lupa kalau kami meninggalkan Dukun Tio di padang rumput.” Jawab Jenderal Mahadika.
“Kalau begitu kalian jemput dia.”
“Baik yang mulia.”
Namun Dukun Tio sudah tiba di perkemahan sambil terengah-engah dan dibelakangnya banyak jejak debu berterbangan dan tenda-tenda prajurit porak poranda.
“Wah Dukun Tio udah datang...baru saja kami mau menjemputmu.” Kata Jenderal Mahadika
“Hah lama sekali kau, aku sampai kedinginan nih...bagaimana rapat strateginya?”
“Hahaha loh kok tau kalau kita habis membicarakan strategi perang?”
“Ya iya lah namanya juga dukun.”
“Hei Dukun Tio..!!!” “Ada apa yang mulia. Sepertinya anda marah?”
“bagaimana tidak marah, liat tuh belakangmu!!”
Dukun Tio pun melihat kebelakang dan ia pun terkejut.
“Waouuuwww...tendanya porak-poranda...hmm baiklah yang mulia, akan saya bereskan tenda-tenda itu.” Kata Dukun Tio lemas.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar